Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Perjalanan ke Tokyo



Changi Airport Singapura


Malam ini para rombongan Manchester, New York dan Dubai berangkat menuju Tokyo. Pesawat milik Keluarga O'Grady terbang kembali ke New York sedangkan pesawat yang disewa oleh Nadya, sudah kembali ke London.


Wira, Chisato, Jayde dan Inggrid berada di pesawat milik Yakuza Takara sedangkan rombongan New York di pesawat milik keluarga Al Jordan Dubai.


***


Di Pesawat Keluarga Takara


"Jadi apa rencana bang Luke ke Hongkong?" tanya Jayde yang sedang diganti perban oleh Sadawira. Dokter muda itu tidak lupa membawa tas dokternya. Luke sudah membereskan ke kepolisian Singapura bahwa keduanya selamat tapi dibuat meninggal dengan memberikan dua mayat yang sudah membusuk hingga tidak bisa dikenali. Luke meminta dua mayat itu dikremasi agar tidak ada pemakaman.


Langkah ini dipakai Luke untuk membuat Triad Wong mengira Sadawira dan Jayde sudah tewas. Namun kepolisian Singapura tahu bahwa itu hanya kamuflase dengan barter kasus perdagangan organ tubuh manusia di beberapa rumah sakit di Singapura berdasarkan dengan bukti-bukti yang dikumpulkan Sadawira.


"Well setelah Singapura sudah bersedia bekerja sama, aku berencana mengobrak Abrik Hongkong. Satu hal yang pasti, tidak seperti di Rio de Janeiro, di Hongkong, aku tidak akan menahan diri! Kalian juga harus bersiap dengan kemungkinan yang akan terjadi" ucap Luke serius.


"Kita dihukum internasional?" kekeh Jayde.


"Dipenjara? Tapi setelah menghabisi Triad Wong? Nggak masalah!" sahut Sadawira cuek.


"Shin, mendingan kamu tinggal di Tokyo. Bukan apa-apa, kamu sekarang posisinya adalah salah satu ilmuwan muda yang sedang naik daun di Tokyo dan aku tidak mau kamu terseret masalah!" Luke menatap adiknya yang imut itu.


"Shin bantu..."


"Nggak usah Shin. Jangan sampai kamu terlibat. Bang Lukie mohon. Ini situasinya berbeda. Kamu sudah dalam pengawasan NASA dan JAXA jadi jangan sampai ada tersangkut skandal apapun."


Shinichi menatap wajah Luke yang tampak serius dan pria imut itu pun mengangguk. "Baik bang." Bagi Shinichi kalau wajah Luke sudah serius berarti tidak bisa diganggu gugat.


Jayde dan Sadawira melihat sepupu mereka yang jenius tapi kelakuan Membagongkan tampak sedih karena tidak bisa ikut gegeran. Tapi mereka juga maklum karena Shinichi akan diincar banyak badan antariksa dengan screening sangat ketat. Satu skandal saja, dia akan dianggap membahayakan negara.


"Untuk kali ini Shin, pikirkan dirimu sendiri. Kami tidak apa-apa, doanya saja kita bisa terbebas dari Triad Wong" ucap Sadawira.


"Iya Shin. Kamu itu adalah satu-satunya di generasi keenam yang termasuk ilmuwan muda. Jangan sampai kamu masuk penjara demi kami berdua. Fisika adalah hidup kamu, roket rancangan kamu mendapatkan applaus tersendiri. Jangan sia-siakan..." sambung Jayde.


Shinichi hanya mengangguk.


"Nanti bang Lukie bilang ke Kedasih untuk mengawasi kamu!"


Shinichi pun manyun karena Kedasih jauh lebih ketat pengawasannya.


***


"Hajar bleh?" tanya Damian.


"Hajar bleh! Kata bokap, jangan tanggung kalau mau hajar ! Sekalian!" jawab Bayu cuek membuat Omar Zidane melongo.


Sudah kemarin ngamuk di hutan Sandy, sekarang mau menghabisi Triad Wong? - batin Omar membuat kepala nya pening.


"Tapi senjata kita ya cuma ini yang bisa dibawa" ucap Radeva.


"Siapa bilang kita harus bawa senjata dari Tokyo?" sahut Bayu. "Kata Luke, Triad Chen sedang mempersiapkan amunisi kita di Hongkong."


"Astaghfirullah... " gumam Omar dan Pedro.


"Kenapa OZ? Biasa saja lah! Macam kamu tidak hapal keluarga aku saja" kekeh Nadya yang duduk di sebelah Omar. Gadis itu sedang asyik mempelajari kasus kliennya di iPad tapi tetap mendengarkan percakapan saudara-saudara lelakinya.


"Nad, apa kamu juga ikut besok? Maksud aku menyerbu ke Hongkong?" tanya Omar.


"Ikut lah! Edan opo aku ora Melu ( gila apa aku tidak ikut )!" celetuk Nadya yang membuat Omar bingung dengan ucapan gadis itu.


"Kamu ngomong apa? Pakai bahasa apa itu?" tanya Omar.


"Pakai bahasa Jawa yang intinya aku bakalan ikut!" jawab Nadya tegas.


"Tapi jika kita disana, kamu jangan jauh-jauh dari aku!" Omar menatap serius ke mata hazel green Nadya.


"Iya OZ" jawab Nadya akhirnya.


"Anak pintar!" senyum Omar sambil menepuk kepala Nadya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Sambung nanti insyaallah...


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️