
Apartemen Sadawira
Forest dan Antoine duduk di lantai dengan tangan terborgol di belakang. Semua agen FBI dan DEA menahan penghuni apartemen itu dan membawanya ke mobil tahanan. Dan yang membuat mereka terkejut, sebagian besar penghuni apartemen adalah DPO DEA.
Mereka memang tidak terdeteksi karena dikenal tidak muncul di permukaan dengan memilih stay low dan hanya keluar di malam hari, itupun dengan masker atau syal.
"Jadi kelima perampok disini?" tanya Jammie Keller.
"Yes, Agen Keller" jawab salah satu agen DEA.
Jammie tersenyum lebar. "Akhirnya tertangkap semua." Wanita itu memerintahkan semua orang menscan semua tembok di apartemen untuk mencari k*kain yang disembunyikan disana.
Pedro dan Kevin memperhatikan bagaimana empat agen DEA membongkar tembok apartemen Sadawira.
"Pedro, aku rasa adik iparmu akan lemas melihat apartemennya berantakan dengan tembok bolong sepulang dia dari kampus" kekeh Kevin.
"Yup." Pedro tertawa kecil. Mana ada stiker tuxedo sam dari Biana juga di dinding itu.
"Jangan khawatir Pascal. DEA akan mengganti biayanya perbaikannya yang tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang kami dapatkan." Jammie tersenyum ke arah Pedro.
"Well, aku rasa itu adil. Bagaimana dengan pengelolaan apartemen ini?" tanya Pedro.
"Pihak pengelola sudah kami hubungi dan mereka akan mengirimkan pengawas baru. Frankly, mereka tidak memikirkan apapun karena Forest dengan cerdiknya tetap memberikan pembayaran ke pihak pengelola rutin jadi tetap aman. Bottom line, bukan apartemen yang dianggap bermasalah" sahut Billy Boyd.
"Smart. Dan Forest menganggap Wira adalah orang yang gampang diintimidasi?" Pedro melirik ke arah Forest. "Listen up Dude ( dengar chuy ), adikku itu adalah vampir dan dia sudah menghadapi masalah yang jauh lebih berat dari ini ! Bersyukurlah nyawa kamu tidak melayang saat kamu hendak masuk paksa kemari !"
"Apa maksudmu Fed ?" ejek Forest.
Pedro menunjukkan rekaman CCTV ruang Sadawira dan pintu apartemen dimana pria berwajah dingin itu sudah menodongkan Glocknya ke pintu saat Forest dan Antoine berusaha masuk.
Vampir Satu
Forest dan Antoine terkejut betapa tipisnya nyawa mereka di balik pintu.
"Adikku itu pembunuh berdarah dingin. Dan aku yakin jika kamu tetap nekad, dia akan bisa menghilangkan mayatmu tanpa jejak !" seringai Pedro membuat Kevin dan Billy menggelengkan kepalanya.
Terlalu hiperbola tapi memang iya sih... Wira macam vampir pembunuh berdarah dingin.
Tembok itu pun terbuka dan tampak tumpukan bungkusan putih yang melebihi tumpukan emas kalau Dimata agen DEA, membuat semua orang tersenyum lebar.
"Agen Keller, kamu menemukan di kamar 201" lapor salah satu agen melalui earpiece.
"Ada di kamar 206."
"Kamar 301."
"Kamar 303."
"Kamar 105."
"Ruang Pengawas."
Semua agen disana menyeringai. Gotcha !
***
Berita penemuan tiga kwintal k*kain yang sempat dirampok empat tahun lalu, membuat heboh. Apartemen Sadawira tentu saja kena segel begitu juga dengan bangunannya sementara waktu hingga penyelidikan selesai.
Sekali lagi Sadawira harus pindah tidur ke rumah Pedro dan Nadira membuat Biana senang karena Oom Vampirnya bakalan bersamanya di rumah. Dan ada yang bisa mengajari memegang pistol serta bela diri. Bagi Biana, dengan ada Oom Wira-nya, acara latihan menembak dan ke Dojo akan sangat menyenangkan.
***
Manchester Inggris, Ruang Kerja Jayde di PRC Group
Jayde sedang sibuk membaca laporan keuangan ketika sekretarisnya mengatakan kalau Inggrid Pascale datang dan pria itu mengijinkan gadisnya untuk masuk. Memang rencananya mereka akan makan siang bersama dan karena Jayde masih berkutat dengan pekerjaannya, Inggrid lah yang datang ke kantornya.
