Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
55



“To..Tolong aku..Hah..Hah..Aku…Panas…”


“Kamu dimana sekarang?!” tanya Martin lagi dengan menggenggam ponselnya dengan erat.


Belum terjawab oleh Riana, panggilan sudah di tutup oleh Tomy.


Melihat nama Martin yang muncul di layar ponsel Riana, Tomy merasa hatinya mulai panas sehingga dia  meleparkan ponsel Riana ke tembok.


“To..Tolong aku..” ujar Riana lagi.


Tomy mendekat dan membelai wajah Riana dengan pelan.


“Setelah hari ini, kamu akan menjadi milikku seutuhnya.” Ujar Tomy kemudian mengecup kening Riana.


Merasa kecupan Tomy, Riana mulai merangkul leher Tomy.


“Aku akan membantumu sayang supaya kamu tidak merasakan panas lagi.” Ujar Tomy di telinga Riana.


Riana mendengar ucapan Tomy barusan, dia mulai sedikit sadar bahwa Tomy sudah menaruh obat di minumannya tadi.


“Kamu lepasin aku Tom!! Kamu bajingan!!”


“Bukankah kamu meminta tolong kepadaku?! Bukankah kamu gerah?? Aku akan membantu melepaskan pakaianmu dulu supaya tidak panas.”


“Kamu gila Tom!!!”


“Haha..Iya aku sudah gila dan aku gila karenamu.” Ujar Tomy dengan senyum mengerikan.


Tubuh Riana semakin tidak bertenaga.


“Pergi!! Jangan sentuh aku!!” ujarku sambil mencubit pahaku supaya sadar.


“kamu akan merasa baikan dengan sentuhanku.”


“Tidak!!! Lepas Jangan sentuh aku!!!!”


“Aku tidak akan melepaskanmu Ri, setelah hari ini kita akan bersama selamanya dan kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku.”


“Jangan! Pergi! Lepaskan aku Tom!”


“Jangaaaaaan!” Tomy mulai merobek bajuku.


“Toloooong!” teriakku dengan sekuat tenaga.


“Apakah ini adalah akhir dari semuanya?” pikir Riana sambil menitikan air mata.


“Please stop Tom!!!!” ujar Riana dengan suara serak.


Tomy tidak menghiraukan Riana, Tomy mulai melepas pakaiannya dan mencumbu leher Riana.


“Tom!! Hiks..hiks..tolong hentikan!!!” pinta Riana lagi.


BRAKK!!!! Suara pintu kamar terbuka.


Martin dan Ethan menerobos masuk ke dalam kamar, mereka menemukan aku dan tomy yang sedang berada di atas kasur. Tomy yang sudah bertelanjang dada sedangkan Riana berada di bawah Tomy dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Martin mengepalkan tangannya dan memberi satu pukulan keras ke wajah Tomy.


“Brengsek!!” ujar Martin dengan wajah menggelap.


Tomy terjatuh ke bawah kasur dan Martin langsung menarik selimut untuk menutupiku.


Ethan berjalan ke samping dimana tempat Tomy terjatuh dia tadi. Ethan menarik kera baju Tomy dan kembali memberinya pukulan.


Marrin melihat Riana yang berantakan, dia menggendong Riana kembali ke kamar mereka berdua.


Martin dengan pelan menaruh Riana di atas kasur. Martin tidak tau harus bagaimana untuk menghibur Riana jadi dia hanya menatap Riana dengan lembut.


“To..Tolong ting…tinggalkan aku.” Ujar Riana dengan terbata-bata.


Martin tau saat ini apapun yang akan di katanya tidak akan di dengar oleh Riana, jadi dia beranjak keluar meninggalkan Riana sendiri.


Melihat Martin sudah keluar kamar, Aku menangis histeris di dalam kamar.


Ia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Dia tidak pernah berpikir bahwa Tomy akan berbuat seperti itu terhadapnya. Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai itu aku berdiri di depan cermin dan melihat bekas yang di tinggalkan oleh Tomy.


Aku menangis di dalam kamar mandi sampai Martin kembali mengetuk pintuku.


“PERGI!!! TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!” teriak Riana.


“Kamu keluar sekarang atau aku masuk?!!” tanya Martin dengan acuh.


“Please tinggalin aku sendiri!!! Aku mohon…” pinta Riana dengan suara lemah.