Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 32



Saat pintu lift terbuka, aku tidak sengaja bertemu dengan


Joan yang sedang membawa kopernya untuk memasuki lift. Tampaknya seperti baru


tiba di kota B untuk menyusul Tomy.


“Kak Riana?” ucapnya secara tiba-tiba dengan wajah yang


terkejut.


Aku hanya tersenyum kecil dan berjalan melewatinya saja


bersama dengan Martin.


Kami mengendarai mobil maserati yang di sewa oleh


Martin selama beberapa hari ini.


“Maaf Presdir, Kita mau kemana?” tanyaku.


“Pergilah ke Butik Nyonya Chang”


“Baik.”


Aku mengemudi dengan pelan karena saat ini Martin sedang


rapat video dengan Ethan dan yang lainnya.


Perjalanan yang hanya memerlukan waktu 30 menit menjadi 45


menit karena sambil menunggu Martin hingga selesai. Setelah Martin mematikan


laptopnya, kami berdua berjalan memasuki butik milik nyonya Chang dan langsung


di layani oleh dirinya sendiri.


“Selamat datang Presdir Martin, perkenalkan saya Nyonya


Chang pemilik butik ini.”


“Hmm.”


Martin hanya berdeham pelan kemudian jalan masuk melewati


Nyonya Chang.


“Selamat datang Nona Riana, sudah lama anda tidak main ke


sini.”


“Iya Tante, aku baru saja pulang dari luar negeri jadi


begitulah.”


“Hari ini kamu datang mencari apa? Apakah dia pacarmu?”


tanya Nyonya Chang dengan memperkecil suaranya.


“Bukan Tan, dia Bos saya dan kami ke sini karena.” Aku


menatap Martin dan Martin langsung menjawabnya.


“Saya mencari jas dan gaun untuk wanita ini.”


“Baik, kalo begitu silahkan ke sebelah sini.”


Aku mengikuti Martin masuk ke dalam ruangan VIP kemudian


mereka mempersilahkan kami duduk di sofa yang ada di tengah-tengah ruangan.


“Berikan gaun yang terbaru kepada Nona Riana dan jas kepada


Tuan Martin.” Perintah Nyonya Chang kepada karyawatinya.


Aku tersenyum kearah Nyonya Chang kemudian menoleh kearah


Martin yang sejak dari tadi menatapku dengan tajam.


“Ada apa Presdir? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanyaku


sambal menyentuh wajah.


“Kau mengenal pemilik toko ini?” tanyanya.


“Ya, dulu aku selalu kesini.”


baju jas untuk Martin. Dengan tidak sadar aku langsung beranjak dan membantunya


untuk memilih. Saat aku menyadarinya dengan canggung aku berbalik menghadap


Martin.


“Maaf, aku…”


“Tidak masalah, kamu bantu aku pilih yang cocok dengan


gaunmu.”


“Baik Pak.”


Aku kembali memilih jas untuk dikenakan Martin dan gaun


untukku sendiri.


Kami berdua masing-masing pergi ke ruang ganti dan


mencobanya.


“Ehh… tunggu sebentar” baru saja berniat menghentikan mereka


tetapi tirai sudah terbuka lebar.


Martin yang sudah siap berganti terdiam saat melihat


penampilanku.


“ternyata wanita ini sangat cantik.” Gumam Martin di dalam


hati.


Saat ini aku memakai gaun yang sangat indah. Gaun tersebut


terdapat belahan di dada dan bagian paha sehingga gaun ini membuatku terlihat


sangat menawan.


“Kalian terlihat sangat serasi.” ujar nyonya Chang dengan


wajah berseri setelah melihat penampilan kami berdua.


“Benar Bu, yang laki-laki sangat tampan, yang perempuan juga


cantik banget.”


“Iya iya, mereka terlihat sangat menawan.” Seru karyawan


nyonya Chang.


Mendapat begitu banyak pujian, aku tersipu malu.


Martin berjalan ke arah Nyonya Chang dan memberikannya


sebuah kartu hitam.


“Kami ambil yang ini saja.”


“Baik Tuan.” Ujar nyonya Chang langsung pergi meninggalkan


kami berdua.


Setelah semuanya selesai, kami berdua keluar dari butik


nyonya Chang.


“Aku yang akan mengemudi,berikan aku kunci mobilnya.”


“tapi Pak saya bisa mengendarainya walaupun berpakaian


seperti ini.”


“Panggil nama saya dan sekarang kamu adalah pasanganku bukan


sekretarisku.”


“Baik pak.”


Martin menatapku dengan tajam.


“Baik Martin.” Ujarku lagi dengan senyum paksa.