
Pengadilan Tinggi London Inggris
Simon Weston berpelukan dengan kedua anaknya, Stephan dan Gabriella, saat hakim ketua memutuskan bahwa Drake dan Bryce beserta semua komplotannya, dimiskinkan secara paksa oleh negara.
Travis Blair dan Steven Hamilton sendiri langsung menemui jaksa penuntut umum lalu menyalaminya serta mengucapkan terimakasih. Jayde dan Taufan saling berangkulan karena mereka bisa mengambil uang yang dicuri dari Weston Diamond Ltd kembali.
Simon langsung memeluk Jayde erat dan berbisik di telinga pria yang dipanggil vampir itu. "Kalian mau menikah kapan? Dimana? Mau seberapa mewah?"
Jayde melerai pelukan dari Simon Weston. "No Grandpa, aku dan Inggrid sudah sepakat kami ingin menikah diam-diam dan private."
Simon Weston mengernyitkan dahinya lalu tersenyum licik. "Kamu malas pusing dengan saudara - saudara mu yang durjana itu kan?" kekeh pria paruh baya itu.
Jayde hanya menyeringai.
"Grandpa dukung kamu. Rencananya mau dimana?"
"Kastil Grandpa yang di Aberdeen. Tapi nanti usai Inggrid pulang dari Mekkah dan kami ingin di bawah radar. Grandpa kan tahu bagaimana keponya keluarga aku?"
Simon menepuk bahu Jayde. "Oke. Kita bahas nanti. Sekarang yang jelas, aku ingin makan enak !"
***
RR's Meal London, Ruang VIP.
"Jadi benar-benar dimiskinkan?" tanya Arjuna dan Aidan saat tahu Simon menang gugatan.
"Yup. Dan mereka dihukum 15 tahun penjara untuk kejahatan ini. Kata agen Atlas, setelah ini mereka akan dituntut secara pidana untuk kasus pembunuhan agen MI6. Kemungkinan besar akan dihukum seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat" jawab Simon.
"Alhamdulillah... Akhirnya keadilan ditegakkan..." jawab Aidan. "Jayde, kapan kamu melamar Inggrid?" tanya chef Michelin yang sudah pensiun itu ke Jayde yang sedang menelpon Inggrid.
"Masih betah pacaran aku ! Santai saja Opa" jawab Jayde cuek membuat kedua opanya menggelengkan kepalanya.
"Padahal kan enak pacaran legal" gerutu Arjuna.
"Biarkan saja. Aku percaya dengan Jayde yang selalu menjaga Inggrid. Kalian jangan khawatir..." senyum Simon.
"Tapi kelamaan pacaran kan juga tidak bagus..." gumam Aidan.
"Inggrid masih dalam proses belajar, Ai. Biarkan dia mendalami keyakinan Jayde dulu sekalian memantapkan hati" bela Simon.
"Ah, kamu benar Simon. Maafkan kami yang terlalu memaksakan kehendak..." ucap Arjuna.
"Aku tahu tujuan kalian para opanya baik, tapi mereka sudah dewasa, sudah tahu batasannya. Doakan saja agar mereka segera menikah" senyum Simon.
"Aamiin."
***
Ruang Kerja Pedro Pascal.
"Kamu belum pulang?" tanya Pedro ke Sadawira yang datang ke ruang kerjanya.
"Dokter Deborah memang mengajak aku pulang tapi aku ingin bertemu dengan mu bang." Sadawira lalu duduk di kursi setelah Pedro memberikan kode vampir dua itu duduk.
"Kamu mempertanyakan siapa pembunuhnya?" tanya Pedro yang harus terlibat karena sudah berhubungan dengan empat negara bagian.
"Yes. Apakah suaminya Helena Petit?" Sadawira menatap dingin ke arah Pedro.
"Kemungkinan besar iya. Tapi kami masih mencari bukti fisik dan langsung, bukan bukti tidak langsung yang bisa membuatnya bebas lenggang kangkung!" jawab Pedro.
"Bang, apakah latar belakangnya asmara?"
Pedro menggelengkan kepalanya. "Abang belum mendapatkan kepastian. Ini suaminya sedang ditahan oleh kepolisian Delaware. Dia ditangkap di rumah kedua orangtuanya. Sekarang sedang di bawa kemari."
