Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
42



“Bisakah anda memberikan aku waktu untuk berpikir?”


“Baik, aku akan memberimu 1 hari.”


Aku mengiyakan Martin dengan menganggukan kepalaku dengan pelan.


Dengan canggung kami berdua berjalan kembali ke ruangan nenek.


Setelah berbincang sebentar, aku berpamitan dengan nenek karena harus kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, sedangkan Martin tetap di rumah sakit menemani Neneknya.


Malam harinya saat di rumah, aku memikirkan permintaan Martin tadi.


Semakin di pikir aku semakin merasa bahwa ini sudah di rencanakan olehnya sejak awal. Jika tidak bagaimana mungkin aku semalam kerja dengan baik tiba-tiba esok harinya langsung menjadi sekretaris pribadinya.


“Tapi kebohongan ini harus di mainkan sampai kapan? Bagaimanapun dia juga termasuk cucu yang berbakti kepada neneknya.” Gumamku.


“baiklah, karena demi kebaikan neneknya aku akan membantunya kali ini selama tidak melanggar hukum dan tidak keterlaluan.” Gumamku lagi


Aku mengirimkan pesan kepada Martin dan memberitahuinya bahwa aku setuju untuk menjadi pacarnya sampai nenek baikan.



Telepon berdering pada jam 06.00 pagi.


“Halo.” Jawabku dengan suara baru bangun tidur.


“Halo Riana, maaf mengganggu tidurmu.”


“Ada apa Ethan?”


“Hari ini aku akan mewakili Presdir untuk meeting di kantor jadi nanti kamu datang ke kantor langsung mengambil berkas dan mengantarkan padanya ya di rumah sakit.”


“Hm, baiklah. Aku akan segera ke sana.”


Dengan malas Riana bangun dan membersihkan diri.


Riana segera berangkat ke kantor dan menikmati sarapannya di dalam perjalanan ke rumah sakit.


Riana juga tidak lupa membelikan Martin sarapan dan kopi.


Karena tanganku penuh dengan barang, aku langsung membuka pintu ruangan Nenek tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


“Maaf Nek saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu karena tanganku sedang penuh dengan berkas Presdir.”


“Tidak apa-apa Nak, kenapa kamu yang mengantarkannya? Dimana Ethan?”


“Hari ini Ethan ada pekerjaan yang sangat penting jadi saya yang membawakannya ke sini.” Ujarku sambil berjalan kearah sofa untuk menaruh barang-barangnya di sana.


Dengan wajah yang sangat serius dia memeriksa berkas yang ada di tangannya itu.


“Presdir, aku bawakan sarapan dan kopi untuk anda makanlah terlebih dahulu.”


“Letakkan saja di meja.”


Melihat tingkah kami berdua yang sama sekali tidak seperti orang pacaran, Nenek langsung mengerutkan dahi dan bertanya.


“Apakah kalian selalu seperti ini?”


Pertanyaan Nenek yang mendadak ini membuat aku dan Martin menatap satu sama lain.


“Tidak kok Nek, ini karena kami sedang bekerja benarkan sayang”


“Iya benar Nek, kami selalu memisahkan jam kerja dengan masalah pribadi kami.”


“Tapi saat ini tidak ada orang lain disini dan disini bukanlah perusahaan. Apakah kalian sedang berbohong kepada Nenek?”


“Tidak kok Nek, bagaimana mungkin aku membohongimu.” Ujar Martin dengan meyakinkan.


Aku mengangguk dengan pelan dan tiba-tiba ponselku berdering.


“Maaf, saya permisi untuk mengangkat panggilan sebentar.”


Aku pergi keluar dan mengangkat panggilan dari Nina.


“Halo, kenapa Nin?”


“Kamu dimana Ri?”


“Aku lagi di rumah sakit, kenapa?”


“Kamu sudah liat berita? Kamu kenapa di rumah sakit?”


“Belum, memangnya kenapa? Aku lagi jenguk teman.”


“Saham perusahaan Ortu Sam jatuh parah, keuangan mereka sangat krisis saat ini.”


“APA?!”


Aku mematikan panggilan kemudian langsung mencari berita tentang hal ini.


Selesai membaca berita itu aku langsung menghubungi Sam.