Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
53



“APA?!!” ujar Sam dan Tante Mischa barengan.


“Bu...Bukan..”


Martin berjalan mendekati Riana dan merangkul bahunya lalu berkata.


“Maaf Tuan dan Nyonya Nathan, saya harus perkenalkan diri dengan cara seperti ini karena Riana melarangku untuk memberitahu kalian.”


Dengan kesal Riana melotot terhadap Martin.


“Cowo sialan!!” gumam Riana di dalam hati.


“Kenapa begitu Riana?” tanya tante Mischa dengan kecewa.


“Maaf tante, Riana bukan tidak ingin memberitahu kalian tapi Riana bermaksud untuk mencari waktu yang tepat apalagi sekarang hubungan kami masih baru saja terjalin.” Jelasku.


“Maaf Tuan Martin, bisakah saya bicara berdua dengan Riana?” tanya Om Nathan.


“Silahkan Tuan.”


Aku dan Om Nathan berjalan menjauhi mereka yang masih berdiri di tempat tadi.


“Riana, om mau kamu jujur sama om apakah kamu bersamanya karena ingin membantu perusahaan om?”


“Tidak om!! Riana bersama Martin sebelum masalah ini terjadi.” Ujarku dengan cepat.


“Benarkah? Bukankah kamu baru saja berkenalan dengannya?!” tanya Om Nathan lagi.


“Om, aku memang tidak lama mengenalnya tapi sejak kemarin saat masih berada di Kota B ini, aku merasa kami cocok dan dia juga sesuai dengan tipeku jadi pas Martin mengatakan ingin mencobanya ya Riana mengiyakannya


karena menurutku tidak salahnya mencoba mengenal satu sama lain.” Ujar Riana dengan mantap.


“Baiklah jika kamu sudah menentukannya, om harap yang terbaik buat kamu.”


“Terima kasih om.” Ujarku kemudian memeluk om Nathan.


“Om sudah Riana anggap seperti papa Riana sendiri, Riana harap om mau merestui hubungan Riana dengan Martin.”


“Riana, om juga menganggapmu sebagai putri om sendiri. Om hanya berharap kamu Bahagia dan jika bersamanya bisa membuatmu bahagia, om akan merestuinya.”


“Terima kasih om.” Ujarku sambil menitikkan air mata.


Dengan kesal Riana bertanya kepada Martin.


“Kenapa anda mengatakan kepada om Nathan seperti itu?”


“Kenapa kamu keluar dari mobil?”


“Kan aku bertanya duluan!” ujarku dengan tidak senang.


“Apakah ada alasan lain selain itu? Atau mungkin aku harus mengatakan bahwa kamu adalah sekretarisku?” tanya Martin tidak kalah acuh.


“Sumpah! Kok bisa gue kenal sama orang kaya dia sih!!” gumamku dengan kesal.


Melihat Riana terdiam, Martin memerintahkan Ethan untuk kembali ke hotel.


Sesampai di hotel, Riana kembali ke kamarnya tanpa menghiraukan Martin sedangkan Martin kembali ke kamarnya untuk mengambil berkas dan kembali ke lobby untuk melanjutkan pertemuan selanjutnya.


#KAMAR HOTEL


Di dalam kamar, Riana berbaring sambil berpikir kembali kejadian tadi.


Walau sudah tidak marah tapi tetap saja dia tidak mau menghiraukan Martin karena telah memberitahu keluarganya soal hubungan mereka. Untung saja yang di katakan hanya pacarana jika saja waktu itu Martin keceplosan, Riana tidak bisa ngebayangin apa yang akan terjadi.


Riana mulai merasa bosan dan memutuskan untuk keluar jalan-jalan.


Baru saja keluar dari hotel, Riana bertemu dengan Tomy.


Sejak kejadian di acara itu, Tomy menghilang dari pandangan Riana layaknya seperti di telan bumi.


“Hai Ri, Long time no see.” Ujar Tomy saat sudah mendekat.


“Hai, iya nih udah lama tidak ketemu.”


“Kamu gimana kabarnya?” tanya Tomy lagi.


“Seperti biasa aja, kamu sendiri gimana?”


“Semenjak tidak ada kamu di sisiku, aku sama sekali gak baik.” Ujarnya dengan pelan.