Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 17



“Yup, aku di terima!” Ujarku dengan cengengesan.


Kalo begitu nanti malam harus kita rayain bersama.


“Tapi ada yang aneh loh Sam.” Ujarku dengan wajah bingung menatap


kearahnya.


“Apanya yang aneh?” tanya Sam heran.


“tadi tuh yang nginterview gue adalah Presdir Group Dragon


Empire.”


“Maksud lo Martin sendiri yang interview lo?”


“Iya, anehkan?”


“Memangnya lo lamar di bagian apa?”


“Seingat gue di bagian pemasaran sih tapi yasudahlah yang penting


di terima aja daripada di tolak yekan.”


“Iya juga sih.” Ujar Sam sambil menatap lurus ke depan jalan.


Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir 1 jam, aku tiba di


pemakaman kedua orang tuaku.


Dengan mata berkaca-kaca aku berjalan mendekat dan menaruh bunga kesukaan


mama di depan Nisan.


“Pi, Mi, Riana datang mengunjungi kalian.” Ujarku dengan lirih.


“Om, Tante, Sam juga datang mengunjungi kalian.” Tambah Sam dari


arah belakangku.


Aku menoleh dan menatap kearah Sam.


“Sam, Bolehkah?” belum aku selesai bicara, Sam sudah mengerti


maksudku


“Aku tunggu kamu di mobil.” Ujarnya kemudian pergi meninggalkanku.


“Pi, Mi, kalian apa kabar di sana? Riana di sini baik-baik aja.


Maafkan Riana yang baru datang sekarang mengunjungi kalian.


Pi, Riana sudah selesaikan kuliah Riana sesuai dengan keinginan


Papi di Australia. Apa Papi bangga sama Riana?


Riana yakin kalo saat ini Papi masih ada, pasti Papi bangga banget


sama Riana.


Oiya sekarang aku udah bisa masak sendiri loh Mi, walaupun gak


seeenak masakan Mami setidaknya saat aku merindukan masakan Mami aku bisa masak


sendiri.” Ujarku di depan Nisan dengan air mata yang keluar sedikit demi


sedikit.


Aku menghapus air mataku kemudian tersenyum di depan pusaran.


“Papi sama Mami tenang saja, aku disini gak sendirian kok.


Semenjak kepergian kalian, aku memutuskan untuk pergi ke Australia


dan di bantu oleh Om Nathan.


Seluruh pengurusan ke Australia di urus oleh Om Nathan dan Tante


Mischa.


Mereka sudah menjaga dan merawatku dengan baik bahkan mereka


sangat menyayangiku.


Semenjak kepergian Papi dan Mami, hanya keluarga Om Nathan lah


yang selalu berada di sisiku.


ketika Riana masih berada di luar negeri, Om Nathan dan Tante


Mischa selalu mengosongkan waktu untuk melihatku sedangkan Sam, dia selalu


berada di sisi Riana ketika Riana sedih maupun senang.


Terima kasih kalian sudah mengirimkan mereka untuk menemaniku.”


Ujarku dengan senyum kecil.


Di sudut lain ada seorang lelaki yang berdiri di sana sambil


memperhatikan gerak gerikku. Sayangnya karena jarak di antara kita lumayan jauh


jadi dia tidak dapat mendengar apapun. Setelah melihat kepergianku, dia datang


ke makam kedua orangtuaku.


“Om, Tante, apa kabar? Perkenalkan saya Tomy pacarnya Riana. Karena kami berdua


sedang berantem jadi aku datang sendiri kesini. Om dan Tante tenang saja, saya


akan menjaga Riana dengan baik dan tidak akan menyakitinya. Aku berjanji kepada


kalian dan tolong merestui hubungan kami berdua.” ujarnya kemudian meletakkan


buket bunga dan pergi dari sana.


Ketika di dalam mobil, aku tidak banyak bicara.


Ingatan masa kecilku mengulang di benakku. Begitu banyak kenangan


manis yang mereka tinggalkan untukku hanya saja Tuhan sudah berkehendak lain.


Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku setelah Sam memanggilku


beberapa kali.


“Apa kamu tidak apa-apa?”


“Eh..Aku tidak apa-apa kok, kenapa?”


“tidak apa-apa, barusan aku memanggilmu beberapa kali tapi kamu


tidak menjawabnya. Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Tidak ada. Aku tidak memikirkan apapun.”


“Aku tau kamu sedang berbohong Riana.” Gumamnya dalam hati.


“Kalo begitu, kita pergi makan siang dulu ya.”


“Baiklah.”