Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 13



Aku menyesap susu yang ada di tanganku setelah itu aku mulai menceritakan kejadiannya kepada mereka berdua.


Setelah mendengarnya, Nina sangat marah dengan sikap mamanya Tomy.


“Supaya apa coba dia datang kesini untuk memintamu melepaskan Tomy, kemudian dia masih nanya alasan kenapa?! Kok gue ngerasa lucu ya!” Ujar Nina dengan emosi.


“Terus lo beneran mau putus sama Tomy?” tanya Nina lagi.


“Iya Nin, gue beneran mau putus sama dia bukan karena permintaan nyokapnya tapi karena hubungan kami berdua sudah tidak ada kejujuran lagi, jadi buat apa di pertahanin lagi.”


“Kamu yakin tidak mau mendengarkan penjelasannya dulu.” Tambah Sam.


“Sam, you know me so well.”


Sam menghela napas dengan pelan.


“Okei, gue bakal ngedukung apapun yang sudah menjadi keputusanmu.” Tambah Sam lagi.


Nina dan Sam sama-sama tau bahwa ada beberapa masalah yang tidak ingin Riana ceritakan.


Mereka hanya cukup tau bahwa hubungan antara Riana dan Tomy sudah tidak ada kejujuran lagi sisanya Riana menelannya sendiri.


Riana pergi ke rumah sakit barengan dengan Sam.


Sebelum kembali keruangannya, Sam mengantarkan Riana ke ruangan om Adi terlebih dulu.


Di depan pintu kamar VIP, Riana mengetuk pintu kemudian langsung membuka pintu kamar setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan.


Riana berjalan masuk dan disusuli Sam dengan membawa satu buah keranjang yang berisi buah-buahan.


Semua berada di dalam ruangan termasuk Joan.


Tomy melihat kedatangan Riana, dia sedikit kaget dan langsung berjalan menghampiri Riana sedangkan Sam berjalan ke samping meja dan meletakkan buah yang dia pegang.


“Sayang, Kamu ke sini kok ga ngabarin aku dulu?” ujar Tomy dengan pelan kemudian memeluk pinggangku.


Aku tersenyum kecil terhadap Tomy dan dengan sengaja aku berjalan ke sisi tante Clara untuk menghindari sentuhan Tomy. Wajah Tomy sedikit tidak senang karena dia tau bahwa saat ini aku sedang menghindarinya.


“Om, gimana keadaannya?” Tanyaku dengan sopan.


“Sudah mendingan dari pada kemarin. Terima kasih Riana, kamu sudah datang menjenguk om.” Ujar Om Adi.


“Jangan berkata seperti itu Om, sudah seharusnya Riana datang menjenguk.”


“Iya makasih juga ya buat buah-buahannya.” Ujar Tante Clara dengan senyuman kecil.


“Sama-sama Tan” ujarku.


Aku menoleh ke arah dimana Tomy berdiri saat ini.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanyaku dengan datar.


“Hmp, ayo kita bicarakan di luar aja.”


“Baiklah.”


“Pa, Ma, Tomy sama Riana keluar sebentar ya.” pamit Tomy kepada kedua orang tuanya.


“Hmp. Baiklah Nak.” Ujar Tante Clara.


“Tante, Om, kalo begitu Riana sekalian pamit dan permisi dulu ya.” Tambahku lagi


“Iya, hati-hati ya.” Ujar Tante Clara dengan lembut.


Tante Clara sama Om Adi tau bahwa kami berdua sangat membutuhkan waktu untuk berbicara. Jadi walaupun ada Joan, mereka tetap berharap bahwa kami bisa bicara dan putus secara baik-baik.


Aku dan Tomy keluar dari kamar papanya kemudian lanjut berjalan sampai ke taman rumah sakit.


Kami berdua duduk di salah satu kursi yang berada di sana.


“Sayang, apakah kamu masih marah? Sekali lagi aku minta maaf sama kamu dan I want to explain.”


Aku menghela napas pelan kemudian baru menatap wajah Tomy penuh dengan keseriusan.


“Sebenarnya kedatanganku hari ini bukan untuk mendengar permintaan maafmu juga bukan untuk penjelasanmu.


aku rasa aku harus ke sini bertemu denganmu untuk mengakhirinya. Tom, I want to break up!”


Tomy beranjak dari kursi dan menatap kedua mataku dengan raut wajah tidak percaya.


“No,No,No Ri..Aku gak setuju! Kamu tidak boleh mengambil keputusan seperti ini!Aku tau aku salah tapi bukan dengan cara ini kamu menghukumku!”


Tomy mengusap wajahnya dengan kasar, ia terlihat sedang menenangkan dirinya.


“Please Ri, dengarkan penjelasan aku dulu yaa? Aku gak bermasuk untuk nutupinnya dari kamu, aku cuma.”


Belum selesai Tomy bicara, aku memotongnya.


“Penjelasan? Penjelasan apa lagi yang mau kamu katakan? Penjelasan bagaimana kamu membohongiku?” tanyaku dengan lirih.


“Aku akui aku memang salah karena tidak menolak saat Joan menciumiku.”


Mendengar akuan Tomy, hatiku semakin sakit. Air mata yang ku tahanpun mulai jatuh.