
Maryland, Amerika Serikat
Beberapa waktuusai Sadawira menjadi saksi di pengadilan kasus muti*lasi istri oleh suaminya, pria itu pun kembali bertugas di koroner dan kuliah seperti biasanya. Dokter Deborah Pounder sudah meminta pada pihak kampus, bahwa Sadawira yang akan menjadi asistennya jika sudah selesai studinya.
Kasus kematian chef Dario pun berhasil dipecahkan setelah kepala CSI chief Roby bisa mengurai timeline pembunuhan itu yang ternyata dilakukan oleh pegawainya akibat sakit hati sering dihina dan dimarahi.
Dan pagi ini Sadawira mendapatkan surprise karena kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka. Dokter Deborah hanya tersenyum melihat wajah Sadawira berubah menjadi cerah saat melihat siapa yang datang.
"Aku kira kamu tidak bisa tersenyum, Wira. Ternyata bisa juga" kekeh Dokter Deborah sambil memeriksa hati jenazah yang datang ke ruang autopsinya.
"Sudah lama aku tidak melihat kekasihku, Dokter Deborah" senyum Sadawira saat melihat Chisato berdiri di depan kaca yang memisahkan ruang autopsi dan lorong rumah sakit.
"Dia gadis yang cantik. Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Dokter Deborah.
"Lumayan lama, dari kasus Hongkong. She's the most badass girl that I ever known ( dia cewek paling badass yang pernah aku kenal ). Well levelnya saingan dengan para sepupu perempuan aku ..." senyum Sadawira sambil memeriksa kondisi paru-paru korban. "Dok, apakah dia mati tenggelam?"
"Katanya... Kenapa?" tanya Dokter Deborah.
"Paru-parunya tidak basah... seperti halnya orang tenggelam."
Dokter Deborah melihat paru-paru jenazah itu dan mengangguk. "Kamu benar... Aku akan telepon Lt Ahmed Ja'far. Ini bisa jadi kasus pembunuhan."
***
Chisato duduk di ruang tunggu sambil membaca novel, menunggu Sadawira selesai mengautopsi jenazah yang datang ke ruang autopsinya. Mata hitam Chisato melihat saat dua orang anggota kepolisian datang menuju ruangan kekasihnya.
Apakah jenazah yang sedang diautopsi Mas Wira itu korban pembunuhan? Chisato bisa melihat bahwa dokter wanita berkulit hitam itu tampak serius berbicara dengan pria keturunan timur tengah yang Chisato yakini adalah seorang detektif.
Chisato memperhatikan bagaimana Sadawira pun memperlihatkan organ tubuh yang dianggapnya mencurigakan. Tanpa Sadawira sadari, Chisato adalah ahli membaca bahasa bibir seseorang. Gadis Jepang itu bisa memahami bahasa bibir bahasa Jepang, Inggris dan Mandarin.
"Apa? Bukan korban tenggelam? Paru-parunya tidak basah macam korban tewas tenggelam pada umumnya..." Entah kenapa Chisato lebih tertarik dengan kasus tunangannya. "Duh mas Wira, kok pekerjaan kamu menyenangkan sih... "
Chisato pun tetap serius membaca bibir empat orang disana.
***
"Korban ditemukan di kolam renang, Dokter Deborah..."
"Yang menemukan?" tanya Dokter Deborah.
"Kepala polisi kami. Wanita ini adalah istrinya."
Sadawira dan Dokter Deborah saling berpandangan. Jangan kasus suami bunuh istri lagi deh ! Jenuh !
"Asumsi awal?" tanya Sadawira.
"Beliau terpeleset dan masuk ke kolam renang..."
"Tapi itu tidak sesuai dengan apa yang kami temukan di hasil toxicology nya. Terdapat sisa kloroform di dalam darah dan wajahnya serta sempat melakukan hubungan intim tapi tidak ditemukan semen pria disana tapi milik wanita. Lt Ja'far... Apakah istri kepala polisi ini lesbian?" tanya Dokter Deborah setelah tadi Sadawira melakukan pemeriksaan kilat.