Sadawira memegang pelipisnya. "Kok ada orang yang tega seperti itu?"
"Buktinya ada Wira. Oh, bagaimana dengan tembok mu?" goda Pedro.
"Penuh dengan stiker Sanrio dan membuatku pusing bang..."
Pedro terbahak. "Jangan kamu lepas. Bia bisa ngamuk... "
"Anakmu itu deh bang ! Ampun!"
***
Medical School Maryland University, Ruang Medical Examiner
Sadawira melupakan kejadian kasus mutilasi dan sekarang giliran dirinya berjaga malam di kamar mayat demi menambah kredit kuliahnya. Pria itu merasa tenang di area yang banyak dihindari para mahasiswa kedokteran karena angker.
"Damn, Oma ... Kasus Oma kok lebih kacau dibandingkan aku sih?" kekeh Sadawira.
Pria itu lalu mempelajari teknik Alexandra meskipun dirinya punya teknik sendiri. Suara ponsel miliknya berbunyi membuat Sadawira memasang airpods nya.
"Assalamualaikum... " sapanya.
"Wa'alaikum salam. Wira, kamu dimana?" tanya Lt. Ahmed Ja'far.
"Aku di kamar mayat. Jaga malam. Kenapa Lieutenant?"
"Kamu bisa ke restauran Dario di tengah kota?"
Sadawira mengerenyitkan dahinya. "Ada apa?"
"Dario tewas di ruang freezer dan dokter Deborah membutuhkan asistenmu. Oh bawa jaketmu, yang paling tebal!"
Sadawira hanya bisa melongo. Tewas karena beku?
***
Restauran Dario di Pusar Kota
Sadawira menatap tidak percaya melihat chef terkenal itu tewas dalam lemari pendingin tempat bahan makanan disimpan.
"Berapa ini suhu nya?" tanyanya sambil gemetaran kedinginan.
"Minus 10 derajat" jawab Lt. Ahmed.
"Celsius?" tanya Sadawira sambil menghampiri Dokter Deborah.
"Fahrenheit."
"Minus 23 derajat Celcius? Damn !" ucap Sadawira dengan gigi gemeletak kedinginan.
"Ingat yang panas - panas..." kekeh Lt. Ahmed Ja'far.
"Kompor, api unggun ..." gumam Sadawira sambil memeriksa mayat Dario. "Kita bawa sekarang dok?" Pria itu menatap Dokter Deborah yang kedinginan.
"Bawalah ! Jangan sampai kita semua ikutan jadi mayat beku juga !" ucap Dokter Deborah manyun.
***
Ruang Medical Examiner Maryland University
"Kita tidak bisa memanaskan mayat ini dok..." gumam Sadawira saat menempatkan jenazah Dario di ruang tersendiri.
"Tubuhnya sudah mencair, tapi dalamnya masih beku dan bisa mempercepat pembusukan. Bisa kacau nanti para CSI tidak bisa mencari bukti-bukti disana" jawab Dokter Deborah.
"Butuh berapa lama?" tanya Chief Roby, ketua tim CSI. Wanita berkulit hitam itu tampak meneliti mayat Dario dan memotret nya.
"Tiga hari."
"Oke dokter Deborah, biar anak buahku datang kemari untuk mengumpulkan semua barang bukti dari mayat ini..." Chief Roby pun meninggalkan ruang itu. "Aku harus mendapatkan bukti di ruang pendingin."
"Good luck Chief Roby, jangan sampai kamu membeku" kekeh Dokter Deborah.
Sadawira merasakan ponselnya bergetar dan melihat nama Pedro Pascal disana. Pria itu menerima panggilan kakak iparnya.
"Assalamualaikum bang" sapa Sadawira membuat dokter Deborah dan chief Roby menoleh ke arahnya.
"Wa'alaikum salam. Abang cuma mau kasih tahu. Sudah mendapatkan pembunuh Helena Petit."
"Siapa? Suaminya?"
"Ya, suaminya."
"Muti*lasi saja dia ! Pria b@jing@n !" geram Sadawira.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️