Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Kami Tidak Takut



Apartemen Sadawira di Singapura


Luke, Shinichi dan Hidetoshi masuk ke dalam apartemen Sadawira. Terlihat bagaimana pria itu masih meninggalkan semuanya seperti sebelumnya. Dua cangkir kopi yang masih ada sisa, beberapa putung rokok di asbak dan iMac yang masih menyala dengan semua data GPS dokter Huang.


"Sepertinya mereka pergi terburu-buru..." gumam Shinichi sambil memeriksa kamar Sadawira yang rapi. "Eh buset, si kulkas ternyata OCD kebersihannya terlalu deh!" komentar Shinichi saat melihat bagaimana semuanya teratur dan persisi.


"Coba cek kamar Jayde" perintah Luke yang langsung meneliti iMac adiknya. Sudah tiga bulan ini Sadawira pindah ke apartemen dua kamar tidur.


Shinichi pun ke kamar Jayde dan hanya menggelengkan kepalanya. "Berantakannya! Dasar cowok Inggris satu ini!" omel putra Hideo Kojima Park itu saat melihat selimut berantakan, baju kotor masih di keranjang ditambah jaket dan celana jeans di lantai.


"Jadi mereka ke Jurong karena mendapatkan informasi bahwa akan ada organ baru. Dan akan bertemu dengan pembelinya yang datang ke dermaga situ" ucap Luke sambil memperhatikan semua data. Tiba-tiba ayah Hyde itu mengumpat. "Son of the B***!!! Benar dugaan Wira dan Jayde!"


"Bukankah itu agen Tang dan agen Lee dari HKSS?" tanya Hidetoshi.


"F***! Dan*c*k! Asssyyuuuu!" omel Luke dengan bahasa Omanya.


"Tenang Luke, jangan marah-marah dulu. Kita harus fokus sekarang mencari Wira dan Jayde. Ini sudah hari kedua setelah mereka menghilang dan belum ada tanda-tanda keberadaan mereka" ucap Hidetoshi berusaha menenangkan boss yang juga sahabat nya.


"Shin, apakah ada petunjuk di kamar Wira dan Jayde?" tanya Luke.


"Selain kamar Wira rapih nya minta ampun dan berbanding terbalik dengan kamar Jayde yanh kena angin ribut, tidak ada. Tapi kotak berisikan teropong canggih buatan Tante GM ada di kamar Wira."


"Mereka punya itu?" tanya Luke.


"Yup. Bang Luke ngapain ngumpat... Oh shiiiiittt!" ucap Shinichi saat melihat rekaman CCTV yang dipasang di jendela pondok Jurong.


"Kan, sama dengan aku!" kekeh Luke.


Suara telepon milik Luke berbunyi dan pria berdarah Jepang, Italia, Arab dan Jawa itu hanya mengangkat dengan malas-malasan. "Apa Lisus?" jawab Luke dalam panggilan video.


"Aku, Radeva, Omar dan Pedro sudah perjalanan ke Singapura. Jangan bergerak dulu sebelum kami datang! Ini perintah dari Isobel de Garza dan SSA Agen Reid. Damian katanya juga malam ini berangkat dari Dubai bersama Ken, Gabriel dan Gasendra. Radhi tidak bisa ikut karena harus balapan." Tampak Bayu duduk bersama Omar Zidane sedangkan di belakang Radeva sedang menyiapkan senjatanya bersama dengan Pedro.


"Ya Allah Bay... Nggak usah semua datang Lisus!" omel Luke.


"Just shut it, Luke! Brengseeekkk kalian! Sudah tahu bahaya, masih tidak mau minta bantuan!"


"Karena kalian pasti bakalan geruduk macam begini!" bentak Luke. "Apalagi kamu Bay! Panasan!"


"Terus kalau mereka berdua tewas, apa yang akan kamu bilang ke Oom Ega dan Tante Anjani? Ke Oom Taufan dan Tante Natasha? Jawab Luke!"


"Jayde dan Wira sudah tahu konsekuensinya, Bayu! Dan asal kamu tahu, aku tidak percaya mereka tewas sebelum aku melihat sendiri mayat mereka! Paham!"


Shinichi dan Hidetoshi hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara Luke dan Bayu. Meskipun Bayu lebih muda dari ketua Yakuza Takara, tapi soal nekad dan berani, si angin Lisus itu tidak perlu diragukan.


