
Ethan berjalan cepat dan membukakan pintu mobil bagian
belakang untuk Martin.
“Hari ini aku akan menyetir sendiri.” Ujar Martin kepada
Ethan lalu berjalan kearah pengemudi.
Martin mengendarai mobil Sport Rolls Royce yang hanya ada
beberapa unit di dunia dan tidak butuh yang lama Martin sudah tiba dan mobilnya
sudah parkir di parkiran mobil. Martin berjalan ke ruangan VVIP dimana Neneknya
di rawat saat ini.
“Kamu sudah datang Martin?” tanya Nenek setelah mendengar
seseorang membuka pintu ruangannya.
“Iya Nek, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Martin sambil
mendekat ke ranjang Neneknya.
“Tidak ada, aku hanya sedang merajut syal untuk calon cucu
menantuku.” ujar Nenek dengan lirih.
“Nenek!” ujar Martin dengan wajah tidak senang.
“Aku hanya takut aku tidak bisa bertemu dengan calon cucu
menantuku jadi aku membuatkan syal untuknya. Jika suatu hari nanti kamu sudah
menemukannya tolong kamu berikan kepadanya.”
“Baiklah, aku akan segera mencarikannya untukmu supaya kamu
dapat memberikannya secara langsung.” Ujar Martin kemudian menghela napas
berat.
“Kalo begitu, temani lah aku jalan-jalan! Mana tau kamu
kecantol dengan dokter atau suster sini.” Ujar Nenek dengan senang.
Martin hanya bisa menghela napas melihat tingkah neneknya
itu.
Di dunia ini hanya tinggal nenek seorang yang merupakan
keluarga Martin jadi apapun permintaan Nenek, Martin selalu berusaha menuruti
dan menyenanginya.
Martin meninggalkan ruangan dan kembali dengan sebuah kursi
roda di tangannya.
Nenek tersenyum kemudian ia langsung turun dari tempat
tidurnya.
Setelah memastikan nenek sudah duduk dengan benar, Martin
mengambil syal dan menutupi kedua kaki nenek.
Martin perlahan mendorong kursi roda ke Taman Rumah Sakit.
Mereka berjalan pelan sambil berbincang. Sesekali juga
terlihat senyuman bahagia di wajah Nenek.
“Martin, apa kamu masih memikirkan wanita itu?” tanya Nenek
Wajah Martin menggelap dan aura yang di pancarkannya
sangatlah dingin dan menakutkan.
Orang-orang yang berjalan di sekitarpun dapat merasa
ketakutan dengan hanya menatap wajah Martin.
“Tidak. Dia hanyalah masa lalu untukku.” Ucapnya acuh.
“Bagus kalo begitu. Nenek mengira kamu masih tidak bisa
melepaskannya sehingga kamu.”
“Sudahlah Nek, yang sudah berlalu tidak usah di bahas lagi.”
“Baiklah.”
“Nek, besok malam aku akan pergi ke Kota B selama 2 atau 3
hari. Jika kamu butuh sesuatu hubungilah Hendy.”
“Baiklah, jangan lupa membawa pulang cucu menantuku.” Ujar Nenek
dengan sengaja.
“Aku akan mengantarkanmu kembali ke kamar. Aku masih ada
beberapa pekerjaan di rumah.”
“Jangan terlalu sering lembur, jagalah kesehatanmu.”
“Baik Nek.”
Setelah Martin mengantarkan Nenek kembali ke ruangannya, dia
segera meninggalkan Rumah Sakit dengan mengemudi kecepatan tinggi. Saat tiba di
rumah, Martin di sambut oleh kepala pelayan.
“Tuan Muda.”
“Bawakan saya anggur.” Perintah Martin sambil menaiki
tangga.
Dia masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mulai melihat beberapa
berkas yang ada di mejanya itu.
Tidak lama terdengar ketokan pintu, kepala pelayan
mengantarkan satu botol anggur kesukaan Martin.
“Silahkan Tuan.” Ujar pelayan kemudian buru-buru keluar
karena dia tau bahwa saat ini mood Martin sedang tidak baik.
Selesai menandatangani berkas-berkasnya, Martin mengeluarkan
1 batang rokok dan menyesapnya dengan pelan.
Dia memutarkan kurisnya menghadap ke kaca jendela yang
berada di belakang meja kerjanya. Dia melihat pemandangan yang ada di balik
kaca tersebut.
FLASHBACK ON
“Bisakah kamu tidak pergi?”