
Baru saja berjalan keluar ruangan, aku baru sadar bahwa aku tidak tau harus buat kopi dimana.
“Ethan dimana ya.” Tanyaku sambil berjalan menelusuri 1 lantai ini.
Ethan keluar dari lift, wajahnya terlihat panik dan buru-buru.
“Akhirnya aku menemukanmu Ethan.” Ujarku dengan lega saat melihat kehadirannya.
“Riana, ikut aku ke ruangan Presdir!”
“Baiklah.” Aku mengikuti langkah Ethan ke ruangan Martin.
Ethan melangkah dengan besar ke hadapan meja Martin.
“Presdir, sesuatu telah terjadi dengan nenek anda.”
Martin langsung menghentikan pekerjaannya.
Dia menatap Ethan dengan tajam.
Aku yang tidak tau apa-apa hanya terdiam dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
“Barusan saya mendapat panggilan dari Rumah Sakit bahwa saat ini kondisi nenek anda kritis.”
“Siapkan mobil untukku.”
“Baik.”
Ethan langsung berlari kecil meninggalkan ruangan Martin.
Melihat kepergiaan Ethan, aku kembali menatap Martin yang sudah beranjak dari kursinya.
Dia berjalan ke samping untuk mengambil jasnya.
Saat Martin menyadari aku masih menatapnya, dia dengan dingin berkata.
“Kamu ikut aku ke rumah sakit.”
“Baik Presdir.”
Aku mengikuti Martin masuk ke dalam lift khusus miliknya.
“Apa kamu bisa menyetir?” tanya Martin tiba-tiba.
“Bisa Presdir.”
“Butuh berapa lama untuk kamu menyetir dari sini ke General Hospital?”
“Aku akan berusaha tiba secepatnya asal anda mempercayai kemampuan mengemudiku.”
Pintu lift terbuka dan Martin berkata sambil berjalan.
Mendengar ucapan Martin barusan, langkahku terhenti sebentar kemudian aku berlari kecil kearah Ethan untuk mengambil alih pengemudi.
“Kamu tetap di perusahaan dan batalkan semua jadwalku untuk hari ini dan besok.”
“Tapi.”
“Biarkan dia yang mengantarkanku ke rumah sakit.”
“Baiklah, aku akan kesana jika pekerjaanku sudah selesai.”
Ethan membukakan pintu mobil kemudian dia membiarkan Martin masuk dan duduk di kursi belakang.
Baru saja Ethan menutup pintu mobil, kakiku langsung menginjak pedal gas dan mengebut di jalanan.
Martin tampak mempercayakan nyawanya kepadaku karena dia duduk dengan sangat tenang di kursi belakang sehingga aku hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk tiba di Rumah Sakit.
Aku menurunkan Martin di depan pintu utama Rumah Sakit kemudian aku baru memarkirkan mobilnya.
“Astaga, aku lupa untuk menanyakan ruangan nenek Presdir.” Ujarku sambil menepuk jidat.
Dengan buru-buru aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi Ethan.
“Ethan, dimana ruangan Nenek Presdir?”
“Dia berada di Ruangan VIP 888.”
“Baiklah, terima kasih.”
Aku berjalan ke ruangan VIP dan menemukan Martin sedang berbicara dengan Dokter di depan ruangan Neneknya.
Aku menunggu di sekitar sampai aku melihat mereka sudah selesai bicara baru aku berjalan mendekati Martin dan memberikannya segelas kopi.
Martin menerima gelas yang kuberikan kemudian dia menyesap sambil berjalan ke kursi yang ada di samping sana.
Wajah Martin saat ini sangat gelap dan aku merasa sangat dingin saat berada di dekatnya.
Setelah menghabiskan kopi, Martin masuk ke dalam ruangan dan kali ini raut wajahnya sudah melembut.
Dia berjalan ke samping kasur Nenek dan memegang salah satu telapak tangan Neneknya.
Martin menemani Neneknya dalam diam, sedangkan aku menemani mereka sambil membantu mengganti air minum serta membereskan yang lainnya untuk menghilangkan suntukku.
Melihat waktu sudah menunjukkan waktu makan siang, aku mendekati Martin dan berkata kepadanya.
“Presdir sudah waktunya makan siang, apa yang ingin kamu makan? Aku akan membelikannya untukmu.”
“Tidak usah, kamu pergi makan saja aku tidak punya selera makan.”
“Tapi tetap saja anda harus makan sedikit supaya ada tenaga untuk menjaga Nenek anda.”