
Mendengar kata Tomy, hati Riana mulai merasakan perih dan dengan cepat Riana mengalihkan pembicaraan.
“Kamu kenapa ada disini?”
“Aku datang ke sini untuk bertemu denganmu dan Sam.”
“Oh, apa kamu sudah menemui Sam?”
“Belum, aku baru saja tiba di kota ini. O iya, kamu mau kemana?”
“Aku suntuk di dalam kamar jadi berencana jalan-jalan di sekitar.”
“Bagaimana kalo kita ngopi bersama?”
“Hm…Baiklah.’ Ujar Riana tanpa berpikir panjang.
Riana berjalan bersama dengan Tomy ke café yang ada di sekitar hotel.
Sesampai di café, Riana mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada Martin.
Aku keluar ngopi sebentar dengan teman.
Aku hanya bermaksud memberitahumu saja.
Setelah mengirimkan pesan, Riana menyimpan kembali ponselnya.
Selama ngopi, Tomy dan Riana hanya berbicara mengenai pekerjaan dan kehidupan keseharian masing-masing.
Tidak terasa waktu pun sudah terlewatkan beberapa jam.
“Aku ke toilet dulu ya.” Ucap Riana.
“Iya, hati-hati.” Ujar Tomy kemudian mengesap kopinya.
Tidak lama Riana kembali dari kamar mandi dan duduk kembali.
“Sudah lama kita tidak ngopi bareng seperti ini. Aku kangen sama kamu dan juga waktu kita masih bersama.”
“Tom, just let it go. I hope you can find another girl and I hope you can find your happiness.”
“Ri, is it true?”
“Hah? Maksudnya?”
Tomy menatapku dengan mata memerah.
“Apa benar kamu sudah bersama dengan Martin?”
“Hah? Kamu dengar dari siapa? Haha..” tawaku dengan canggung.
Aku mengangkat gelasku dan meneguk sisa minumanku tadi.
“Tom, aku duluan ya, aku masih ada urusan.” Ujarku lagi.
Baru saja beranjak dari kursi, aku merasa kepalaku mulai pusing.
Aku berusaha berdiri dengan tegap, tapi kepalaku merasa berat dan puyeng sehingga Tomy berdiri dan menopang tubuhku.
“kepalaku pusing banget Tom.”
“aku antarkan kamu ke rumah sakit ya?”
“Tidak usah, tolong antarkan aku kembali ke hotel aja.”
Tomy mengangkat tubuhku dan membawaku kembali ke hotel.
Aku terus berusaha untuk sadar tapi aku mulai merasakan aneh pada tubuhku.
“apakah aku demam?” gumamku.
“Apakah kamu merasa panas?” tanya Tomy.
“Iya, aku merasa tidak enak dan tubuhku sangat panas.”
“Aku akan mengantarkanmu kembali ke kamar.”
Semakin jalan, semakin merasa bahwa ada yang salah dan ada yang tidak beres.
Aku berusaha sadar dan melihat angka lift yang di tekan oleh Tomy.
“Tom, aku tinggal di lantai 8 kenapa kamu menekan lantai 5.”
Tomy hanya terdiam dan menjawab pertanyaan Riana.
Tomy membawa Riana kembali ke kamar miliknya.
“Aku mau kembali ke kamarku Tom.”
“Aku tidak tau kamarmu yang mana satu, kamu beristrirahatlah di sini dulu nanti aku akan mengantarmu kembali.”
Tomy meletakkan Riana di atas kasurnya dan ia menatap Riana dengan mata yang susah di deskripsikan.
Riana berbaring di atas kasur Tomy dengan wajah memerah.
“Panas…Aku panas banget.”
Tomy mendekat dan berbisik di telinga Riana.
“Apakah kamu merasa gerah?”
“Tolong nyalakan ac nya Tom, aku sangat panas dan gerah...hah…hah…”
Riana sudah mulai tidak sadar dengan keadaan, dia sudah mulai seperti cacing kepanasan.
“Aku akan mengambil handuk kecil untuk membasuh badanmu supaya tidak panas.” Ujar Tomy sambil beranjak ke kamar mandi.
Ponsel Riana bergetar di sampingnya.
“Ha..Hah..Halo..” ujar Riana.
“Apa yang sedang kamu lakukan?!” Tanya Martin dengan nada marah.