
Mereka mencari nomor Martin tapi yang di temukan hanyalah nomor Ethan dan mereka meminjamkanku telepon untuk menghubungi Ethan.
“Halo.” Jawab Ethan dari sisi sana.
“Ethan, ini aku Riana. Kamu sekarang ada dimana?”
“Aku sedang berada di luar, ada apa Ri?”
“Apa kamu bersama dengan Presdir?”
“Ya, ada apa?”
“Berikan aku lokasi kalian saat ini, aku akan menyusul ke sana ada yang harus aku bicarakan kepada Presdir.”
“Tapi….Baiklah, aku akan mengirimkannya ke ponselmu.”
Drrttt..
Suara getaran Hpku yang tadi sempat ku silent.
Aku berjalan ke depan pintu hotel dan membuka pesan yang di kirim oleh Ethan.
Setelah membaca pesannya, aku masuk ke dalam salah satu taxi yang sedang berhenti di depan pintu hotel.
Taxi meluncur dengan cepat dan hanya butuh waktu 10 menit untuk tiba di lokasi mereka.
Aku berjalan memasuki mall yang mereka berada saat ini,
Aku menaiki escalator dan pergi ke toko ternama yang di maksud oleh Ethan tadi.
Saat berada di toko tersebut aku hanya menemukan Ethan seorang diri.
“Dimana Presdir?” tanyaku.
“Dia sedang berganti baju di dalam. Ada apa kamu mencarinya? Kamu kelihatan gelisah.”
“Tidak apa, aku hanya.” Belum selesai bicara, dari arah belakang aku mendengar suara Martin.
“Kau mencariku?”
“Ya, bisakah kita bicara sebentar Presdir?” tanyaku lagi.
Martin menatapku sebentar kemudian memberi kode kepada Ethan untuk membayar tagihan.
“Aku memberimu waktu 10 menit.”
Aku menganggukkan kepala kemudian berjalan keluar dari toko tersebut dan mengikuti Martin.
Setelah membayar tagihan, Ethan menyusul dengan cepat dan segera menyalakan mobil.
“Bicaralah, ada apa?” tanya Martin dengan datar.
“Aku sudah tau tentang perusahaan Om Nathan.” Ujarku dengan menatap kedua bola mata Martin.
“Terus?”
“Aku…hmm..Aku mohon kamu untuk membantunya.”
Martin menatap kearahku dengan dingin.
“Atas dasar apa aku harus membantunya?”
“akuu…” belum selesai bicara, aku menundukkan kepalaku kemudian lanjut berkata
“Bagaimana caranya supaya kamu mau membantunya? Katakanlah syaratnya aku akan berusaha semampuku untuk membantumu.” Ujarku dengan mantap.
“Aku tidak akan bekerja sama dengan perusahaan yang tidak menghasilkan uang.”
“Kamu!” belum selesai bicara ponselku kembali berdering.
“Aku mengangkatnya sebentar.” Ujarku dan langsung mengangkatnya.
Aku mengangkat panggilan dan mendapatkan beberapa informasi dalam tentang perusahaan Om Nathan.
Setelah mengakhiri panggilan, aku menoleh kearah Martin kembali.
“Presdir Martin, aku tau bahwa Om Nathan ingin memberikanmu saham sebesar 20% supaya kamu tidak menarik investasi dan tetap bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Bagaimana jika aku menawarkan sesuatu kepada anda?”
“Apa yang di rencanakan oleh wanita ini?” tanya Martin dalam hati.
“Apa yang akan kamu tawarkan?” tanya Martin dengan datar.
“Aku tau kamu sedang mengincar proyek yang berada di New Zealand itu. Aku akan mendapatkannya untukmu tapi dengan syarat bahwa kamu akan tetap bekerja sama dengan perusahaan Om Nathan dan membantunya.”
Martin menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Wajahnya yang datar dan aura yang tidak bisa aku diskripsikan membuatku sedikit tidak nyaman.
“Aku yakin kamu pasti sudah mencari tau apa yang terjadi di dalam perusahaan Om Nathan dan kamu juga pasti tau bahwa perusahaan Om Nathan selama ini berjalan dengan baik hanya karena ada beberapa tikus yang masih ada di dalam perusahaan makanya dia baru bisa mengalami krisis yang parah sampai detik ini.”
“Apa menurutmu aku akan setuju?”
“Aku yakin kamu akan setuju jika di tukarkan dengan proyek yang ada di New Zealand itu.” Uijarku dengan mantap.
Ethan kembali mengetuk jendela mobil dan berkata saat Martin membukanya.
“Maaf Presdir, sudah waktunya kita untuk pergi dan bertemu dengan direktur Cong.”