"Hai baby" sapa Inggrid setelah masuk ke dalam ruang kerja Jayde. Sekretaris pria itu lalu menutup pintu ruang kerja Bossnya.
"Hai sayang. Tunggu sebentar, aku masih memeriksa sedikit lagi" senyum Jayde yang sedang membaca laporan di layar monitor mengenakan kacamata anti radiasi nya.
Inggrid menghampiri Jayde dan meletakkan dagunya di bahu kekasihnya. "Apa kamu sudah dengar?"
"Dengar apa, cherié?" balas Jayde.
"Apartemen Sadawira jadi TKP ( tempat kejadian perkara ) kasus perampokan k*kain empat tahun lalu."
Jayde menoleh ke arah Inggrid. "Apa?" Jujur pria itu sedang disibukkan dengan pembukuan kwartal akhir jadi dirinya sedikit kurang update. Jayde memutar kursinya dan menarik Inggrid untuk duduk diatas pangkuannya. "Apartemen Wira ada k*kain? Kok bisa?"
"Lho kamu nggak tahu Jayde?" balas Inggrid bingung sambil merangkul leher kekasihnya.
"Jujur aku belum membuka berita apapun, sedang mencari selisih £1,765,45 ini." Jayde mencium bibir Inggrid sekilas. "Bagaimana ceritanya?"
Inggrid menceritakan apa yang dia tahu dari cerita Chisato yang mendapatkan berita dari kekasihnya sendiri. Inggrid dan Chisato memang menjadi akrab serta dekat semenjak kekasih mereka masing-masing mengalami peristiwa tidak mengenakan.
"Oh my God... Kenapa sih anak itu macam Hajime Kindaichi yang selalu ketemu hal-hal kriminal? Dimana dia berada pasti ada kasus !" sungut Jayde membuat Inggrid tertawa.
"Mungkin karena wajahnya yang macam vampir?" senyum Inggrid.
Jayde tersenyum. "Grid, kita menikah sederhana ya?"
"Oh soal itu... " Inggrid tersenyum. "Aku hendak cuti dua bulan, Jayde. Aku hendak ke Mekkah."
"Ngapain?" tanya Jayde bingung.
"Aku diundang putri Alesha dari Qatar yang sekarang tinggal di Mekkah untuk menanamkan saham di rumah sakit milik nya dan suaminya. Dan, aku ingin sekalian belajar keyakinan kamu disana. Bagaimana menurutmu? Bukankah lebih bagus belajar di pusatnya?" Inggrid menatap serius ke Jayde membuat pria itu memandang kekasihnya dengan perasaan terharu.
"Ya Allah Grid, serius?"
"Yes. Putri Alesha juga akan membimbing aku. well, sambil bisnis tapi juga sambil belajar kan?"
Jayde memeluk erat Inggrid. "I'm so proud of you, darling."
Inggrid tersenyum. "Terimakasih atas semua support nya, Jayde."
"Always." Jayde mencium bibir Inggrid lembut. "Nah, sekarang kita makan. Aku lapar !"
Inggrid tertawa. Hatinya terasa lega usai menyampaikan rencananya karena Inggrid ingin segera bersama dengan Jayde, pria yang selalu ada bersamanya sejak remaja.
***
Kamar Jayde di Kediaman keluarga Abisatya malam harinya ...
"Bagaimana?" tanya Jayde ke seseorang di layar MacBooknya.
"Mr Neville, yang hilang tidak hanya £ 1,765,45 tapi menembus ke angka £450,875" ucap orang itu.
"Bagaimana Grandpa Simon tidak mengetahuinya?" gumam Jayde.
"Karena Sir, yang mencuri uang milik perusahaan Weston, adalah orang dalam sendiri. Ini yang baru ketahuan oleh kita, Sir. Saya menyelidiki lebih dalam, kerugian yang dialami Mr Weston menembus angka £1 juta. Mereka mengambilnya dengan sangat rapi dan melemparkannya ke beberapa perusahaan cangkang fiktif."
"Siapa orang itu? Apakah tebakan aku benar selama ini?"
"Benar Mr Neville. Otak dari pencurian dan pencucian uang ini adalah sekretaris paman Miss Inggrid yang sangat dia percaya."
Rahang Jayde tampak mengeras. "Tangkap dia ! Biar aku sendiri yang menghajarnya !"
"Yes Sir !"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️