Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 19



Ethan berjalan cepat dan membukakan pintu mobil bagian


belakang untuk Martin.


“Hari ini aku akan menyetir sendiri.” Ujar Martin kepada


Ethan lalu berjalan kearah pengemudi.


Martin mengendarai mobil Sport Rolls Royce yang hanya ada


beberapa unit di dunia dan tidak butuh yang lama Martin sudah tiba dan mobilnya


sudah parkir di parkiran mobil. Martin berjalan ke ruangan VVIP dimana Neneknya


di rawat saat ini.


“Kamu sudah datang Martin?” tanya Nenek setelah mendengar


seseorang membuka pintu ruangannya.


“Iya Nek, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Martin sambil


mendekat ke ranjang Neneknya.


“Tidak ada, aku hanya sedang merajut syal untuk calon cucu


menantuku.” ujar Nenek dengan lirih.


“Nenek!” ujar Martin dengan wajah tidak senang.


“Aku hanya takut aku tidak bisa bertemu dengan calon cucu


menantuku jadi aku membuatkan syal untuknya. Jika suatu hari nanti kamu sudah


menemukannya tolong kamu berikan kepadanya.”


“Baiklah, aku akan segera mencarikannya untukmu supaya kamu


dapat memberikannya secara langsung.” Ujar Martin kemudian menghela napas


berat.


“Kalo begitu, temani lah aku jalan-jalan! Mana tau kamu


kecantol dengan dokter atau suster sini.” Ujar Nenek dengan senang.


Martin hanya bisa menghela napas melihat tingkah neneknya


itu.


Di dunia ini hanya tinggal nenek seorang yang merupakan


keluarga Martin jadi apapun permintaan Nenek, Martin selalu berusaha menuruti


dan menyenanginya.


Martin meninggalkan ruangan dan kembali dengan sebuah kursi


roda di tangannya.


Nenek tersenyum kemudian ia langsung turun dari tempat


tidurnya.


Setelah memastikan nenek sudah duduk dengan benar, Martin


mengambil syal dan menutupi kedua kaki nenek.


Martin perlahan mendorong kursi roda ke Taman Rumah Sakit.


Mereka berjalan pelan sambil berbincang. Sesekali juga


terlihat senyuman bahagia di wajah Nenek.


“Martin, apa kamu masih memikirkan wanita itu?” tanya Nenek


Wajah Martin menggelap dan aura yang di pancarkannya


sangatlah dingin dan menakutkan.


Orang-orang yang berjalan di sekitarpun dapat merasa


ketakutan dengan hanya menatap wajah Martin.


“Tidak. Dia hanyalah masa lalu untukku.” Ucapnya acuh.


“Bagus kalo begitu. Nenek mengira kamu masih tidak bisa


melepaskannya sehingga kamu.”


“Sudahlah Nek, yang sudah berlalu tidak usah di bahas lagi.”


“Baiklah.”


“Nek, besok malam aku akan pergi ke Kota B selama 2 atau 3


hari. Jika kamu butuh sesuatu hubungilah Hendy.”


“Baiklah, jangan lupa membawa pulang cucu menantuku.” Ujar Nenek


dengan sengaja.


“Aku akan mengantarkanmu kembali ke kamar. Aku masih ada


beberapa pekerjaan di rumah.”


“Jangan terlalu sering lembur, jagalah kesehatanmu.”


“Baik Nek.”


Setelah Martin mengantarkan Nenek kembali ke ruangannya, dia


segera meninggalkan Rumah Sakit dengan mengemudi kecepatan tinggi. Saat tiba di


rumah, Martin di sambut oleh kepala pelayan.


“Tuan Muda.”


“Bawakan saya anggur.” Perintah Martin sambil menaiki


tangga.


Dia masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mulai melihat beberapa


berkas yang ada di mejanya itu.


Tidak lama terdengar ketokan pintu, kepala pelayan


mengantarkan satu botol anggur kesukaan Martin.


“Silahkan Tuan.” Ujar pelayan kemudian buru-buru keluar


karena dia tau bahwa saat ini mood Martin sedang tidak baik.


Selesai menandatangani berkas-berkasnya, Martin mengeluarkan


1 batang rokok dan menyesapnya dengan pelan.


Dia memutarkan kurisnya menghadap ke kaca jendela yang


berada di belakang meja kerjanya. Dia melihat pemandangan yang ada di balik


kaca tersebut.


FLASHBACK ON


“Bisakah kamu tidak pergi?”