Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Astaghfirullah



Kediaman keluarga Pascal


Chisato dan Biana akhirnya yang heboh memilihkan semua perabotan untuk apartemen Sadawira, meskipun pria dingin itu juga menyukai pilihan kekasihnya dan keponakannya yang sesuai dengan seleranya.


Menjelang jam sembilan malam, Sadawira menyelesaikan semua transaksi dan pihak toko menjanjikan akan datang besok pagi jam sepuluh.


"Kita berangkat pagi saja Bia, biar bisa bersih-bersih" ucap Sadawira.


"Setuju Oom! Bia penasaran..."


"Penasaran apa Bia?" tanya Chisato.


"Ada bau bangkai" jawab Biana cuek.


"Paling tikus atau kucing mati, Chisato" senyum Sadawira menenangkan.


Tapi Chisato menatap Biana yang tampak yakin bahwa ada sesuatu di unit apartemen kekasihnya. "Semoga memang hanya bangkai tikus atau kucing..."


***


Apartemen Sadawira Maryland University


Pagi ini pukul tujuh pagi, keluarga Pascal dan Sadawira tiba di apartemen milik calon dokter forensik itu. Sadawira lalu membuka pintu apartemennya dan Pedro mengatakan untuk mengganti pintu apartemennya.


"Ganti saja Wira. Bukan apa-apa meskipun pihak pengawas berhak memegang kuncinya tapi..."


"Mas, please stop jadi agen FBI sehari saja" senyum Nadira sambil mengelus lengan suaminya.


"Maaf sayang tapi..." Pedro menatap istrinya yang hanya menggelengkan kepalanya lembut.


Keempatnya pun masuk dan wajah Pedro langsung berubah. "Yup, ada yang mati disini..."


"Tapi bukan manusia bang. Aku kan pernah tugas di kamar mayat dan tahu lah bau mayat manusia membusuk seperti apa. Sangat berbeda" senyum Sadawira yang sudah membawa peralatan tukang milik Pedro karena hendak membongkar beberapa papan yang tidak perlu. Entah siapa yang memasang tapi membuat estetika nya buruk sekali!


"Yuk kita bersihkan" ajak Nadira sambil membawa sapu dan mesin robot pembersih lantai. Wanita cantik itu lalu mengikat rambutnya dan rambut Biana. Keduanya mengenakan bandana hingga membuat mereka semakin cantik.


Pedro dan Sadawira terpukau dengan gaya kedua wanita dan gadis cilik disana. "Fix bang, kamu bakalan repot nanti kalau Bia dewasa. Akan banyak yang mengejar dia" kekeh Sadawira yang mengakui keponakannya sangat cantik.


"Hadapi aku dulu!" jawab Pedro galak membuat Sadawira tertawa bagaimana posesif nya agen FBI itu ke putrinya. "Ayo kita bongkar papan ini. Harusnya kan tembok ini tidak ada disini kan?"


Pedro dan Sadawira mulai menghancurkan tembok yang tampak baru dipasang dan semakin tembok itu terbuka, semakin baunya menyengat. Nadira membuka jendela agar bau itu menguap sedangkan Biana harap-harap cemas ingin mengetahui apa yang ada di balik tembok itu.


Pedro dan Sadawira melongo ketika melihat 'isi' tembok itu. "Astaghfirullah Al Adzim..."


***


Manchester Inggris


Jayde dan Inggrid sekarang berada di kediaman keluarga Neville Abisatya untuk makan malam. Hubungan persahabatan Jayde dan Inggrid yang sudah naik level, membuat hubungan keluarga Weston dan Neville semakin erat. Bahkan Simon Weston sudah ribut kapan mereka akan melangkah lebih lanjut menuju ijab.


Inggrid sendiri masih mempelajari keyakinan Jayde dan masih memantapkan hati untuk menjadi mualaf. Jayde sendiri tidak meminta Inggrid terburu buru untuk segera pindah. Pria dingin itu memberikan kebebasan kepada Inggrid kapan dia sudah mantap.


"So, kalian mau menikah dimana rencananya kalau sudah yakin?" tanya Taufan.


"Grandpa minta di Aberdeen, Oom Taufan. Dan private, tidak perlu banyak keluarga yang datang..." jawab Inggrid sedikit gugup.


