Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 20



“Maaf Tin, aku harus pergi karena itu adalah impian aku selama ini dan ini benar-benar kesempatan yang jarang banget.”


“Tapi.”


“Aku hanya akan pergi 2 tahun setelah itu aku akan kembali mencarimu. Apa kamu mau menungguku?”


“Aku tidak akan menunggumu!”


“Kenapa Tin? Bisakah kamu tidak egois? Aku hanya ingin mengejar cita-citaku.”


“You know me so well! If you go then don’t come back!”


Perempuan itu menghapus air matanya, dia berbalik meninggalkan Martin yang masih duduk di atas sofa rumahnya itu.


FLASHBACK OFF


Selama 4 tahun ini semenjak kepergiannya, Martin terus mencari tahu tentang dirinya.


Bahkan selama kepergiaannya ini, dia tidak pernah kembali ataupun menghubungi Martin.


Nenek sering meminta kepada Martin untuk melupakannya karena berita terakhir yang di dengarkan Martin adalah dia sudah memiliki tunangan.


Martin membuang rokok yang ada di jarinya itu dan meneguk habis wine yang ada di gelasnya.



“Kamu yakin akan berangkat ke Kota B sendiri?” tanya Sam dengan cemas.


“Yakin, kamu tenang aja aku udah bukan anak kecil lagi.” Jawabku dengan santai dan bersiap-siap.


“Baiklah, kalo begitu aku akan mengantarkanmu ke bandara.” Ujar Sam dengan berat hati.


“Bukankah kamu ada operasi pasien pagi ini?” tanyaku.


“Iya tapi masih sempat kok untuk mengantarmu.” Ujar Sam sambil membawa koperku ke parkiran mobil.


Kami menuju ke bandara dan tiba 30 menit lebih awal.


“Bagaimana kalau kamu tunda aja ke Kota B?”


“Sam, tenang lah aku kemarin pulang dari Ausi juga sendirian so don’t worry okay.”


“Tapi.”


“Sudahlah, aku masuk dulu bye.”


“Baiklah, hati-hati di jalan dan ingat kabari aku jika sudah sampai.”


Di dalam pesawat aku duduk di kursi first class karena perjalanan ke kota B lumayan panjang


Tidak lama datang seorang lelaki bertubuh tegap duduk di samping kursiku.


“Bukankah dia Martin? Presdir Dragon Empire itu.” Ujarku dalam hati.


“Hmp.” Jawabnya dengan dingin.


“Nona Riana kebetulan kita bertemu lagi.” Ujar Ethan yang tiba-tiba muncul dari belakang.


“Eh iya. Sungguh kebetulan.” Ujarku dengan senyum canggung.


Martin duduk di tempatnya yang berada di sampingku sedangkan Ethan duduk di bagian belakang.


“Pak Ethan, bagaimana kalau kita bertukar tempat aja?” tanyaku dengan sopan.


“Loh, kenapa?” tanya Ethan dengan heran.


“Biar anda komunikasi dengan presdir lebih gampang, mana tau kalian ada yang perlu di bahas.”


“Oh gakpapa, kamu duduk saja di sana. Kami tidak bahas apapun kok.”


“Baiklah kalo begitu.”


Kami kembali ke urusan masing-masing.


Aku yang mendengarkan lagu, Martin yang sedang mengotak atik ipadnya sedangkan Ethan sibuk dengan laptopnya.


“Silahkan di nikmati.” Ujar pramugari itu dengan senyum ramah setelah mengantarkan satu gelas jus untukku.


“Terima kasih.” Ujarku dengan sopan.


Beberapa jam kemudian.


Pesawat tiba di bandara kota B dan Ethan membantuku menurunkan koper dan memberikannya kepadaku.


“Terima kasih Pak.”


“apa aku terlihat tua?”


“Hah?” tanyaku dengan kaget.


“Nothing, kamu panggil namaku saja, tidak perlu terlalu segan. Aku tidak suka di panggil dengan sebutan pak karena terdengar aku sangat tua.”


“oh baiklah, Ethan.” Ujarku dengan senyum kecil.


“Kamu berasal dari sini?” tanya Ethan lagi.


Kami bertiga berjalan Bersama ke pintu kedatangan, pastinya Martin berjalan di depan sedangkan aku dan Ethan di belakangnya.


“iya, Kedua orangtuaku berasal dari sini.” Melihat Tante Mischa yang sedang menunggu di depan pintu bersama Om Nathan, aku langsung berkata lagi “Hm, aku duluan ya soalnya udah di jemput sama Tanteku.”


“Baiklah, selamat jalan Riana.” Ujar Ethan dengan senyum hangat.


"Selamat jalan Ethan dan Presdir." ujarku sambil membungkukan setengah badanku.