"Ngapain FBI harus ikut campur? Kalau Pedro, okelah tapi OZ ikutan itu ngapain?" tanya Luke dengan nada tinggi.


"Karena Luke, dua agen HKSS itu ternyata sudah diincar oleh FBI, CIA dan MI6. Mereka terlibat suap oleh Triad Wong dan HKSS juga mendapatkan sorotan dari Mossad dan Bundesnachrichtendienst atau BND ( biro federal Jerman ) karena penjualan organ yang melibatkan warga negara Israel dan Jerman. Disini bukan sebagai perantara tapi juga korban, sama dengan Shota Iwasaki. Dokter Huang hanyalah satu dari banyak cabang dokter yang tersebar di seluruh dunia dan Triad Wong juga salah satu yang terlibat bisnis haram itu" ucap Omar Zidane.


"Dengar, Omar. Aku tidak perduli dengan pihak lain yang melakukan bisnis itu tapi yang aku incar hanyalah Triad Wong dan dua agen HKSS itu! Jadi, kali ini aku minta FBI, CIA, dan semua anggota federal dengan tiga huruf alfabet itu jangan ikut campur! Anggap saja ini perang antara Triad dan Yakuza !" balas Luke dingin.


"Aku tahu Luke, aku hanya menjaga kalian seperti halnya di Turin."


"Jangan salah kan kami jika melakukannya dengan cara kami sendiri!" lanjut Luke lagi.


"Apa kalian tidak takut dipenjara atau dihukum?" tanya Omar.


"Dihukum karena membasmi kejatahan? So what!"


Terdengar suara tawa Bayu di belakang. "Dipenjara bagi kami adalah pindah tidur!"


"Nah tuh! Jika nantinya kami disidang internasional, aku akan bakalan bilang Shame on You tidak bisa membereskan kebobrokan internal badan federal dan intelijen kalian!" ucap Luke galak.


Omar Zidane hanya bisa memegang kepalanya, pusing menghadapi Yakuza ngamuk.


***


Inggrid terkejut ketika melihat seorang gadis cantik mendatangi dirinya dengan wajah mirip Jayde. Inggrid sedang bersiap berangkat ke Singapura dan berada di ruang tunggu.


"Inggrid Pascale? Nadya Blair" ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


"Nadya Blair?" tanya Inggrid curiga tapi dirinya menyambut tangan gadis cantik itu.


"Yes, saya putri Travis Blair dan sepupu Jayde. Ini kartu nama saya dan kalau tidak percaya, ini buktinya." Nadya mengambil iPad dan menunjukkan foto-foto saat pernikahan Arkananta dan Arabella serta Valentino dan Katya. Tampak Nadya berfoto bersama Jayde.


"Ada apa anda kemari?" tanya Inggrid.


"Membawa anda ke Singapura. Kebetulan saya sedang berada di London dan bang Luke, eh Luke Bianchi meminta menjemput anda."


"Tapi bagaimana anda tahu kalau saya Inggrid Pascale?"


Nadya tertawa. "Jayde pernah menunjukkan foto sahabatnya dan itu anda. Dengar nona Pascale..."


"Inggrid."


"Oke kita panggil nama depan saja karena tampaknya kita sepantaran. Jayde menghilang bersama Wira dan kamu bilang tahu hubungannya?"


Inggrid mengangguk.


"Lebih aman kamu bersama aku. Sebab, aku tidak yakin kamu akan aman sepanjang perjalanan ke Singapura jika memakai pesawat komersial." Nadya menarik tangan Inggrid.


"Tunggu, kita naik apa ke Singapura?" tanya Inggrid bingung.


"Pesawat ku."


***


Di sebuah kapal dekat Jurong Singapura


"Inggrid sudah berangkat bersama Nadya" ucap Jayde saat melihat monitor di ruang IT dalam kapal itu.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Sadawira.


"Ini GPS Nadya sudah bergerak meninggalkan Manchester bersama dengan Inggrid" ucap Jayde. "Aku juga memasang GPS di gelang Bulgari kado ulangtahun nya yang ke 21."


Sadawira melongo. "Kalian itu sahabat atau gimana sih?"


"Sahabat lah!" jawab Jayde cuek.


"Mana ada sahabat kasih gelang Bulgari dan dipasang GPS kalau tidak ada maksud tertentu?"


"Just best friend" eyel Jayde.


Sadawira hanya mendengus pelan. "Karepmu Jay."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️