
Gedung Pengadilan Hongkong
Michael kembali ke meja pengacara dan langsung mendapatkan pelototan Travis.
"Dao Ming Tse? Meteor Garden? Really?" ucap Travis dengan nada tertahan.
"Lho Pak Travis kok tahu?" tanya Michael sambil tersenyum.
"Istriku dulu waktu hamil Nadya, hobinya nonton drama Korea dan China. Jadi tahu lah!" jawab Travis cuek membuat Nelson tersenyum.
"Berarti Bu Rahajeng sama dengan istri saya. Hobinya nonton itu" kekeh Michael yang baru menikah enam bulan.
Karena hari sudah sore, hakim pun menunda pertanyaan untuk terdakwa dan saksi besok. Para terdakwa pun dibawa ke mobil tahanan menuju penjara Federal tapi Nadya sempat dipeluk oleh Travis, Nelson dan Marisol. Di belakang Nadyan, tampak Omar Zidane yang bersikap melindungi gadis itu.
Phoenix yang melihat bagaimana sikap protektif dan posesif Omar Zidane, merasa sangat kesal plus cemburu.
"Nadya hanya menganggap kamu adik, Phoenix" ucap Steven Hamilton, sang ayah.
"Kalau sudah pulang ke New York, akan aku kejar Nadya."
"Well, good luck for that P. Karena tampaknya keluarga Blair sudah menerima Omar." Steven menepuk bahu putranya.
***
Hotel Ritz-Carlton Hongkong
Para generasi kelima dan keenam memesan satu lantai penthouse di hotel Ritz Carlton yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung pengadilan. Ega memeriksa luka Jayde dengan telaten dan tersenyum melihat lukanya sudah mulai mengering.
"Sebentar lagi bisa lepas jahitan tuh Jayde" ucap Ega.
"Terimakasih Oom" jawab Jayde yang duduk bersama ayahnya Taufan Abisatya.
"Kamu telpon mommy dulu sana J. Mommy cemas itu" perintah Taufan.
"Mommy di rumah kan?"
"Yup. Bersama Poppy Montgomery" jawab Taufan.
Jayde bersyukur mommynya bersama asistennya jadi tidak sendirian. Pria itu lalu mengambil iPad milik ayahnya dan melakukan FaceTime ke Natasha.
"Bagaimana kans besok Vis?" tanya Àbiyasa.
"Paling besok jaksa mau cecar Bayu dan Omar Zidane. Bisa juga Pedro dipanggil atau Katrin Jaeger atau Eli Yaqub."
"Tapi tadi si Lucas memang mirip Oom Thomas ya. Seenaknya kalau sudah ngamuk" kekeh Hoshi.
"Lha memang anaknya kan" senyum Àbiyasa.
"Tapi parah dia, masa dia maki-maki si Hui dan Liu dengan bahasa campur aduk dan itu direkam pula!" gelak Ayrton.
"Kapan kalian akan membongkar semuanya?" tanya Luca. "Ingat, Garvita dan Gabriel tiga Minggu lagi menikah lho."
"Sebelum mereka ijab, kami usahakan sudah keluar dari Hongkong!" jawab Steven Hamilton tegas. Kini mereka semua sedang berada di penthouse Ayrton.
"Insyaallah..." ucap para ayah generasi kelima.
***
"Wira dan Bang Luke ngamuk di kursi saksi?" Inggrid menatap Jayde tidak percaya.
"Parah mereka! Macam semua emosi dilampiaskan ke jaksa penuntut umum" senyum Jayde.
"Jayde, apakah kalian bisa segera keluar dari Hongkong? Jujur aku khawatir" ucap gadis cantik itu.
"Kamu pikir aku tidak ingin segera kembali ke Manchester bersama mommy dan Daddy. Dan kamu..."
Mata biru Inggrid terbelalak dan wajahnya memerah. "Jayde..."
"Setelah ini selesai, kita kencan yuk" senyum Jayde.
"What? Are you joking ( kamu bercanda )?" tanya Inggrid yang sudah kembali ke Manchester begitu situasinya sudah kondusif.
"Oh come on Grid. Kita sudah bersahabat lama, kita sama-sama tidak berkencan dengan orang lain, dan kita sama-sama nyaman saat bersama. What do you think? My best friend become my girlfriend?" senyum Jayde. "Lagi pula, kakekmu kan sayang padaku."
