Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
57



Tidak lama om Nathan dan tante Mischa juga datang ke rumah


sakit setelah mendengar kabar dari Sam.


“Gimana Nak kondisi Riana?” tanya om Nathan.


“Masih dalam pertolongan Pa.” jawab Sam.


“Sebenarnya apa yang terjadi?! Kenapa Riana bisa begitu?!”


tanya tante Mischa dengan isak.


Martin berjalan mendekat.


“Maaf, ini salah saya. Tidak seharusnya saya meninggalkannya


di hotel sendirian.”


Sam memberitahukan kedua orang tuanya apa yang telah terjadi


dengan Riana.


“Tidak ku sangka Tomy bisa setega itu!” ujar Om Nathan


dengan nada Marah.


“Pa, mama gak mau tau bagaimana caranya kalian harus


selamatkan Riana!” ujar Tante Mischa dengan isak-isak.


Ethan tiba-tiba berjalan mendekat Martin dan membisikan


sesuatu di telingannya.


“Aku ada urusan sebentar, tolong jaga Riana, aku akan segera


kembali.” Ujar Martin kemudian pergi begitu saja.


Ethan membawa Martin pergi menemui Tomy yang sejak tadi di


tahan oleh Ethan.


“Untuk apa kau ingin menemuiku?” tanya Martin setelah ia


duduk di hadapan Tomy dengan bersilang kaki.


“Benarkah kau sudah menikah dengan Riana?!” tanya Tomy


dengan suara parau.


“Bukankah kau sudah tau jawabannya?” ujar Martin lagi.


“Sudah kuduga kalian tidak menikah!!Haha..”


“Kau hanya mau menipuku, dasar brengsek!” ujar Tomy kepada


Ethan.


Mendengar ucapan Tomy, Martin kembali berkata “Apakah kamu


mendengar aku menyangkalnya? Mengapa kau berpendapat bahwa kami tidak menikah?”


tanya Martin dengan senyum sinis.


“Tidak, aku tidak percaya dengan omongan kalian! Aku ingin


bertemu dengan Riana!!”


“Apa kamu pikir kamu masih dapat menemuinya setelah apa yang


kau lakukan padanya?!” tanya Martin kali ini dengan nada marah.


Tomy terdiam dan terlihat seperti sedang merenungkan


sesuatu.


“Beri dia pelajaran dan kembalikan dia ke orang tua itu!”


perintah Martin kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Martin kembali ke rumah sakit.


Baru saja tiba di pintu masuk rumah sakit, ponsel pribadi


milik Martin berdering.


“Halo Nek.” sapa Martin dengan lembut.


“Nak, aku sudah mendengar tentang Riana. Apakah dia


baik-baik saja?” tanya nenek dengan khawatir.


“Jangan khawatir Nek, dia baik-baik saja kok.”


“Apa dia berada di sampingmu saat ini Nak?”


“iya Nek, baru saja dia terlelap.”


Jaga dia baik-baik ya!”


“Iya.”


Martin masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, dan


dia pergi menemui dokter yang menangani Riana tadi.


“Selamat malam Dok, saya Suami dari pasien Riana.”


“Oh iya Pak Martin, tadi saya mencari anda tapi anda sedang


tidak berada. Saya ingin menanyakan dan menjelaskan sedikit tentang kondisi Bu


Riana.”


“Bagaimana dengan kondisinya?”


“Kondisi dia saat ini sudah membaik dan bolehkah saya tau


apakah dia sedang mengalami syok atau dia ada penyakit psycologis?”


“Kenapa anda bertanya seperti itu?”


“Saat berada di dalam ruangan operasi, dengan suara melemah


Bu Riana memohon saya untuk tidak menolongnya supaya ia dapat bertemu dengan


kedua orang tuanya. Dan tadi juga saya sempat melakukan bilas lambung karena Bu


Riana ada mengonsumsi obat tidur yang berlebihan. Saya sarankan Bu Riana untuk


menemui dokter psycologis.”


“Baik.” Ujar Martin kemudian dia pergi meninggalkan ruangan


dokter dan kembali ke ruangan dimana Riana di rawat.


Martin masuk ke dalam ruangan Riana.


“Anda sudah kembali Tuan Martin?” tanya Om Nathan.


“Iya, urusannya sudah selesai. Apakah dia sudah sadar?”


tanya Martin.


“Belum.” ujar Om Nathan dengan sedih.


“Pa, Ma, kalian pulang saja dulu nanti kalo Riana sudah


sadar, aku akan mengabari kalian.” Ujar Sam.


“Tapi Sam.”


“Ma, benar apa yang Sam bilang. Kita pulang saja dulu.”


tambah om Nathan.


“Baiklah jika begitu, tapi ingat ya Sam kalo Riana sadar


kamu harus langsung kasih tau mama dan papa.”


“Iya Ma.”


Akhirnya Om Nathan dan Tante Mischa pulang setelah berpamitan


dengan Martin.


Martin duduk di sofa sambil menatap wajah Riana yang sangat pucat


itu.


“Apa kau mau pulang istrirahat dulu? aku akan merawatnya di


sini.” Tanya Sam kepada Martin.


“Baiklah, aku akan pulang dan kembali lagi besok pagi.” Jawab


Martin setelah itu dia pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke hotel


mengurus berkas-berkas yang tertunda tadi.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Terima kasih untuk kalian yang setia menemaniku hingga saat ini.


Maafkan aku yang lama updated karena ada urusan pribadi dan kemarin juga sempat jatuh sakit.


aku akan berusaha untuk terus update buat kalian.


oiya, semoga para readersku sehat selalu dan kalian ingat untuk menjaga kesehatan kalian ya.


Stay safe and healthy yaa dear Readerku