Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
58



Perlahan mata Riana terbuka.


Dia mengamati sekeliling ruangan yang bernuansa putih ini sampai pandangannya berhenti ketika melihat wajah Sam yang sedang tertidur di atas sofa itu.


Dengan suara lemah Riana memanggil Sam.


“Sam…”


Sam segera bangun setelah mendengar suara panggilan Riana.


“Hey, how do you feel? Are you okay?”


“Hm, I’m okay. Dimana Martin?”


“Martin sudah kembali ke hotel. Aku menyuruhnya istrirahat karena ia terlihat lelah setelah bolak balik tadi.”


“Apa Om Nathan dan Tante Mischa juga mengetahui keadaanku?”


“Yup, mereka tadi berada di sini tapi sudah ku suruh pulang bersama dengan Martin.”


“Oh…”


“Boleh aku bertanya?”


“Sorry Sam, aku tidak ingin membahasnya.”


“Baiklah, aku akan tunggu hingga kamu siap. Istrirahatlah.”


Riana berbalik badan membelakangi Sam.


Riana menangis diam-diam mengingat kejadian kemarin.


“Berapa lama aku sudah tertidur?” tanya Riana dengan pelan.


“Seharian, kenapa?”


“Tidak ada, kamu juga istrirahatlah.” Ujar Riana lagi.


Sam kembali ke sofa tadi dan kembali berbaring di sana sedangkan Riana tetap membelakangi Sam.


Esok harinya Tante Mischa dan Om Nathan dengan membawa sarapan untuk Sam dan Riana karena ia semalam sudah terima kabar dari Sam bahwa Riana sudah sadar.


“Hai Sayang, kamu gak papa?” Tanya Tante Mischa.


“Gakpapa Tan.” Ujar Riana dengan senyum kecil.


Tante Mischa ingin kembali bertanya tapi di hentikan oleh Om Nathan.


“Baiklah Nak, kamu setelah makan istrirahat lagi saja. Om dengan tante pulang dulu ya.”


“Tapi Pa.” belum selesai Tante Mischa bicara, Om Nathan langsung memberinya kode untuk diam.


“Baik Om, ,maaf sudah menyusahkan kalian.”


“Tidak menyusahkan sama sekali kok sayang.” Ujar Tante Mischa.


Tidak lama mereka meninggalkan rumah sakit, Martin datang dengan membawakan bunga mawar.


Melihat kedatangan Martin, Sam berpamit diri untuk pulang istrirahat.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Martin setelah melihat Sam menutup pintu kamar rumah sakit.


“Aku baik-baik saja.”


“Benarkah kau baik-baik saja?”


“Ya. Aku baik-baik saja.” Ujar Riana lagi.


“Jika kamu baik-baik saja, mengapa kamu melakukan ini?” Tanya Martin dengan mengangkat tanganku.


Aku melepaskan genggaman tangannya dan terdiam membisu.


“Mengapa kamu terdiam? Bukankah barusan kau menjawabnya dengan meyakinkan bahwa kau tidak apa-apa?” tanya Martin lagi kali ini dengan nada yang sangat marah.


Riana menunduk dan meneteskan air mata dengan diam.


“Kamu menangis?”


“Tidak!!” ujar Riana kesal kemudian menghapus air matanya.


Martin mengangkat tangannya untuk menyentuh dagu Riana.


Ia dengan pelan menuntun dagu naik untuk menatapnya lalu ia menekan dengan sedikit kuat, dia menahan wajah Riana.


“Tatap mataku!”


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Martin lagi dengan lembut kali ini.


Air mataku langsung menetes tanpa henti.


Martin menarikku masuk ke dalam pelukannya dan berkata “Jangan bilang tidak apa-apa jika kamu sedang tidak apa-apa, bersamaku kamu tidak perlu tegar.”


Riana membalas pelukan Martin dan menangis sangat terlepas hingga membasahi baju Martin.


Setelah menangis cukup lama, Martin melepas pelukannya dan menatap Riana dengan tajam.


“Setelah ini, aku harap dapat melupakan kejadian kemarin walau aku tau itu berat bagimu tapi tidak salahnya jika kamu mencoba melepaskan diri kamu sendiri.”


Riana hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


“Istrirahatlah! Aku akan menemanimu di sini.”


“Baiklah.”


Riana kembali berbaring di tempat tidurnya.


Mungkin karena menangis terlalu lama, Riana terlelap dengan cepat.


Martin memastikan Riana sudah terlelap, ia pergi menemui dokter untuk memindahkan Riana ke kota A.


Setelah mendapat persetujuan dokter, Martin kembali ke kamar Riana dan Sam sudah berada di ruangan Riana.


“Kamu sudah kembali?” tanya Sam.


“Iya, aku barusan menemui dokter untuk memindahkan Riana ke rumah sakit di kota A.”


“Apa dokter menyetujuinya?”


“Iya, Besok dia akan melihat kondisi Riana terlebih dahulul.”


“Bisa kita bicara di luar sebentar?” tanya Sam.


“Silahkan.”


Martin dan Sam meninggalkan ruangan Riana.


Mereka duduk di kursi yang ada di depan ruangannya.


“Apa kau sudah menemui Tomy?”


“Ya, kenapa?”


“Apa yang kau lakukan terhadapnya?”


“Tidak ada yang aku lakukan terhadapnya.”


“Benarkah?”


“Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?!”


“Aku punya satu permintaan kepadamu, jika kau ingin menghukumnya aku tidak akan melarangmu tapi bisakah tidak tidak keterlaluan karena bagaimanapun dia adalah sahabatku dan aku yakin dia pasti tidak sadar telah


menyakiti Riana.”


“Dia sahabatmu, bagaimana dengan Riana?”


“Riana adalah adikku! Aku tau aku tidak harusnya berkata seperti ini tetapi aku yakin kejadian ini pasti tanpa dia sadari. Semua orang mungkin akan menyakiti Riana tapi dia tidak mungkin menyakitinya.”


“Mengapa kau sangat yakin?!”


“Karena dia mencintai dan menyayangi Riana lebih dari nyawanya sendiri.”


“Itu dulu tidak berarti sekarang dia juga begitu. Aku harap kamu tidak mengatakannya di depan Riana.”


Martin beranjak meninggalkan Sam yang masih terduduk di sana.


----------------------------------------------------------------------------------


Jangan lupa dengan Riana dan Martin yaa guys.


ikuti terus ceritanya akan semakin seru loh!!


SPOILER NEXT EPISODE :


“Apa katamu?! Kembali ke rumah sakit sekarang!!!” perintah Martin.


untuk sementara, Author akan berusaha untuk upload 1 minggu 1x yaa dear.


jangan lupa klik Love untuk author yaa dear.