Inggrid menatap judes ke Jayde. "Jayde, rasanya ada yang aneh jika kita memiliki hubungan yang lebih dari sekarang."
Inggrid tertawa. "Benar-benar deh!"
***
Penjara Federal Hongkong Blok Wanita
Chisato menatap langit-langit ruang selnya dan tampak bingung dengan perkembangan kasus mereka. Bermula dari Shota-senpai dibunuh, kenapa jadi terbongkar banyak banget?
"Belum bisa tidur, Chisato?" bisik Nadya yang tidur di tempat tidur seberangnya sedangkan Katrin yang tidur diatas tempat tidur Chisato, sudah tidur dari tadi. Ketiga wanita itu mendapatkan dua tempat tidur susun dan mereka pun tidak mempermasalahkan meskipun kasurnya keras.
"Belum nona Blair. Saya tidak menyangka ternyata permasalahannya sangat kompleks. Tidak menyangka dari Shota-senpai, malah terbuka hingga kemana mana" jawab Chisato.
"Boleh dibilang ini efek gunung es, C. Bagaimana pun suatu saat pesta itu akan bubar apalagi yang berhubungan dengan kegiatan kejahatan."
"Nona Blair apa tidak kangen keluarga?"
"Kangen banget apalagi mommy aku yang super khawatir dengan keadaan aku meskipun aku dipenjara bersama dengan kakak-kakak aku... Tapi tetap, anak gadisnya dipenjara!" kekeh Nadya.
"Saya sebenarnya iri nona Blair. Keluarga saya hanyalah keluarga Yakuza Takara."
"Bagaimana kamu bisa bergabung dengan Yakuza Takara, C?" tanya Nadya yang merasa juga tidak bisa tidur apalagi tadi dirinya sempat berpelukan dengan ayah dan kakaknya.
"Saya adalah anak yatim piatu yang tertangkap basah oleh Luke-san sedang mencuri permen."
"Kamu usia berapa itu C?"
"SD kelas dua."
"Dan apa yang bang Luke lakukan?"
"Mengajak aku tinggal di markas Yakuza dan dididik menjadi anak buahnya tapi aku juga disekolahkan. Boleh dibilang mereka lah keluarga aku. Shota-senpai sudah seperti abangku jadi pada saat aku tahu dia dibunuh, aku merasa marah luar biasa." Chisato tampak sendu. "Shota-senpai itu orang baik tapi kenapa mereka pada tega dengannya. Shota-senpai tidak pernah mencari gara-gara tapi mereka..."
"C, mereka sudah mendapatkan balasannya" ucap Nadya.
"Iya sih nona."
"Sudah kita tidur. Besok kita masih harus menghadapi persidangan lagi."
***
Penjara Federal Hongkong Blok Khusus Pria
Omar Zidane menatap nyalang ke langit-langit ruang selnya. Dilihatnya Sadawira sudah terlelap,. begitu juga dengan Damian.
Pria itu masih belum bisa tidur apalagi tadi dirinya melihat tatapan cemburu Phoenix Hamilton saat dirinya berdiri di belakang Nadya ketika Travis dan Nelson menyempatkan memeluk gadis itu.
Omar teringat ucapan Jayde dan Sadawira. Jangan sampai kamu kejadian mbak Leia kedua. Sejujurnya Omar sudah mulai menyukai gadis cantik yang pemberani itu entah sejak kapan... apa sejak kami bertemu di Mexico?
Pria berdarah Mesir itu mengusap wajahnya berulang kali. Kita lihat saja ke depannya.
Sebuah suara membuat Omar segera bersikap waspada dan Ternyata tidak hanya dirinya yang mendengar suara itu. Sadawira dan Damian pun langsung terbangun, Omar meletakkan telunjuk nya di mulutnya.
Ketiganya bergerak perlahan ke pintu sel yang berupa jari besi baja dan tidak hanya mereka, para generasi keenam terbangun juga.
Luke yang sel nya berada di seberang, memberikan kode untuk tetap waspada. Pedro dan Lucas yang satu sel pun tampak saling menatap.
Mereka semua terkejut ketika melihat para anggota kepolisian Hongkong sudah berada di blok sel mereka dan wajah para anggota kepolisian itu tampak tidak bersahabat.
"Do you think what am I thinking ( kamu berpikir yang sama ), bang?" tanya Bayu.
"Yup. Mereka ingin menghajar kita semua" jawab Luke kalem. "Get ready boys!"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️