
Selesai menghabiskan semua makanan yang ada di meja makan, Nina
langsung pamit pulang karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam sedangkan Sam
membantuku untuk mencuci piring sedangkan aku yang membereskan meja. Selesai
membereskan meja, aku berniat untuk membantu Sam tapi dia melarangku.
“Biarkan aku saja yang mencucinya. Kamu pergi mandi habis itu
tidur aja besok mau interview kan?”
“Hmp. Baiklah kalo begitu.”
“Oh iya, besok jam berapa kamu pergi interview?”
“Jam 10 pagi sudah harus tiba di sana, kenapa?”
“Aku akan mengantarkanmu ke sana.”
“Kalo begitu, nanti kamu menginap saja di sini jadi besok gak usah bolak balik.”
“Siapa juga yang mau pulang.”
“Ish.. Nyebelin banget sih.”
Aku kembali ke kamar dan langsung ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Selesai memakai baju tidur, aku kembali ke dapur dan
mendapati Sam sudah tidak berada di sana melainkan sedang menonton TV di ruang
tamu.
Aku menuang 2 gelas susu dan memberikan salah satu gelas kepadanya.
“Kenapa? Kamu insom?” tanya Sam sambil menerima gelas dariku.
Aku duduk di samping Sam sambil menyesap susu yang berada di
tanganku.
“Aku kangen sama Papi dan Mami Sam.” Ujarku dengan lirih.
Sam meletakkan gelasnya di meja dan melihat kearahku.
“Besok setelah interview, bagaimana kalo kita pergi menjenguk
mereka?”
“Baiklah.” Ujarku masih menatap lurus dengan mata kosong.
“Terima kasih Sam, kamu selalu berada di sisiku dan tidak pernah meninggalkanku.
Aku tidak berani bayangkan bagaimana aku jika tidak ada kamu.” Ujarku lagi
sambil menoleh kearah samping.
“Dasar bodoh! Sampai kapanpun aku akan selalu ada di sisimu dan
tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ujar Sam dengan lembut sambil mengelus
rambut di kepalaku.
“Aku juga ingin pergi ke Kota B untuk menjenguk Om Nathan dan
Tante Mischa.”
“Baiklah Tuan Putriku, sekarang kamu tidur terlebih dahulu dan
semuanya akan ku aturkan untukmu.”
“Baiklah. Good Night Sam.” Ujarku kemudian beranjak dari kursi.
“Goodnight and have a sweet dream sweety.” Ujar Sam sambil
mematikan TV dan kembali ke kamar tamu.
...............
Hari ini aku memakai gaun berwarna hitam ditambah dengan riasan
yang natural dan rambut yang sengaja aku uraikan begitu saja membuatku
kelihatan sangat berseri dan cantik alami.
Selesai bersiap-siap, aku dan Sam langsung meluncur ke Kantor
Dragon Empire.
Di pertengahan jalan, Sam berhenti di salah satu toko untuk
membelikanku sarapan.
“Nih, Habiskanlah.” Ujar Sam sambil menyodorkan 1 kantong berisi
“Terima kasih.” Ujarku sambil menerima kantongnya.
Dengan cepat aku segera menghabisi makananku lalu saat mobil
berhenti di lobby perusahaan, aku langsung turun dan menemui operator yang
sudah di beritahukan sebelumnya.
Selesai mengambil kartu pengunjung, aku segera masuk ke dalam lift
dan menekan tombol 15.
Ketika lift tiba di lantai 15 dan pintunya terbuka, ada seorang
pria berdiri dengan tegap di depan pintu lift.
“Maaf, apakah anda Nona Riana?” tanyanya dengan sopan.
“Iya benar.” Jawabku dengan sopan juga.
“Anda di minta untuk naik ke lantai 30, jadi mari mengikuti saya.”
Ujar laki-laki itu kemudian melangkah masuk ke dalam lift dan langsung menekan
tombol paling teratas.
Dengan heran aku bertanya kepada pria itu.
“Maaf tapi kenapa kita pergi ke lantai 30? Bukankah interviewnya
di adakan di lantai 15?”
“Karena Presdir sendiri yang akan menginterview anda.”
“What? Kenapa harus presdir yang interview gue? Perasaan kemarin
gue lamarnya bagian marketing deh.” Tanyaku dalam hati.
Ting… Lift tiba di lantai 30 dan aku melangkah keluar dari lift.
Dia mengantarkanku sampai di depan pintu yang besar dan lumayan
tinggi kemudian dia mempersilahkanku untuk masuk ke dalam ruangan. Aku mengetuk
pintu terlebih dahulu setelah itu baru masuk ke dalam ruangan.
Aku terpana dengan lelaki yang duduk di belakang meja itu. Wajahnya
sangatlah tampan, dia terlihat sangat angkuh tapi berkharisma walaupun dia
memancarkan aura yang sangat dingin.
Langkahku sudah berhenti di depan mejanya, tapi dia sama sekali
tidak mengangkat wajahnya ataupun berbicara.
Aku memberanikan diri untuk memperkenalkan diri dan mulai
berbicara kepadanya.
“Maaf mengganggu anda, saya Riana yang datang untuk interview hari
ini dan saya di suruh kesini untuk temui dan melakukan interview dengan
Presdir.”
Dia menghentikan pekerjaan di tangannya dan mengangkat wajahnya
untuk menatapku.
“Silahkan duduk.” Ujarnya dengan datar.
Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya. Kami berbincang cukup
lama setelah itu dia kembali bertanya dengan nada angkuh.
“Kapan kamu bisa memulai bekerja?”
“Minggu depan pak, karena lusa saya harus keluar kota beberapa hari.”
“Baiklah, kalo begitu minggu depan kamu datang langsung melapor saja sama Hendy.”
“Baik pak, kalo begitu saya permisi dulu.” Ujarku kemudian langsung meninggalkan ruangan itu.
Aku turun ke bawah langsung masuk ke dalam mobil Sam.
“Apa kamu di terima?”