
Martin baru saja selesai mandi.
Dia berjalan kearah pintu dimana terdengar suara ribut dari
luar sejak dari tadi.
Martin mendengar suara yang semakin familiar, dia membuka
pintu kamar.
Tomy mengamati tubuh Martin dari atas hingga ke bawah
sedangkan Riana melihat Tomy yang menatap orang yang ada di belakangnya itu,
dia berbalik menatap Martin.
Riana terkejut melihat Martin yang bertelanjang dada dan
hanya menggunakan handuk di bawah pinggangnya itu.
Martin terlihat sangat menawan dengan rambut yang masih
basah dan berantakan itu.
Tomy melangkah ke depan dan menutup kedua mataku dengan
tangannya.
“Lepaskan tanganmu itu! Dia milikku!” ujar Martin dengan
mantap kemudian menarikku ke dalam pelukannya.
Martin menunjukkan aura yang sangat dingin dan menakutkan
ketika dia melihat bekas merah yang ada di lenganku itu.
“sepertinya anda sudah menyakiti wanitaku!” ujar Martin
dengan suara sangat berat.
“Dia adalah milikku!! Lepaskan tangan kamu itu!” ujar tomy
dengan penuh penekanan juga.
Martin menghiraukan Tomy dan berkata dengan lembut terhadap
Riana.
“Sakitkah?”
Mataku terbelalak melihat perlakuan Martin dan aku hanya
menggelengkan kepala dengan pelan.
Martin mengangkat salah satu alis matanya “Hm?”
“Enggak sakit kok, ayo kita masuk ke dalam aja.” Ajakku
dengan suara yang manja.
Tomy langsung menahan lenganku dan berkata.
“No Ri!”
“Pergilah! Semuanya sudah berakhir dan aku sudah tidak ada
hubungan denganmu lagi.”
“Kenapa Riana? Kenapa kamu begitu kejam?!” tanya Tomy dengan
meninggikan suaranya sehingga langkahku terhenti.
“Karena aku mencintainya! Dan jangan pernah menggangguku
lagi karena pacarku tidak menyukai aku masih berhubungan dengan mantan.” Ujarku
kemudian berjalan masuk ke kamar Martin dan menutup pintunya.
Setelah pintu kamar tertutup, Martin langsung melepaskan
rangkulannya.
Kakiku tiba-tiba melemas dan tubuhku jatuh ke lantai dimana
Martin hanya berdiri beberapa Langkah dariku.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Martin setelah dia berjalan mendekat
saat melihat Riana yang terjatuh di lantai itu
“Te..Terima kasih ka.. Kamu sudah membantuku.” Ujarku dengan
suara berat dan sedikit serak.
aku dengan cepat menggapus air mataku itu supaya Martin
tidak melihatnya.
Martin merasa iba melihat diriku yang saat ini.
“Jika masih mencintainya, kenapa kamu tidak memilih
melupakan masa lalu dan mengulangnya dari awal?” tanya Martin dengan tiba-tiba.
Martin melihat kesakitan, ketegaran dan kepedihan di dalam
bola mataku.
“jika itu kamu, apakah kamu dapat memaafkan dan menerimanya
kembali?” tanyaku dengan pelan.
“Hm?” Martin kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba aku
lontarkan.
Dia berbalik dan berjalan kearah koridor.
Martin mulai memikirkan masa lalunya itu dengan kekasihnya.
“apakah aku masih bisa menerimanya kembali?” gumam Martin
pada dirinya sendiri.
…
Hari ini adalah hari pertamaku sebagai sekretaris Martin.
Aku segera menata diri dan memakai sedikit riasan untuk
menutup mataku yang membengkak itu.
Baru siap berdandan, aku mendapat pesan dari Ethan tentang
jadwal Martin hari ini dan semua kebiasaan Martin.
Aku berganti baju dan berjalan ke kamar Martin dan
mengetuknya terlebih dahulu.
Tok..Tok..
Tidak ada suara maupun respon dari dalam.
Aku kembali menekan bel beberapa kali sampai Martin membukakan
pintu.
“Ethan tidak memberimu kartu kamarku kah?”
“Maaf Presdir, Ethan sudah memberiku kartu kamar anda tapi
saya tidak menggunakannya.”
Martin seperti mengerti maksudku, dia kembali ke meja
kerjanya dan sibuk di depan laptop miliknya.
“Presdir, hari ini anda ada rapat melalui video dan ada
jamuan siang dengan Direktur Sun terus malam ini anda harus menghadiri acara yang
di selenggarakan oleh Direktur Alex.”
“Acara Direktur Alex?”
“Benar Presdir, malam ini jam 7.”
“Nanti malam kamu ikut dan jadi pasanganku.”
“Tapi.”
“apakah anda keberatan?”
“bukan begitu, saya hanya tidak membawa pakaian yang pantas,
bolehkah aku meminta izin untuk pergi membelinya terlebih dahulu?” ujarku
dengan sedikit kesal karena tadi dia langsung memotong pembicaraanku tanpa
mendengarkannya terlebih dahulu.
Dengan tatapan masih ke laptop, Martin memerintah.
“Siapkan mobil sekarang!”
“Baik pak.” Ujarku sambil berjalan mengambil baju jas milik Martin
dan memberikan kepadanya.
Aku dengan buru-buru berjalan kembali ke kamar untuk
mengambil tas dan kunci mobil yang di titipkan Ethan kemarin.
“kamu bisa nyetir?” tanya Martin tiba-tiba saat di dalam
lift.
“Bisa pak.” Jawabku dengan mantap.
“ketika tidak ada orang lain, kamu tidak perlu begitu
formal.”
“Baik pak.”