Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
56



Martin membuka paksa pintu kamar mandi dan menerobos ke dalam.


Ia menemukan Riana yang sedang menangis di bawah air shower dengan keadaan yang sangat berantakan.


Martin mengambil handuk untuk membalut tubuh Riana dan membawanya kembali ke kasur.


Martin melihat bekas yang ada di leher Riana, dia merasakan amarah yang sangat besar.


Martin menarik Riana masuk ke pelukannya.


“Tidak apa, aku ada di sini bersamamu.” Ujar Martin dengan lembut.


Riana menangis hingga tubuhnya bergetar di pelukan Martin.


Martin tidak pernah melihat wanita yang menangis seperti ini, ini pertama kalinya Martin kebingungan menghadapi situasi.


Setelah menangis cukup lama, Riana tertidur di pelukan Martin begitupun dengan Martin yang juga tertidur di kamar Riana karena menemaninya.


Tengah malam Riana mengalami mimpi buruk sehingga dia teriak mendorong Martin yang berusaha mendekatinya.


“Riana, Bangun..ini aku Martin…”


“Pergi!!!!” Teriak Riana kemudian dia tersadar dari tidurnya.


Dengan keringat yang membasahi tubuhnya dan nafas yang berat Riana menatap Martin yang ada di sisinya itu.


“Kamu kembali saja ke kamarmu, aku tidak apa-apa.”


“Tidak, aku akan menemanimu malam ini.”


“Aku ingin sendiri.”


Martin tidak bisa menolak permintaan Riana, iapun kembali ke kamarnya dan menghubungi Ethan.


“Segera cari tau nomor Samuel!”


“Baik Presdir.”


Tidak butuh waktu yang lama, Ethan mengirim nomor ponsel Sam ke Martin.


“Halo.”


“Ini aku Martin.”


“Ada apa Presdir Martin menghubungi saya tengah malam begini?”


Martin menceritakan  kejadian tadi dan hal yang menimpa Riana saat ini.


Setelah mendengar cerita dari Martin, Sam sangat marah dan ia pun segera berangkat ke hotel untuk menemui Riana dan Martin.


Sam mengebut di jalanan hingga tidak lama dia sudah berada di hotel.


“Dia berada di dalam kamar, baru saja dia memintaku keluar untuk meninggalkannya sendiri.”


“Biar aku coba.” Ujar Sam kemudian mengetuk pintu Riana dengan pelan.


“Ri, ini aku Sam, Bolehkah aku masuk?”


Tidak ada jawaban dari dalam.


“Ri, aku masuk ya? Kita bicarakan bersama.”


Masih tetap tidak ada jawaban.


Ketika pintu sudah terbuka oleh Sam, mereka berdua berjalan memasuki ruangan.


“Ri…” Panggil Sam.


Tidak ada jawaban bahkan orangnya pun tidak ada.


Dengan heran dan langkah yang besar Martin pergi ke pintu kamar mandi dan membukanya.


Dia melihat Riana sedang berada di bathtub dengan balutan kimono handuk.


Wajahnya kelihatan pucat dan tubuhnya pun melemas.


Sam melihat Martin yang berdiri di ambang pintu pun mulai mendekat.


“Apa Riana di dalam?” tanya Sam.


“Ya, kamu tunggu di sini!”


“Tidak!! Kamu yang harus keluar dari sana!!”


Martin menghiraukan ucapan Sam, dia pun melangkah ke dalam dan menutup pintu kamar mandi.


“Jangan mendekat!” ujar Riana dengan suara sangat pelan.


Riana terlihat sudah tidak bertenaga, Martin dengan langkah besar dan panik dia mendekat ke bathtub.


“Riana!!” Teriak Martin saat melihat lumuran darah yang ada di dalam bathtub.


Mendengar teriakan Martin, Sam dengan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Martin menggendong Riana keluar dari bathtub dan meminta Sam segera mengambil mobil.


“Kerumah sakit!”


Sam dengan buru-buru mengambil mobilnya dan segera mengantar Riana dan Martin ke rumah sakit terdekat.


Setiba di rumah sakit, Riana langsung di tolong oleh dokter sana dan Martin dengan Sam hanya di perbolehkan untuk menunggu di luar sana.