Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
48



“Ini buat kamu Nak. Ini adalah peninggalan dari mama Martin dan yang ini adalah gelang turun temurun untuk menantu keluarga Goh serta sisanya adalah kado pernikahan nenek buat kalian.”


“Tidak Nek, Riana tidak bisa menerima barang berharga ini.”


“Terima saja, jika tidak Nenek akan terus memarahiku karena tidak memberikanmu pernikahan yang mewah.” Kata Martin tiba-tiba yang baru saja pulang.


“Benar kata Martin. Nenek merasa bersalah karena cucu sialan nenek itu tidak memberikanmu pernikahan yang layak.”


“Tidak Nek, sebenarnya Riana sendiri yang meminta Martin untuk tidak mengadakan pesta atau apapun.”


“Walau tidak ada pesta, kalian tetap akan pergi bulan madu dan semuanya sudah Nenek siapkan untuk kalian.”


“Tidak bisa Nek, Martin di kantor.”


Belum selesai Martin bicara, Nenek dengan tegas berkata.


“Aku tidak ingin mendengar bantahan atau penolakan dari kalian berdua!”


“Baik, kami akan bulan madu tapi dengan syarat kami tidak akan tinggal di rumah tua ini.”


“Apa maksudmu Martin?”


“Nek, aku akan mengajak Riana untuk tinggal di vilaku.”


“Baik, aku akan menyetujuinya toh biar kalian ada waktu berduaan juga. Aku akan mengatur beberapa orang untuk ke sana.”


“Tidak perlu Nek, Riana tidak suka keramaian.” Ujar Martin sambil menatap kearahku.


“Benar Nek, Riana yang meminta kepada Martin supaya tidak perlu banyak pembantu di rumah.”


“Baiklah, kalian aturkan saja sendiri ya. Nenek kembali ke kamar dulu, kalian cepatlah istrirahat.”


“Baik Nek.” Ujar Riana dengan sopan sambil mengantarkan Nenek kembali.


“Tidak perlu mengantarku, kamu kembalilah bersama Martin.”


Aku menatap Martin yang baru saja berjalan melewatiku.


Martin menuntun jalan kembali ke kamarnya.


“Kamu istrirahatlah terlebih dahulu, aku masih ada kerjaan.”


“Hm.. Kamu tidur di mana nanti?”


“Aku akan tidur di sofa dan kamu tidurlah di kasur itu.”


“Baiklah..kalo begitu aku istrirahat dulu,selamat malam.”


Esok harinya aku dan Martin berangkat ke kantor bersama.


Karena takut di ketahui oleh yang lainnya, Riana meminta Ethan untuk menurunkannya terlebih dahulu.


Tidak lupa Riana juga berpesan kepada Ethan supaya tidak memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


Riana berjalan memasuki kantor dan duduk di meja kerjanya.


Seharian ini Riana di sibukkan kerjaannya yang menumpuk karena kepergianya kemarin.


Waktu cepat berlalu dan sudah menunjukkan waktu pulang kerja.


Ethan berjalan ke meja Riana dan bertanya.


“Nyo..”


Dengan mata melotot, Riana menatap Ethan.


Ethan menyadari maksud tatapan itu, Ethan segera berkata.


“Riana, Presdir memanggilmu untuk ke kantornya.”


“Baik.”


Riana mengikuti Ethan pergi ke ruangan Martin.


“Presdir mencariku?”


“Kita lusa akan berangkat ke Kota B untuk membahas kerjasama dengan Tuan Nathan.”


“Baik Presdir.”


“Tunggulah sebentar lagi, kita akan pulang bersama.”


“Baik Presdir.”


Aku menunggu Martin hingga ia selesai mengerjakan berkas-berkasnya.


Kami berdua pulang bersama ke rumah Nenek.


“Kalian sudah pulang?” sapa Nenek.


“Iya Nek, kami sudah pulang.” Jawab Riana.


“Istrirahatlah, sebentar lagi kita akan makan malam bersama.”


“Baik Nek.”


Riana kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, setelah itu dia kembali keluar menikmati makan malam bersama dengan Martin dan Nenek.


Saat makan malam, Martin memberitahu Nenek bahwa malam ini mereka akan kembali ke rumah milik Martin dan lusa mereka berdua akan berangkat ke kota B untuk bekerja.


“Tidak bisakah kamu segera pergi ke bulan madu? Biarkan aku yang tua ini dapat melihat cicitku.”


Riana mendengar ucapan nenek langsung keselek.