Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 25



“Aku lapar karena tadi sibuk bekerja jadi melewatkan jam makan malam.”


“Kalo begitu bagaimana kalau kita makan bersama? Jam segini restoran di hotel ini sudah tutup dan aku tau di sekitar sini masih ada satu restoran yang buka dan makanan mereka sangatlah lezat.”


“Baiklah.”


Kami berdua berjalan kaki ke restoran yang aku maksud itu karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.


Saat memasuki restoran itu, Martin tampak ragu karena bangunan restoran ini sudah sangat tua.


“Percayalah Presdir, kamu akan kembali lagi ke sini ketika kamu sudah mencicipinya.”


Aku memilih tempat duduk yang berada di ujung dan sudut supaya Martin bisa makan dengan tenang karena hanya sudutlah yang tidak di padati oleh pelanggan.


“Kamu mau makan apa Presdir?” tanyaku.


“Samakan saja dengan punyamu.” Ujarnya dengan datar dan menatap sekeliling toko.


Setelah memesan makanan dan minuman, aku duduk dengan canggung di hadapan Martin.


“Aku tidak menelanmu untuk apa kamu bersikap seperti itu.” ujar Martin saat menyadari aku sedikit tidak nyaman.


“Ah, tidak bukan itu maksudku. Aku hanya merasa sedikit canggung.” jelasku


“Anggap saja aku tidak berada di sini!” ujar Martin


“Bagaimana tidak menganggapmu secara kamu duduk di hadapanku.” Ujarku dalam hati.


Makanan sudah tiba.


Aku memesan Beef Noodle Soup untuk Martin.


“Kenapa punyamu berbeda?” tanya Martin saat melihat punyaku berbeda dengannya.


“Maaf, aku sengaja memesan berbeda karena tadi Presdir berkata sibuk bekerja hingga melewati jam makan malam jadi aku menduga bahwa anda terakhir makan adalah saat jamuan tadi siang itu.”


“Bagaimana denganmu?”


“Lambungku tidak masalah jadi tidak apa-apa ketika aku memakan pedas.”


“Jadi maksudmu lambungku bermasalah?”


“Ti..Tidak ma..Maksudku bukan begitu.”


“Makanlah.”



Hari ini aku ada janji dengan tante Mischa untuk bertemu di salah satu café ternama yang ada di dalam mall ini.


“Hai Sayang, maaf yaa tante telat.” Ujar tante Mischa sambil berjalan mendekati meja yang aku duduk.


“gak papa tante, aku juga barusan sampe oiya aku juga sudah pesankan tante minuman.”


“Terima kasih sayang.”


“Sama-sama tan.” Ujarku kemudian menyesap sedikit kopiku.


“Kamu di Kota A gimana sayang, apakah terbiasa?”


“Masih terbiasa kok tan, cuman mulai minggu depan aku bakalan kerja di salah satu perusahaan yang ada di kota A.”


“Loh, kenapa kamu bekerja di perusahaan orang lain sayang? Jika kamu benaran ingin bekerja harusnya kamu itu Kembali ke perusahaan.”


“Sebenarnya aku hanya ingin mencari pengalaman di luar tante karena aku masih banyak yang belum mengerti dan aku harap Tante mau bantu aku buat rahasiain dari Om Nathan ya.”


“Loh kenapa?”


“Aku takut kalo Om Nathan bakal ngelarang.”


“Apa Sam tau?”


Aku menganggungkan kepala dengan pelan.


“Kalo begitu tante berjanji tidak akan memberitahu Om Nathan tapi kamu harus berjanji sama tante, kalo kamu tidak bahagia saat bekerja di sana, kamu harus memundurkan diri.”


“Baiklah, aku akan berjanji.”


“Kalo begitu ayok temanin tante belanja, sudah cukup lama kamu tidak menemani tante belanja.”


“Ayok tan.”


Kami berdua berjalan mengelilingi mall dan berbelanja beberapa barang milikku juga milik tante Mischa.


Setelah itu kami memutuskan untuk makan malam bersama dengan Om Nathan.


“Om.” Sapaku saat Om Nathan duduk di salah satu kursi meja makan.