
“Hai, bolehkah kita berkenalan cantik?”
“Maaf, saya sudah punya pasangan.”
“Ayolah jangan malu-malu sayang, malam ini kita akan
bersenang –senang.” ujar laki-laki itu sambil mendekat ke tubuhku.
“Apaan sih kamu!”
“Jangan pura-pura polos sayang, bukankah kamu.” Ujarnya lagi
dan kali ini dia mulai menyentuh tubuhku.
“Lepasin! Apa-apaan sih kamu!” Teriakku sambil mendorongnya
menjauh dariku.
Mendengar teriakkanku, semua mata tamu undangan tertuju
kepadaku bahkan wajah Pria itu pun ikut menggelap.
Semua mata undangan tertuju kearah dimana kami berada saat
ini jadi dia dengan sengaja mengatakan bahwa
aku yang menggodanya terlebih dahulu.
Mendengar pernyataan pria itu, semua orang mulai berbisik
membicarakanku bahkan ada yang sengaja mencaci makiku dengan keras. Mendapatkan
perlakuan seperti aku menjadi sangat gugup dan sedikit ketakutan.
Aku mulai kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Perasaanku semakin kacau dan panik.
Tiba-tiba saja tanpa ku sadari, Martin sudah berada di
sampingku dan merangkul pundakku dengan erat.
“jangan takut, angkat wajahmu. ada aku di sini bersamamu.”
Aku mengangkat wajahku menatap kearah Martin.
Di dalam bola matanya aku menemukan kehangatan yang
membuatku merasa sedikit tenang.
“A..Aku..”
Martin menganggukkan kepalanya dengan pelan kemudian dia
menatap pria itu dengan tajam.
“Dia adalah pasanganku, apa menurut anda dia perlu
menggodamu Direktur Ong?”
“A..Anu.. Maaf Tuan Martin saya rasa mungkin ada
kesalahpahaman sa..Saya minta maaf.”
“Kamu tidak apa-apa?” ujar Martin dengan hangat.
“A..Aku tidak apa-apa.” Ujarku dengan sedikit bergetar.
“Kita pulang sekarang.”
Martin menggenggam telapak tanganku dengan erat kemudian dia
membawaku pergi dari villa itu.
Selama perjalanan pulang, aku terus berdiam dan berusaha
mengendalikan diriku sedangkan Martin,
dia mengetahui masa lalu juga penyakit yang di derita oleh
ku jadi dia juga tidak bicara maupun bertanya.
Setelah tiba di hotel, Martin kembali bertanya kepadaku
untuk memastikan keadaanku.
“Apa kamu yakin kamu tidak apa-apa?”
“A..Aku tidak apa-apa , aku kembali ke kamar dulu.”
Kedua kakiku langsung melemas sehingga aku terjatuh dan duduk
di lantai kamar.
Tubuhku juga bergetar dengan kuat sehingga ingatanku yang
dulu kembali berputar di otakku.
FLASHBACK ON
Saat aku berumur 15 tahun, aku pernah di culik dan di sekap
selama beberapa hari. Meskipun aku di sekap,pelaku memperlakukanku dengan baik.
“Adik kecil, kamu jangan takut. Kami tidak akan
menyakitimu.”
“Hu..Hu..Hu..Aku mau Papa sama Mama.”
“Tenanglah gadis kecil, kami akan melepaskanmu setelah kami
mendapatkan apa yang kami mau.”
“kalian mau apa sebenarnya?”
“Maaf gadis kecil, kami terpaksa melakukan ini karena saya
sedang membutuhkan dana untuk pengobatan anak saya. Saya benar-benar terpaksa.”
Riana kecil merasa iba dan kembali bertanya.
“Emangnya anak anda kenapa?”
“Anak saya terkena penyakit dan harus segera di operasi.”
“Tapi kenapa anda menculik saya? Bukankah kalian ini
termasuk melakukan criminal.”
“Maaf Nak, hanya ini yang bisa kami pikirkan. Selama anak
saya bisa terselamatkan apapun akan saya lakuin.”
“Berikanlah saya ponsel anda, saya akan menghubungi kedua
orang tua ku.”
“untuk apa? Kami akan menghubunginya setelah esok hari.”
“Mereka akan mengkhawatirkanku, kalian tenang saja. Mereka
pasti akan membantu kalian, aku akan bicara kepada mereka.”
Para pelaku mempercayaiku dan memberikan ponsel kepadaku
untuk menghubungi kedua orang tuaku.”
Setelah mendapat kabar dariku, papa dan mama segera
menyiapkan uang untuk memberikannya kepada mereka.
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, mereka langsung
membebaskan aku. Tetapi masalah kembali datang menghampiriku setelah kejadian
itu. Banyak berita dan tetangga yang bergosip soal penculikanku bahkan saat
berada di sekolahpun aku di pertanyakan oleh teman-teman sekolah. Beberapa dari
mereka mengatakan bahwa aku sudah di perkosa oleh pelaku bahkan ada juga yang
mengatakan kebebasanku telah di tukar dengan perawanku.
Walau aku dan keluargaku sudah membantahnya, tetap saja
tidak ada yang percaya kepada kami.
Masalah ini membuat aku terpukul sehingga pikiranku tidak
bisa terbuka.
Merasa keanehan dalam diriku, mama membawaku ke psikologis
dan di saat itulah aku terkena penyakit PTSD.
FLASHBACK OFF