
Mobil Sam melaju dengan kecepatan sedang sehingga butuh
waktu 20 menit untuk sampai ke kedai makan yang sering kami kunjungi.
“Selamat datang.” Ujar Bibi Liu.
“Halo Bi.” Ujarku kemudian berjalan ke tempat duduk yang
biasa kami tempati.
“Kalian sudah datang? Mau pesan apa hari ini?” tanya Bibi
Liu sambil memegang pena dan kertas untuk mencatat.
“Seperti biasa aja Bi.” Ujar Sam.
“Sebentar Bi, hari ini aku ingin mengganti menu.” Ujarku
dengan cepat sebelum Bibi Liu pergi.
“Boleh, kamu ingin pesan apa?” tanya Bibi Liu lagi.
“Aku hari ini ingin makan yang pedas Bi, lebih pedas lebih
bagus.” Jawabku dengan menatap kearah Sam.
Sam mengerti dengan maksud tatapanku.
Aku sedang ingin bermakan pedas dan berharap Sam tidak
menolaknya. Bagaimanapun juga Sam adalah seorang dokter dan dia tidak akan
mengizinkanku makan yang pedas mengingat penyakit lambungku itu.
Sam menghela napas kemudian dia menatap Bibi liu dan
berkata.
“Buatkan untuknya Bi. Dia sedang ingin menyiksa lambungnya.”
Bibi Liu mengangguk dan pergi ke belakang untuk memasak.
“Bukankah kau sudah pernah berjanji tidak akan menyiksa
lambungmu lagi.”
“Aku tidak menyiksa, aku hanya ingin makan yang pedas.”
“tidak menyiksa? Baiklah jika tidak menyiksa. Jangan sampai
kamu masuk Rumah Sakit.”
“Jahat banget nih orang.”
“Biarin jahat, toh kamu sendiri juga.”
Belum selesai bicara, Bibi Liu datang dengan masakan yang
sudah siap. Setelah di tata di meja, aku langsung mengambil peralatan makan dan
berkata.
“Tenanglah, aku tau batasku.” Ujarku kemudian langsung
melahap satu suapan nasi.
Sam menghela napas ringan kemudian baru memulai makan.
Tidak lama, 1 isi meja makan ludes di habisi kami berdua.
“Masakan Bibi Liu tidak pernah berubah selalu enak.”
“Ya selalu enak dan bisa mengubah moodmu menjadi lebih
baik.”
“Iya loh, entah kenapa setiap kali suasana hatiku buruk
pasti aku ke sini.”
“Ayok aku antarkan kamu pulang, besok malam kita akan berangkat
ke Kota B.”
“Baiklah kalo begitu.”
Sam mengantarkanku pulang dan dia kembali ke Rumah Sakit
karena mendapat panggilan dari sana.
“Bagaimana keadaan pasien?” tanya Sam kepada Suster yang
berdiri di sampingnya itu.
“Kritis dok.”
Dengan langkah besar, Sam segera ke ruangan pasien dan
memeriksanya.
“Apa sudah menghubungi keluarganya?”
“Sudah Dok, mereka sedang di jalan menuju ke sini.”
“Baik, kabari mereka bahwa besok pagi pasien harus segera di
operasi jika tidak dia akan koma.”
“Baik Dok.” ujar Suster langsung meninggalkan Sam.
Sam berjalan ke dalam ruangannya dan mengeluarkan ponsel
miliknya.
“Riana.”
“Iya, kenapa Sam?”
“Maaf, aku harus membatalkan keberangkatan kita besok karena
besok pagi aku akan melalukan operasi.”
“Tidak usah di batalkan Sam, besok aku akan berangkat
sendiri.”
“Tapi kita sudah berjanji untuk.”
“Sudahlah, aku besok akan pergi ke Kota B sendiri dan kamu
tinggallah di sini karena banyak orang yang membutuhkanmu untuk menolongnya.”
“Baiklah kalo begitu aku akan mengirimkan tiketnya ke
ponselmu.”
“Ok.”
“Besok kamu hati-hati ya, aku akan berpesan kepada Papa dan
Mama untuk menjemputmu di bandara.”
“Baiklah, kalo begitu aku mau istrirahat dulu.”
……….
Tok..Tok..Tok..
Seseorang mengetuk pintu kantor Martin.
Tidak menunggu jawaban dari dalam, dia langsung mendorong
pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Presdir, tiket ke Kota B untuk besok pagi sudah saya pesan
dan saya juga sudah mengatur jadwal anda selama berada di sana.” Ujarnya dengan
hormat.
“Hmm.”
“Kalo begitu saya permisi dulu.”
“Tunggu Ethan!”
“Iya Presdir, ada yang bisa saya bantu?”
“Siapkan mobil, aku mau ke Rumah Sakit sebentar.”
“Baik Presdir.” ujar Ethan, Sekretaris andalan Martin.
Martin beranjak dan mengambil jas miliknya yang di gantung
di belakang kursinya itu. Dia mengenakannya setelah itu dengan tegap dan penuh
dengan charisma dia berjalan meninggalkan kantor.