Lt Ahmed Ja'far menoleh ke asistennya. "Sebenarnya ini adalah rahasia di kepolisian. Kepala polisi dan istrinya menganut asas open marriage. Jadi... Istrinya adalah Bis35k5ual."
Open marriage adalah sebuah konsep pernikahan yang membolehkan pasangan untuk memiliki partner lain selain suami atau istri sah. Jadi pasangan sah boleh berselingkuh asalkan tahu siapa pasangan selingkuhnya. contoh adalah Will Smith dan Jada Pinket. Mereka menikah tapi boleh berhubungan dengan orang lain.
Sadawira melirik ke arah Chisato yang menutup mulutnya karena terkejut mendengar penjelasan Lt Ahmed Ja'far. Apa Chisato bisa membaca gerakan bibir? Kok mukanya kaget begitu.
"Siapa partner lesbinya ? Aku rasa dialah pelakunya karena..." Dokter Deborah memperlihatkan wajah istri kepala polisi itu. "Lebam di wajahnya ada bekas jari dan dari ukurannya adalah jari perempuan."
Sadawira menggelengkan kepalanya. Kok ya kepikir sih melakukan open marriage ! Ngapain nikah kalau begitu ?
***
Manchester Inggris.
Jayde dan Inggrid sedang asyik makan siang ketika mendapatkan pesan dari generasi keenam jika akan ada pernikahan di Bahrain. Jayde mengrenyitkan dahinya karena tahu siapapun tidak memiliki hubungan dengan keluarga Bahrain.
"Ada apa Jayde ?" tanya Inggrid melihat kekasihnya tampak gelisah membaca pesan di ponselnya.
"Damian dipaksa menikah dengan Reema, putri Emir Bahrain."
Inggrid menatap Jayde tidak percaya. "What? Masih adakah pemaksaan seperti itu?"
"Jika kamu tinggal di Asia baik barat, selatan, timur maupun asia tenggara, masih ada Grid. Duh bakalan bisa ngamuk nih si Damian..." gumam Jayde.
"Memang kenapa? Apa si Reema ini tidak cantik?"
"Grid, mau cewek kamu cantiknya macam gimana, kalau tidak cinta, mau apa?" jawab Jayde.
"Iya juga sih... "
***
Apartment Sadawira di Maryland
Menjelang malam, Chisato baru bisa bersama dengan Sadawira setelah pria itu menyelesaikan semua laporan ke Lt Ahmed Ja'far. Dan memang teman lesbi si istri lah pelakunya karena tidak mau istri kepala polisi itu kembali ke rumah tangganya. Rupanya dia sudah jenuh dengan kehidupan melencengnya dan ingin hidup tenang. Apalagi kepala polisi juga ingin membina kembali rumah tangganya dengan benar.
"Open marriage? Open marriage?" seru Chisato sambil menyiapkan peralatan makan karena tadi sebelum kembali ke apartemen, mereka membeli makan malam dulu.
"Iya Chisato, open marriage" kekeh Sadawira mendengar kekasih nya ngomel-ngomel.
"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kamu berhubungan dengan suami sah kamu tapi kamu juga berhubungan dengan pasangan ilegal kamu? Apakah aku yang terlalu kuno dan kolot atau mereka tidak ingat dosa ya ? Aku pribadi, tidak ikhlas jika suamiku dipegang-pegang dan berhubungan badan dengan wanita lain meskipun aku pun tidak dilarang melakukan hal yang sama. Tapi untuk apa lembaga pernikahan jika seperti itu?"
Sadawira meletakkan pisau dan garpunya lalu menghampiri Chisato. Pria itu memeluk gadisnya yang masih mode ngamuk.
"Kamu itu, datang jauh-jauh dari Tokyo kalau buat ngomel-ngomel, kok sepertinya mubazir ya..." Sadawira mencium bibir Chisato lembut. "Bagaimana kalau kita menikah disini saja? Hanya kedua orang tuaku dan keluarga Pascal serta bang Luke?"
Chisato menatap tajam ke Sadawira. "Dasar vampir ! Mengajak nikah anak gadis kok tidak romantis?"
"Lho ini sudah romantis..." jawab Sadawira dengan wajah serius.
Chisato hanya memegang wajah Sadawira gemas.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️