Last Love From The Ceo

Last Love From The Ceo
EPS 22



“Mungkin saja.” Ujarku dengan menyesap air minumku.


Selesai makan, aku langsung berpamitan kepada Om Nathan dan Tante Mischa.


“Om, Tante, aku kembali ke Hotel dulu ya.”


“Kamu menginap di hotel mana sayang? Biar tante minta om Leo ngantarin kamu.”


Om Leo adalah supir Om Nathan dan Tante Mischa. Dia sudah lama bekerja dengan Om Nathan.


“Tidak usah merepotkan Om Leo Tan, aku bisa naik taxi sendiri.”


“Sama sekali tidak merepotkan kok Non. Apa kabar Non?” ujar Om Leo yang muncul tiba-tiba.


“Om Leo bikin kaget aja nih,kapan munculnya? Aku baik-baik saja, gimana dengan om sendiri?” tanyaku


“Baik Non. Non Riana tinggal di hotel mana biar saya antarin saja.” Tanya om Leo.


“Aku nginap di Hotel Skyblue Om”


“Kebetulan banget kami juga nginap di sana. Bagaimana kalo kita barengan saja?” tawar Ethan sambil melirik kearah Martin.


Martin hanya diam dengan wajahnya yang datar dan dingin itu.


“Hmm, aku.” Belum selesai juga aku bicara Martin langsung memotongnya dengan berkata.


“Barengan saja.” Ujar martin langsung berjalan kearah mobil yang sudah di siapkan oleh Om Nathan.


Ethan berjalan mengikuti Martin dan membukakan pintu untuknya.


Ethan kembali dan membantuku untuk mengambil koper dan memasukkannya ke dalam mobil.


Ethan membukakanku pintu kursi belakang.


“Aku duduk di depan saja.” Ujarku dengan ragu.


“Tidak apa, kamu duduk di samping Presdir aja.” Ujar Ethan dengan mendorongku masuk ke dalam mobil.


“Ehh..”


Bruk! Pintu langsung di tutup dan Ethan langsung menjalankan mobilnya menuju ke hotel.


Mobil terasa hening sampai Ethan tiba-tiba bertanya kepadaku.


“Riana, bolehkah aku bertanya?” Tanya Ethan sambil menatap ke spion tengah yang mengarah ke belakang.


“Boleh, tanya saja.” Jawabku sambil melihat kearah spion.


“Bukankah Tuan Nathan adalah pamanmu, tapi mengapa kamu nginap di hotel?”


“Jangan banyak bicara, menyetirlah dengan tenang.” Ujar Martin.


“Baik Presdir.” Ujar Ethan sambil melirik ke kaca spion belakang.


Mobil kembali hening sampai tiba di depan pintu hotel.


“Riana, kamu menunggulah di sini bersama dengan Presdir. Aku akan membantumu mengurus check in.”


“Tidak usah Ethan, aku bisa sendiri.”


“Tidak apa, kamu hanya perlu menunggu di sini.” Ujar Ethan kemudian langsung berjalan kearah resepsionis.


Sambil menunggu Ethan, aku dan Martin duduk di sofa yang berada di tengah lobby.


*BEBERAPA JAM SEBELUMNYA DI KOTA A*


Ting..Tong..Ting..Tong..


Bel pintu apartemenku terus berbunyi dan terdengar suara gedoran pintu hingga menganggu ketenangan tetangga.


“Maaf, apa anda mencari Nona Riana?” tanya seorang security dari arah belakang.


“Benar pak, apa bapak melihatnya?” tanya Tomy dengan sopan.


“Dia sudah keluar dari tadi pagi bersama dengan seorang pria. Mereka kelihatan seperti mau berpergian keluar kota karena mereka membawa koper.” Jelas security itu.


“Bawa koper pak?” tanya Tomy dengan kaget.


“Iya Tuan, mereka membawa satu koper berwarna putih.”


“Koper putih? Itu kopernya Riana.” Gumam Tomy dalam hati.


“Baiklah Pak, terima kasih infonya.” Ujar Tomy langsung meninggalkan apartemenku.


“Cari tau kemana Riana pergi dan jika sudah menemukannya langsung membelikanku tiket.” Perintah Tomy kepada sekretarisnya.


Setelah mencari tau, sekretarisnya kembali menghubunginya.


“Boss, Nona Riana berangkat ke Kota B dengan penerbangan jam


09.00 tadi dan saya sudah membelikan anda tiket di jam 10.30.”


“Baik, kamu antarkan paspor dan koperku ke bandara. Kita bertemu di sana aja.”


“Baik Boss.”