
Martin menatapku yang masih menangis terisak di atas kasur.
Merasa di tatapi oleh Martin, aku mengangkat kepalaku menatapnya.
“Aku merindukan Papi dan Mami, bolehkah kau membawaku menemui mereka?”
Martin menutup kedua matanya kemudian dia menghela napas dengan panjang.
Dia duduk di samping kasur dan memelukku dengan erat sambil berkata di atas kepalaku.
“Aku tidak bisa membawamu menemui mereka karena mereka juga sudah tenang di alam sana.
Percayalah bahwa aku mempercayaimu. Aku percaya bahwa kamu tidak pernah melakukannya.”
“Benarkah? Benarkah kamu mempercayaiku?”
“Iya, aku percaya padamu.”
“Tapi mereka tidak mempercayaiku! Mereka terus menghujatku.” Ujarku lagi.
“Tenanglah, mulai hari ini aku berjanji tidak akan ada yang menghujatmu lagi!”
“Terima kasih.” Ujarku sambil menghapus air mataku.
Martin melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tanda tanya.
“Untuk?” tanya Martin dengan ragu.
“Terima kasih udah percaya sama aku, aku melihat keyakinan di dalam kedua matamu bahwa kamu benar percaya sama aku, thank you Tin.”
Martin menatapku dengan sesama untuk memastikan bahwa aku sudah baik-baik saja.
“Istrirahatlah, aku akan di sini menemanimu.”
Riana menuruti perkataan Martin. Dia pun tertidur dengan pulas, sedangkan Martin tidur di sofa yang ada di samping kasur itu.
Tengah malam Riana terbangun dan menemukan Martin yang tidur di sofa.
Merasa bersalah karena sudah menyusahkan Martin karena keadaannya, Riana beranjak menyelimuti Martin dengan selimut. Tak di sangka malah membangunkan Martin.
“Maaf, aku sudah membangunkan anda Presdir.”
“Kamu sudah sadar?” tanya Martin yang juga beranjak dari sofa itu.
“Hm, maaf sudah menyusahkanmu.”
“Tidak masalah, kalo begitu aku kembali ke kamar dulu.”
“Baik, sekali lagi terima kasih Presdir.”
Martin berjalan sampai depan pintu, tanpa membalikkan badannya dia berkata
“Masa lalu biarkanlah dia berlalu, tidak perlu peduli sama apa kata orang selama kamu tidak melakukannya.”
Selesai berbicara, Martin kembali ke kamarnya sedangkan Riana menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu.
Riana kembali ke kasur dan memikirkan kejadian semalam dan kata-kata Martin barusan.
“gimana kondisi Riana?”
“I’m fine Sam.”
“Astaga tuan putri, sebenarnya apa yang terjadi?”
Aku menceritakan semuanya ke Sam dan Sam marah besar.
“Coba aja gue ada di sana, pasti gue butain tuh orang.” Sewot Sam.
“sebenarnya aku tengah malam begini telpon karena aku ingin minta tolong sama kamu.”
“tolong apa?”
“jadwalkan aku sama dokter psycologist itu.”
“What? Are you sure?!” tanya Sam dengan kaget.
“Absolutely yes, why?”
“Finally Ri, setelah beberapa tahun ini akhirnya kamu mau juga.”
“Hm, kita akan bicarakan lagi setelah aku pulang besok.”
“Baiklah, kamu istrirahat aja dulu sekarang.”
“Hm. Bye sam.” Ujarku kemudian mematikan panggilan.
….
Setelah pamit dengan Om Nathan dan Tante Mischa, aku kembali ke Kota A bersama dengan Martin.
Baru saja tiba di kota A, Ethan sudah terlihat di pintu kedatangan.
Ethan berjalan mendekati kami dan mengambil koper milik Martin dari tangannya.
“Presdir.” Panggil Ethan dengan hormat.
Martin dengan angkuh jalan di depan kami berdua.
“Riana, terima kasih untuk beberapa hari ini. Maaf sudah menyusahkanmu untuk menjadi sekretaris Presdir.”
“Tidak masalah Ethan, kamu tidak perlu sungkan.”
“Lusa kamu langsung datang ke kantor aja untuk melapor, aku sudah beritahu HRD semuanya.”
“Baik, kalo gitu aku permisi dulu ya. Aku masih ada urusan.”
“Hm.”
“Presdir.” Panggilku yang membuat Martin menghentikan langkahnya.
“Presdir, aku permisi dulu ya arena ada urusan.”
“Hm.” Dengan dingin dan acuh Martin menjawab Riana.