
Saat pintu lift terbuka, aku tidak sengaja bertemu dengan
Joan yang sedang membawa kopernya untuk memasuki lift. Tampaknya seperti baru
tiba di kota B untuk menyusul Tomy.
“Kak Riana?” ucapnya secara tiba-tiba dengan wajah yang
terkejut.
Aku hanya tersenyum kecil dan berjalan melewatinya saja
bersama dengan Martin.
Kami mengendarai mobil maserati yang di sewa oleh
Martin selama beberapa hari ini.
“Maaf Presdir, Kita mau kemana?” tanyaku.
“Pergilah ke Butik Nyonya Chang”
“Baik.”
Aku mengemudi dengan pelan karena saat ini Martin sedang
rapat video dengan Ethan dan yang lainnya.
Perjalanan yang hanya memerlukan waktu 30 menit menjadi 45
menit karena sambil menunggu Martin hingga selesai. Setelah Martin mematikan
laptopnya, kami berdua berjalan memasuki butik milik nyonya Chang dan langsung
di layani oleh dirinya sendiri.
“Selamat datang Presdir Martin, perkenalkan saya Nyonya
Chang pemilik butik ini.”
“Hmm.”
Martin hanya berdeham pelan kemudian jalan masuk melewati
Nyonya Chang.
“Selamat datang Nona Riana, sudah lama anda tidak main ke
sini.”
“Iya Tante, aku baru saja pulang dari luar negeri jadi
begitulah.”
“Hari ini kamu datang mencari apa? Apakah dia pacarmu?”
tanya Nyonya Chang dengan memperkecil suaranya.
“Bukan Tan, dia Bos saya dan kami ke sini karena.” Aku
menatap Martin dan Martin langsung menjawabnya.
“Saya mencari jas dan gaun untuk wanita ini.”
“Baik, kalo begitu silahkan ke sebelah sini.”
Aku mengikuti Martin masuk ke dalam ruangan VIP kemudian
mereka mempersilahkan kami duduk di sofa yang ada di tengah-tengah ruangan.
“Berikan gaun yang terbaru kepada Nona Riana dan jas kepada
Tuan Martin.” Perintah Nyonya Chang kepada karyawatinya.
Aku tersenyum kearah Nyonya Chang kemudian menoleh kearah
Martin yang sejak dari tadi menatapku dengan tajam.
“Ada apa Presdir? Apa ada sesuatu di wajahku?” tanyaku
sambal menyentuh wajah.
“Kau mengenal pemilik toko ini?” tanyanya.
“Ya, dulu aku selalu kesini.”
baju jas untuk Martin. Dengan tidak sadar aku langsung beranjak dan membantunya
untuk memilih. Saat aku menyadarinya dengan canggung aku berbalik menghadap
Martin.
“Maaf, aku…”
“Tidak masalah, kamu bantu aku pilih yang cocok dengan
gaunmu.”
“Baik Pak.”
Aku kembali memilih jas untuk dikenakan Martin dan gaun
untukku sendiri.
Kami berdua masing-masing pergi ke ruang ganti dan
mencobanya.
“Ehh… tunggu sebentar” baru saja berniat menghentikan mereka
tetapi tirai sudah terbuka lebar.
Martin yang sudah siap berganti terdiam saat melihat
penampilanku.
“ternyata wanita ini sangat cantik.” Gumam Martin di dalam
hati.
Saat ini aku memakai gaun yang sangat indah. Gaun tersebut
terdapat belahan di dada dan bagian paha sehingga gaun ini membuatku terlihat
sangat menawan.
“Kalian terlihat sangat serasi.” ujar nyonya Chang dengan
wajah berseri setelah melihat penampilan kami berdua.
“Benar Bu, yang laki-laki sangat tampan, yang perempuan juga
cantik banget.”
“Iya iya, mereka terlihat sangat menawan.” Seru karyawan
nyonya Chang.
Mendapat begitu banyak pujian, aku tersipu malu.
Martin berjalan ke arah Nyonya Chang dan memberikannya
sebuah kartu hitam.
“Kami ambil yang ini saja.”
“Baik Tuan.” Ujar nyonya Chang langsung pergi meninggalkan
kami berdua.
Setelah semuanya selesai, kami berdua keluar dari butik
nyonya Chang.
“Aku yang akan mengemudi,berikan aku kunci mobilnya.”
“tapi Pak saya bisa mengendarainya walaupun berpakaian
seperti ini.”
“Panggil nama saya dan sekarang kamu adalah pasanganku bukan
sekretarisku.”
“Baik pak.”
Martin menatapku dengan tajam.
“Baik Martin.” Ujarku lagi dengan senyum paksa.