"Tidak masalah kalau hanya keluarga inti yang datang, Grid. Tahu sendiri Grandpa kamu kan orangnya tidak suka keramaian. Yang penting sahnya ... Keluarga besar Jayde juga pasti tidak keberatan" senyum Natalie.


"Benar tidak apa-apa Tante?"


"Inggrid, kan acara pernikahan yang punya acara adalah pihak pengantin wanitanya jadi kita ikut saja. Bukan gitu mas?" Natalie menatap suaminya.


"Yup, tidak masalah. Soalnya kami juga bakalan pening jika pada datang ke Aberdeen..." balas Taufan yang disambut tawa kecil Jayde.


"Nggak kebayang rusuhnya Dad" senyum Jayde.


Inggrid merasa senang karena keluarga Jayde sangat pengertian tentang keinginan Simon Weston sebab meskipun nanti yang menjadi wali nikah adalah dari pihak imam mesjid karena Grandpa nya berbeda keyakinan, tapi dia ingin suasana sakral tetap terjaga.


"Terima kasih Oom Taufan, Tante Natalie, atas pengertiannya. Grandpa pasti akan senang karena nanti acaranya private" jawab Inggrid.


"Nanti biar Oom dan Tante yang mengurus keluarga besar dan alasannya kenapa kalian ingin private wedding." Taufan menatap Inggrid dan Jayde.


***


Apartment Sadawira Maryland University


Pedro dan Sadawira saling berpandangan melihat adanya banyak bangkai kucing disana dan dokter itu menghitung ada tiga ekor berdasarkan dengan tulang serta tengkorak yang ada.


"Siapa yang tega membunuh kucing? Dan menyimpan nya dengan plastik lalu disimpan di tembok?" gumam Nadira yang merasa kasihan dengan kucing-kucing itu.


"Apa yang kalian lakukan?"


Pedro dan Sadawira menoleh ke arah suara dimana Foster berdiri di depan pintu.


"Agen Pascal, FBI. Apakah kamu pengawas gedung apartemen ini?" tanya Pedro sambil menunjukkan tanda pengenal nya.


"Iya aku Foster. Apa yang terjadi?" tanya Foster.


"Bisakah aku melihat daftar penghuni apartemen sebelum Sadawira? Dan jelaskan padaku, sejak kapan ada tembok tambahan disini?" Pedro menunjukkan tembok yang sudah hancur separuh.


"Memang ada apa?" Foster menatap tidak suka ke Pedro.


"Lihat saja sendiri!"


Foster melongok ke rongga tembok yang hanya terbuat dari papan dan insulasi dinding. Dirinya terkejut dengan adanya tiga bungkus plastik berisikan kerangka binatang. "Binatang apa ini?"


"Kami rasa mereka adalah kucing" jawab Sadawira dingin.


"Kamu, berikan semua data penghuni sebelumnya." Pedro menggiring Foster sambil menelpon tim CSI dan kepolisian Maryland untuk menyelidiki kasus ini karena di negara bagian Maryland, ada hukum tersendiri untuk animal abuse dan sangat berat hukumannya.


"Alamat acara taruh perabotan nya ditunda deh..." gumam Biana sambil manyun. "Tapi Bia benar kan Oom kalau ada mayat disana."


Sadawira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Dasar kamu anaknya agen FBI. Instingnya langsung berjalan. Mbak Dira, bahaya kalau Bia ikutan bang Pedro."


"Aku juga tidak mau Bia ikutan mas Pedro! Aku lebih suka kalau Bia terjun di dunia akademik saja" ucap Nadira. "Bukan apa-apa, Wira. Resikonya lebih tinggi apalagi macam mas Pedro yang harus menangani kasus aneh-aneh."


"Yup... " jawab Sadawira.


Sepuluh menit kemudian tim CSI, kepolisian Maryland dan dua agen rekan Pedro pun datang. Bertepatan dengan truk Haul yang membawa perabotan, datang kesana. Sadawira hanya bisa manyun karena harus menambah ekstra charge karena kemungkinan penyelidikan baru selesai menjelang siang.


Ampun deh! Ada-ada saja!


Berbeda dengan Biana yang antusias melihat bagaimana tim CSI dan kepolisian bekerja bahkan gadis cilik itu sibuk memperhatikan mereka dari balik garis polisi.


***



Siapa kangen Bu Dosen dan agen FBI nya ?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️