
Martin mengangkat wajahnya dan menatap Ethan dengan wajah
tanda tanya.
“Karena anda masih harus berada di sini untuk beberapa hari
jadi aku rasa Riana bisa bantu mengingatkanmu tentang jadwal dan dia juga dapat
menjadi pasangan anda ketika anda pergi ke pesta Direktur Alex.”
“Kamu atur saja.”
“Baik, kalo begitu saya permisi dulu.”
Ethan kembali ke kamarku untuk menyerahkan jadwal Martin dan
mengingatkanku beberapa hal tentang Martin.
“Jika ada yang tidak kamu mengerti, kamu bisa hubungi aku
dan ponselku aktif 24 jam kok.” Ujar Ethan dengan senyum ramah.
“Baik, apa kamu akan berangkat ke bandara sekarang?”
“Iya, aku pergi dulu ya.”
“Hmm..”
Melihat kepergian Ethan, aku berjalan ke pintu yang ada di
depan kamarku dan mengetuknya.
Baru saja mengetuk, Tomy datang menghampiriku.
“Riana!” Panggil Tomy dengan lembut
Aku memutar balik tubuhku dan menatap kearahnya.
“Ada apa Tom?” tanyaku dengan sopan.
“I miss you baby.” Ujar Tomy dengan mendekatkan tubuhnya.
“Untuk apa kamu di sini?!” tanya Tomy setelah melihat nomor
kamar yang ada di belakangku itu.
“Bukan urusanmu!”
Tomy mengulurkan tangannya untuk memegang lengan tanganku.
“Lepasin! Kamu mau apa lagi?!” tanyaku dengan nada tidak
senang.
“Aku ingin minta maaf soal kejadian kemarin di lobby. Tidak
seharusnya aku bersikap kasar dan menamparmu.”
“Tidak perlu di bahas lagi karena aku sudah melupakannya.”
“Ri, aku tau aku salah karena sudah menamparmu di tempat
umum tapi aku melakukannya juga karena aku marah ketika melihat kamu bersama
dengan pria lain. Aku juga tau bahwa kamu bukanlah wanita seperti itu dan aku
sangat yakin kejadian kemarin pasti kamu sengaja untuk membohongiku kan.”
“Tidak! Aku tidak percaya! Kamu pasti sengaja melakukannya
supaya aku menjauh darimu. Aku tau kamu masih marah soal di Dubai kemarin.”
“Cukup! Semuanya sudah berlalu Tom!”
“Enggak! Semuanya belum berlalu Riana!”
“Apa lagi yang kamu mau?! Belum puaskah kau menggangguku?”
“Aku mau kamu! Aku mau kita seperti dulu lagi! aku tidak
akan berhenti sampai kamu kembali ke sisiku lagi.”
“Kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi kembalilah kepada
tunanganmu dan jangan pernah menggangguku lagi.” Ujarku dengan pasrah.
“Aku tau kamu berada di Kota ini karena kamu ingin menemui
orang tua Sam kan?”
“Benar itu memang salah satu alasanku dan.”
Tomy menciumku dan aku berusaha menolaknya dan mendorongnya
pergi.
“Aku tau kamu masih menjadi Riana milikku, kamu tidak
mungkin bersama dengan pria itu.”
“Aku sudah bersama dengannya, kami sudah tidur bersama dan AKU
SUDAH NAIK KE RANJANGNYA!” ujarku dengan frustasi dan penuh penekanan di
kalimat terakhir.
“Apa kamu pikir bahwa aku masih milikmu?!” ujarku lagi
dengan menatap kedua mata Tomy.
“Tidak! Aku tidak percaya! Kamu sengaja mengatakannya untuk
membuatku marah dan menjauh darimu, benarkan?” ujar Tomy dengan tidak percaya
sambil mempererat genggamannya.
“Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak karena semua yang
aku katakan adalah kebenaran!”
“Aku tau kamu sedang berbohong kepadaku! Tidak mungkin kamu
bisa secepat itu melupakanku dan hubungan kita yang sudah kita jalanin selama
beberapa tahun ini. Aku juga tidak percaya bahwa kalian sudah bersama!” Ujar
Tomy sambil menahan emosinya dan genggaman tangannya semakin kuat.
“Lepasin aku! Kamu sudah menyakitiku!” teriakku sambil
meringis kesakitan.
“Aku tidak akan melepasmu lagi, ayo ikut aku!”