Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 33



Selama perjalanan kami hanya terdiam saja sampai tiba di


villa milik Direktur Alex.


Aku merangkul lengan Martin dan berjalan memasuki villa


tersebut.


Berpuluh mata menatap kearah kami. Bahkan terdengar beberapa


bisikan pujian.


Aku mengikuti Martin menyapa para direktur sampai saat aku


permisi untuk ke kamar kecil.


“Huh, pegal banget ini kaki.” Gumamku sambil memijit kedua


kakiku.


Aku kembali untuk mencari Martin tapi di pertengahan jalan,


aku bertemu dengan seorang Direktur yang sudah mabuk.


“Hai cantik, malam ini kamu temani saja aku, apapun yang


kamu mau aku akan memberikannya.”


“Maaf Tuan, anda sudah mabuk.”


“Saya tidak mabuk, saya sudah perhatiin kamu sejak dari


tadi.”


“Maaf, saya permisi dulu.”


“Jangan pergi donk sayang, sini temanin om dulu. Tubuhmu


sangat indah.” Ujarnya sambil berjalan mendekatiku.


“Jangan mendekat atau aku akan teriak!” ujarku dengan takut.


“Tenang gadis kecil, aku akan pelan-pelan dan anda cukup


menikmatinya saja.” Ujarnya dengan memegang lenganku.


“Lepaskan aku!” teriakku.


Martin POV


“Kenapa wanita itu sangat lama ya?” gumam Martin dalam hati


sambil mencari sosok Riana.


“Apakah dia tersesat?” tanya Martin lagi di dalam hati.


“Tuan…Tuan Martin.” Panggil salah satu lelaki.


“Hah?”


“Eh itu Tuan, saya berharap suatu hari dapat bekerja sama


dengan anda.”


“Baik, maaf saya permisi dulu.”


Martin berjalan meninggalkan lelaki itu dan berjalan ke


kamar mandi untuk mencari Riana.


Di perjalanan, Martin mendengar suara teriakan Riana


sehingga dia mempercepat langkahnya.


Saat tiba,Martin melihat Riana sedang di paksa oleh seorang


pria mabuk.


Dengan emosi, dia melemparkan satu pukulan ke wajah pria


itu.


Pria itu terjatuh kemudian dia bangkit lagi.


sebelum berbalik badan dan bertemu dengan wajah gelap Martin.


“Tu..Tuan Martin…sa..sa..saya di goda wanita ini”


“anda di goda oleh wanita ini?” tanya Martin dengan wajah


semakin menggelap.


“Be..benar Tuan. Di..dia..”


“Apa anda berpikir bahwa pasanganku akan lebih memilih anda


daripada saya?” tanya Martin dengan dingin.


Mendengar pertanyaan Martin, Pria itu melemas dan berlutut


di hadapan Martin.


“Tuan saya minta maaf, saya tidak tau bahwa dia adalah


pasangan anda dan tolong ampuni saya Tuan.” Ujarnya dengan memohon.


Martin berjalan melewati pria itu


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Martin dengan lembut.


“Tidak Tuan, terima kasih.” Ujarku dengan sedikit kaget


dengan kejadian barusan.


Martin membuka Jasnya dan dipakaikannya untukku dan dia juga


menggenggam telapak tanganku serta membawaku pergi dari villa direktur Alex.


Sebelum meninggalkan acara tersebut, kami berpamitan


terlebih dahulu dengan direktur Alex.


“Kamu tunggu aku di mobil.” Ujar Martin sambil menyodorkan


kunci mobil kepadaku.


Aku mengangguk dengan pelan dan berjalan meninggalkan Martin


yang masih bicara bersama direktur Alex dengan wajah gelapnya itu.


Saat berada di mobil, ponselku berdering dan itu panggilan


dari Ethan.


“Kenapa Ethan?”


“Apakah Presdir ada di sampingmu?”


“Tidak, aku sedang menunggunya di dalam mobil. Apa ada yang


mau kamu sampaikan kepada Presdir?”


“Katakanlah kepada Presdir bahwa wanita itu sudah kembali


dan dia akan menghadiri acara Direktur Alex.”


“Wanita?”


“Kamu cukup memberitahu Presdir dan dia akan mengerti


maksudku itu.”


“Baiklah, aku akan segera memberitahunya.”


“Tunggu Riana!”


“Ya, kenapa Ethan?”


“Malam ini aku harap kamu menemani Presdir dan apapun yang


terjadi tetaplah bersamanya.”


“Hah? Baiklah.”