Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 28



Martin mengangguk dengan pelan kemudian Ethan langsung masuk ke dalam mobil dan meluncur ke tempat mereka janjian tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu mau ikut atau tidak.


Selama perjalanan Martin dengan tenang memejamkan matanya sedangkan aku hanya bisa menghela napas terus dan menerus sampai tiba di tujuan.


Ethan membukakan pintu untuk Martin, Martin langsung berjalan masuk ke dalam restoran tanpa menoleh ke belakang.


Ethan menatapku dari luar dan berkata.


“Kamu tunggulah di sini! Kami tidak lama kok.”


Aku membuka pintu mobil dan turun kemudian menoleh kearah Ethan.


“Tidak perlu Ethan, aku masih ada janjian jadi aku duluan saja.bye.” ujarku kemudian langsung menghentikan taxi dan pergi begitu saja.


Ethan masuk ke dalam menemani Martin dan benar saja mereka tidak lama hanya membahas sesuatu setelah itu mereka langsung kembali ke dalam mobil.


“Riana sudah pergi Presdir, katanya dia masih ada urusan.” Jelas Ethan.


“Kembalilah ke hotel dan tunda janjiku dengan Tuan Nathan.”


“Baik.”


Ethan mengemudi sambil menelpon sekretaris Om Nathan dengan menggunakan earphone di telinganya.


*DI LAIN SISI*


“Aku menerima tawaranmu.” Ujarku kemudian mematikan panggilan telepon.


“Hanya ini lah yang dapat aku lakukan saat ini.” Ujarku lagi di dalam hati.


Aku duduk di dalam taxi sambil termenung memikirkan masalah ini.


aku juga tidak mengerti kenapa Om Nathan tidak meminta bantuan dari perusahaan milikku yang di olahnya.


Apakah dana perusahaanku tidak cukup? Aku tidak mungkin menanyakannya secara tiba-tiba ke bagian keuangan karena mereka pasti akan melapor ke Om Nathan dan Om Nathan pasti akan mengira bahwa aku sedang


membutuhkan uang.


“Mbak..Mbak.. Kita sudah sampai mbak.” Ujar sang supir taxi.


“Eh iya, maaf pak.” Ujarku kemudian membayar dan masuk ke dalam hotel.


Dengan lesu aku berjalan ke kamarku dan bertemu dengan Tomy.


Tomy menghalangi jalanku dan berkata.


“Riana, aku ingin bicara denganmu.”


“Aku sedang tidak ingin bicara, maaf.” Ujarku kemudian melewatinya begitu saja.


Tomy menatapi punggungku dengan heran sampai aku menghilang dari tatapannya.


“Apa kamu sedang mendapatkan masalah?” Tanya Tomy dalam hati.


“Riana, aku pasti akan mendapatkanmu kembali.” Ujar Tomy lagi kemudian pergi dari tempat dimana dia berada tadi.


Aku masuk ke dalam kamar dan duduk di atas sofa yang ada di kamar itu.


Ketokan pintu terdengar.


Tanpa mengintip terlebih dahulu, aku membuka pintu kamar dan menemui Tomy yang sudah berdiri di depan pintu dengan tegap.


“Ada apa Tom?”


“Bolehkah aku masuk?”


“No! ada apa?”


“kalo begitu kita ke café aja gimana?”


“Tidak bisakah kamu katakan sekarang? Aku sedang lelah.”


Tomy  melaluiku masuk ke dalam kamar sambil menarik lenganku.


Tidak lupa dia juga menutup pintu kamar dengan tangannya yang satu lagi.


“Tunggu! Kamu mau ngapain?” tanyaku dengan cemas.


Tomy tersenyum sedih melihat wajahku yang cemas.


“Tenang Ri, aku gak akan memakanmu. Don’t worry.”


Mendengar ucapan Tomy, aku ngerasa sedikit bersalah.


“Sorry, I just”


“It’s okay Ri.”


Kami berdua terdiam sesaat.


Suasana di dalam kamar sangat hening sampai aku merasa aneh dan canggung.


“kamu kenapa bisa ada di sini?” tanyaku untuk mencarikan suasana.


“untuk menemuimu Ri, aku tau sekarang aku jelaskan apapun kamu tidak akan bisa percaya lagi. Tapi bisakah kita mengulang semuanya dari awal Ri?”


“Enough Tom, semuanya sudah berlalu dan aku berharap setidaknya kita masih bisa jadi teman.”


“I can’t live without you Ri, you are my everything and you know It right?”


“Sorry Tom, I can’t!”


“Why Ri? Why? Why you so cruel?! Please Ri, melihat hubungan kita yang begitu lama, beri aku satu kali kesempatan lagi. Just one more time baby.” Ujar Tomy dengan suara pelan dan matanya perlahan mengeluarkan air mata.


“Sorry Tom, kamu paling tau aku gak suka orang bohong sama aku. Kamu adalah orang paling aku percayain but you make me disappointed!”


“I’m sorry Ri!!”


“Please just let me go, I wish you happiness and we can still be friend right.” Ujarku lalu mengusap air mata Tomy dengan tanganku.


Tubuh Tomy bergetar. Tomy menarikku tubuhku ke dalam pelukannya.


Ini pertama kalinya aku melihat Tomy sesedih ini. Air mataku juga membasahi bajunya.