
Setelah pencarian selama 5 jam, akhirnya Riana di temukan di bandara.
“Loh, kenapa saya gak boleh check in mbak?”
“Maaf Bu, data ibu di sini sedang di blokir jadi ibu tidak bisa keluar kota.”
Dengan bingung Riana berbalik menarik kopernya, tidak lama Riana berjalan dia bertemu dengan Martin yang sudah berdiri di depan dengan wajah gelap.
“Martin?”
Tiba-tiba Riana baru kepikiran soal dirinya yang tidak bisa meninggalkan kota ini.
Riana melangkah mendekati Martin dan bertanya.
“Apakah ini perbuatanmu?!” tanya Riana dengan kesal.
Martin tidak menjawab, dia hanya menatap Riana dengan diam.
“Bukankah aku sudah meninggalkan pesan dan kembalikan barang-barangmu?!”
“Apa menurutmu itu yang ku butuhkan?” tanya Martin dengan marah.
Riana terdiam dan menatap wajah dingin Martin.
“Maaf, aku tidak menepati janjiku tapi aku tidak bisa berada di sini. Aku terus kepikiran dengan kejadian kemarin.” Ujar Riana dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Riana yang masih trauma, Martin menarik lengan Riana.
Riana mau tidak mau mengikuti langkah Martin.
“kamu mau bawa aku kemana?” tanya Riana yang sama sekali tidak di hiraukan oleh siapapun.
“Lepasin aku Tin!!”
Martin dengan kasar mendorong tubuh Riana masuk ke dalam mobil. Martin membawa mobil dengan kecepatan tinggi sehingga membuat Riana marah.
“Apa kau sudah gila?!”
Martin menghentikan mobilnya di sebuah lapangan kosong yang sangat besar.
Di depan terlihat Ethan sudah menunggu kedatangannya.
Martin menarik Riana turun dari mobil dan menemui Ethan.
“Presdir, Nyonya.” Sapa Ethan.
“Presdir, Helicopter akan segera tiba.”
Martin tidak menjawab Ethan, Masih dengan wajah gelap dan aura dingin yang dia pancarkan buat orang-orang di sekitar tidak berani berbicara dengannya termasuk Riana.
“ada apa dengannya?” tanya Riana dengan polos.
“Bukankah ini semua karena anda nyonya, kenapa anda malah bertanya kepada saya?” ujar Ethan dalam hati.
“Tidak tau Nyonya.” ujar Ethan dengan sopan.
Tidak gampang untuk Ethan berada di situasi seperti ini.
"Terus sekarang kita ngapain berada di sini?” tanya Riana lagi.
Baru saja Ethan mau menjawab, suara helicopter milik Martin tiba.
Martin menarik lengan Riana masuk ke dalam helicopter.
“Kamu mau membawaku kemana?” tanya Riana dengan frustasi karena sejak tadi pertanyaannya tidak di jawab oleh Martin.
Martin tidak menghiraukan Riana sampai mereka berdua tiba di Finland dan kembali ke Villa milik Martin.
“Kenapa kamu membawaku ke Finland?”
“Kamu bisa keluar dari sini kalo kamu mengganti uang penalty yang ada di kontrak ini.” ujar Martin yang meletakkan file di meja ruang tamu.
Martin meninggalkan Riana yang sedang membuka file tersebut.
Riana dengan marah menyusul Martin ke kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, Riana langsung membuka pintu kamar
Martin dan masuk ke dalam menemui Martin yang sedang berganti baju.
“Ka..kamu!”
“Ada apa?” tanya Martin dengan dingin.
Dengan wajah memerah Riana memalingkan matanya.
“sejak kapan kita ada perjanjian seperti ini?? Seingatku kemarin tidak ada perjanjian seperti ini?” tanya Riana.
“Mungkin kau tidak membacanya dengan teliti.” Jawab Martin.
“Tidak mungkin, aku masih ingat dengan jelas dan aku yakin kontrak yang ini berbeda dengan punyaku.”
“buktikan!”
“Bukankah kontrakku ada di.” Belum selesai bicara Riana teringat bahwa kontrak miliknya sudah ia berikan kepada Martin sebelum dia meninggalkan hotel.
“Kau licik!” ujar Riana dengan marah.
“perjanjian ini tidak berlaku karena kamu mengubahnya tanpa di setujui olehku!” ujar Riana lagi.