Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
45



Aku mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi Nina.


“Halo Ri, gimana? Kamu sudah dapat kabar Sam?”


“Aku sudah dapat kabarnya, kamu dimana sekarang?”


“Aku lagi di apartemen, kamu baik-baik saja?”


“Hm, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin berbicara denganmu.”


Aku menceritakan semuanya ke Nina termasuk kejadian di Kota B.


Dia masih melongo tidak percaya kearahku.


“Serius Ri! Kalo bukan gue tau sifat lo mungkin gue mengira bahwa lo lagi bercanda.”


“Hais, hidup gue dramatis kali ya.” Ujarku dengan lemas.


“iya, kayak cerita di komik atau novel gitu coy.” Seru Nina.


“Jadi menurut lo, gue harus gimana?”


“Hm, sebagai sahabat gue pasti dukung keputusan yang akan lo ambil tapi sebagai teman lo dan Sam, gue yakin Sam enggak bakal setuju dan bakalan marah kalo tau lo setuju nikah sama Martin bukan karena cinta.” Jelas Nina.


“Makanya dari itu dia gak boleh tau soal ini.”


“Terus lo maunya gimana?” tanya Nina balik.


“Jangan di tanya lagi, otak gue blank liat nanti deh gimana.”


“May I know what do you think right now?”


“Hm, gue hanya mikir how to rescue the company! I just…I don’t know.”


“Wait for me, aku ke apartemenmu sekarang juga.”


“Hm.”


Aku meninggalkan ponsel di meja dan aku pergi berendam di dalam bathtub.


Selesai mandi aku mengecek ponsel yang ku tinggalkan tadi.


Sekali menyalakan layar, aku terkejut mendapat 3x missed call dari Sam.


Aku kembali menghubunginya dan baru saja berdering Sam sudah mengangkatnya.


“Hi, sorry tadi aku lagi di kamar mandi.”


“Aku kira kamu sudah tidur.”


“Kamu lg dimana sekarang Sam?”


“Baru saja nyampe rumah, kamu udah makan Ri?”


“Udah, kamu sendiri udah makan?”


“Belum.”


“Kenapa belum? gimana dengan Om Nathan dan Tante Mischa?”


“Mereka..”


Brukk!


“Sam..Sam.. Suara apa itu Sam?”


“Aku akan menghubungimu lagi Ri!”


Sam mematikan panggilan begitu saja.


Aku sangat khawatir sampai langsung mencari tiket untuk ke Kota B.


Pesawat untuk malam ini sudah tidak ada, jadi aku harus menunggu hingga esok hari.


Aku segera mengeluarkan koper.


Baru saja mau berkemas, Sam kembali menghubungiku.


“Sam, what happen? Tadi itu suara apa?”


“gak ada apa-apa kok Ri, kamu gak usah khawatir ya.”


“Kamu bohong Sam! Apa terjadi sesuatu dengan Om Nathan?”


Sam terdiam dan tidak menjawab.


“Never mind, besok aku pergi dan lihat sendiri saja.”


Sam menghela napas panjang kemudian baru dia berkata


“Papa kena serangan jantung.”


Mendengar berita itu aku langsung kehilangan kestabilan sampai aku jatuh di kursi meja makan.


“Ri, Riana, are you okay?”


“A..Aku baik-baik aja kok, terus sekarang gimana keadaan Om Nathan?”


“Udah gakpapa kok, kamu jangan khawatir ya dan aku bakal update terus ke kamu, okay?”


“Okay, kamu istrirahat aja dulu.”


“Hm, goodnight Ri.”


“Goodnight Sam,Bye.”


Aku termenung beberapa saat setelah panggilan di matikan.


Setelah berpikir, aku memutuskan untuk menghubungi Martin.


“Aku setuju, ayok kita menikah.”


“Siapkan dokumennya! Besok kita menikah.”


“What? Besok? Apa tidak terlalu buru-buru?”


Martin mematikan panggilannya dan bel pintu pun terdengar.


Baru saja membukakan pintu, aku memeluk Nina dengan erat.


“Kenapa Ri? Bukankah barusan kamu masih baik-baik saja?”


Aku menceritakan kejadian barusan ke Nina dan dengan shock Nina bertanya.


“Kamu yakin beb?”