
Tomy mengemudikan mobilnya dengan laju menuju ke airport.
Begitu tiba di airport, dia segera mengambil barang-barangnya dan langsung melakukan check-in.
Dia juga tidak lupa memerintahkan sekretarisnya untuk mencari tau dimana Riana akan menginap.
Setelah tiba di Kota B, Tomy langsung menaiki taxi menuju ke Hotel Skyblue.
Sesampainya di sana, dia masuk ke dalam dan menemukanku sedang duduk bersama laki-laki lain di sofa lobby.
Dia sangat marah dan dengan emosi yang menggebu dia berjalan dengan langkah besar kearahku.
“Jadi kamu kesini dengan lelaki ini?” tanya Tomy dengan nada tinggi.
Aku kaget melihat sosok Tomy yang berdiri di hadapanku ini.
Aku langsung beranjak dari kursiku dan menatap tajam kearah Tomy.
“Untuk apa kamu di sini? Kamu mengikutiku?” tanyaku
“Jawab pertanyaanku! Apa kamu ke sini dengan lelaki ini?!” Dengan keras Tomy membentakku.
Semua orang yang berada di lobby hotel itu langsung menoleh kearah kami dan beberapa dari mereka mulai berbisik. Menjadi pusat perhatian mimik wajah Martin langsung berubah menjadi sangat menakutkan dan dia juga memancarkan aura yang sangat dingin.
Deg! Jantungku berdetak tidak seperti biasanya saat merasakan aura Martin.
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Tomy.
“Sudahlah, nanti baru ku jelaskan saja kepada Martin.” Ucapku dalam hati.
“Iya! Seperti yang kamu lihat aku datang bersama dengan dia, apa masalahmu?”
“Kamu!”
“Kenapa?”
“Aku kecewa sama kamu Riana!”
“Kecewa? Apa kamu punya hak untuk kecewa?” aku tersenyum sebelum melanjutkan berbicara
“itu lah perasaanku saat tau kamu berada di Dubai bersama wanita itu.”
“Itu hanya kecelakaan Riana!”
“Kecelakaan atau tidak sudah bukan urusanku lagi semua sudah berlalu!”
“Kamu sengaja membalasku dengan cara seperti ini!”
PLAK! Tomy menamparku di depan banyak orang.
Aku memegang pipiku yang panas kemudian perlahan tersenyum kearah Tomy.
“Harusnya kamu tau ketika kamu sudah memilih untuk menyentuhnya di antara kita sudah tidak ada yang harus di bahas lagi dan dengan siapapun aku datang hari ini kamu tidak ada hak untuk bertanya ataupun marah
kepadaku!” Ujarku kemudian langsung berjalan meninggalkan Tomy.
Martin beranjak dari tempat dia duduk kemudian menatap Tomy dengan tajam lalu berkata
“Menjauhlah dari dia!”
Martin berjalan kearahku di ikuti dengan Ethan.
Saat pintu lift terbuka, Ethan dengan sengaja berkata
“Kalian duluan saja, sepertinya aku meninggalkan ponselku di resepsionis sana.”
Sekarang di dalam lift hanya ada aku dan Martin.
Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak meneteskan air mataku dan aku juga berusaha menutupi wajahku yang memerah itu dengan rambutku.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Martin dengan nada datar dan pandangan lurus ke pintu lift.
Aku menoleh menatapnya sebentar kemudian aku berusaha tersenyum di depannya.
“aku tidak apa-apa maaf tadi aku sudah menggunakanmu dan membuat anda malu.”
Martin hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun sampai bunyi lift kembali terdengar.
Dia langsung melangkahkan kakinya keluar begitu juga denganku.
Setelah menemukan kamarku, aku langsung membukanya dan masuk ke dalam kamar.
Baru saja menutupi pintu kamar, kakiku langsung melemas membuatku terjatuh di balik pintu.
Air mata yang sejak dari tadi ku tahan sudah tidak dapat di tahan lagi.
Aku menangis tersedu-sedu di belakang pintu sampai tubuhku
bergetar dengan kuat. Aku menggigit salah satu jariku karena keperihan yang ada
di dalam hatiku ini sudah tidak dapat ku tahan lagi.