
Selama perjalanan kami hanya terdiam saja sampai tiba di
villa milik Direktur Alex.
Aku merangkul lengan Martin dan berjalan memasuki villa
tersebut.
Berpuluh mata menatap kearah kami. Bahkan terdengar beberapa
bisikan pujian.
Aku mengikuti Martin menyapa para direktur sampai saat aku
permisi untuk ke kamar kecil.
“Huh, pegal banget ini kaki.” Gumamku sambil memijit kedua
kakiku.
Aku kembali untuk mencari Martin tapi di pertengahan jalan,
aku bertemu dengan seorang Direktur yang sudah mabuk.
“Hai cantik, malam ini kamu temani saja aku, apapun yang
kamu mau aku akan memberikannya.”
“Maaf Tuan, anda sudah mabuk.”
“Saya tidak mabuk, saya sudah perhatiin kamu sejak dari
tadi.”
“Maaf, saya permisi dulu.”
“Jangan pergi donk sayang, sini temanin om dulu. Tubuhmu
sangat indah.” Ujarnya sambil berjalan mendekatiku.
“Jangan mendekat atau aku akan teriak!” ujarku dengan takut.
“Tenang gadis kecil, aku akan pelan-pelan dan anda cukup
menikmatinya saja.” Ujarnya dengan memegang lenganku.
“Lepaskan aku!” teriakku.
Martin POV
“Kenapa wanita itu sangat lama ya?” gumam Martin dalam hati
sambil mencari sosok Riana.
“Apakah dia tersesat?” tanya Martin lagi di dalam hati.
“Tuan…Tuan Martin.” Panggil salah satu lelaki.
“Hah?”
“Eh itu Tuan, saya berharap suatu hari dapat bekerja sama
dengan anda.”
“Baik, maaf saya permisi dulu.”
Martin berjalan meninggalkan lelaki itu dan berjalan ke
kamar mandi untuk mencari Riana.
Di perjalanan, Martin mendengar suara teriakan Riana
sehingga dia mempercepat langkahnya.
Saat tiba,Martin melihat Riana sedang di paksa oleh seorang
pria mabuk.
Dengan emosi, dia melemparkan satu pukulan ke wajah pria
itu.
Pria itu terjatuh kemudian dia bangkit lagi.
sebelum berbalik badan dan bertemu dengan wajah gelap Martin.
“Tu..Tuan Martin…sa..sa..saya di goda wanita ini”
“anda di goda oleh wanita ini?” tanya Martin dengan wajah
semakin menggelap.
“Be..benar Tuan. Di..dia..”
“Apa anda berpikir bahwa pasanganku akan lebih memilih anda
daripada saya?” tanya Martin dengan dingin.
Mendengar pertanyaan Martin, Pria itu melemas dan berlutut
di hadapan Martin.
“Tuan saya minta maaf, saya tidak tau bahwa dia adalah
pasangan anda dan tolong ampuni saya Tuan.” Ujarnya dengan memohon.
Martin berjalan melewati pria itu
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Martin dengan lembut.
“Tidak Tuan, terima kasih.” Ujarku dengan sedikit kaget
dengan kejadian barusan.
Martin membuka Jasnya dan dipakaikannya untukku dan dia juga
menggenggam telapak tanganku serta membawaku pergi dari villa direktur Alex.
Sebelum meninggalkan acara tersebut, kami berpamitan
terlebih dahulu dengan direktur Alex.
“Kamu tunggu aku di mobil.” Ujar Martin sambil menyodorkan
kunci mobil kepadaku.
Aku mengangguk dengan pelan dan berjalan meninggalkan Martin
yang masih bicara bersama direktur Alex dengan wajah gelapnya itu.
Saat berada di mobil, ponselku berdering dan itu panggilan
dari Ethan.
“Kenapa Ethan?”
“Apakah Presdir ada di sampingmu?”
“Tidak, aku sedang menunggunya di dalam mobil. Apa ada yang
mau kamu sampaikan kepada Presdir?”
“Katakanlah kepada Presdir bahwa wanita itu sudah kembali
dan dia akan menghadiri acara Direktur Alex.”
“Wanita?”
“Kamu cukup memberitahu Presdir dan dia akan mengerti
maksudku itu.”
“Baiklah, aku akan segera memberitahunya.”
“Tunggu Riana!”
“Ya, kenapa Ethan?”
“Malam ini aku harap kamu menemani Presdir dan apapun yang
terjadi tetaplah bersamanya.”
“Hah? Baiklah.”