Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Di Mansion Giandra Jakarta



Manchester Inggris


Inggrid dan Jayde sekarang berada di restauran Jepang untuk menikmati acara makan siang. Gadis itu hanya tersenyum smirk melihat dua agen MI6 tampak mengikuti mereka berdua.


"Apa sebaiknya kita ajak makan bersama, Grid?" tawar Jayde sambil menoleh ke arah dua agen yang sedang menunggu di mobil mereka.


"Kita mau kencan berdua atau mau traktir agen federal?" pendelik Inggrid judes.


"Oh ya tentu saja kencan, Dear Inggrid" senyum Jayde.


"Jayde..."


"Hmmm?"


"Are you sure ( apa kamu yakin )?" Inggrid menatap Jayde serius.


"About what ( tentang apa )?" balas Jayde santai.


"Us ( kita )."


Jayde menatap dalam mata biru gadis campuran Perancis dan Inggris Skotlandia itu. "Dengar Inggrid, apakah kamu pernah mendengar aku kencan?"


"Nope."


"Aku selalu bersama..."


"Aku" jawab Inggrid.


"Kita selalu?"


"Bersama."


"Rasanya?"


"Nyaman dan aku selalu percaya kamu."


Jayde tersenyum puas. "Itu yang aku rasakan Grid. Disaat aku mengalami masalah, siapa yang aku hubungi?"


"Aku."


"Saking aku percayanya denganmu Grid. Aku dan kamu saling percaya, saling mengerti satu sama lain. Dan dari situ aku merasa bahwa kita bisa menjadi pasangan yang cocok."


Inggrid memandang wajah Jayde yang biasanya dingin tapi selalu lembut dengannya dan keluarganya. Bahkan dengan Grandad masih kelihatan dingin.


"Jayde, honestly, aku masih harus menata perasaan aku sama kamu karena kita berdua sudah terbiasa nyaman dan menaikkan level menjadi lebih dari sekedar sahabat itu butuh waktu..."


Jayde tersenyum manis. "I know. Kita jalani saja, Grid. Seperti biasanya meskipun nanti perhatian aku lebih dari sahabat..."


"Aku tidak menyangka saja jika perasaan kamu bisa berubah, Jayde." Inggrid menatap ke wajah tampan Jayde. "Apa yang membuat kamu seperti ini?"


"Ingat saat aku pergi ke Singapura buat tinggal bersama Wira? Dan pelan-pelan kita mengambil uang Triad Wong? Sejak saat itu aku semakin sayang sama kamu karena kamu tanpa berpikir panjang langsung membantu aku. Dan setiap hari aku semakin care dengan mu dan selalu berdoa kamu tidak diincar oleh Triad Wong. Sebab kalau sampai terjadi apa-apa padamu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena sudah menyeret kamu dalam masalahku..."


Inggrid memegang tangan Jayde. "Kamu lupa aku didikan daddyku. Sejak kecil aku sudah digembleng oleh Daddy karena dia adalah agen MI6 yang memiliki pekerjaan berbahaya dan kami sekeluarga bisa menjadi target."


"Aku tidak lupa, Grid. Tapi tetap saja..."


Inggrid memegang pipi Jayde. "Buktinya kita baik-baik saja kan?"


Jayde tersenyum. "Alhamdulillah..."


Inggrid menatap serius ke Jayde. "Bisakah kamu mengajari aku soal keyakinanmu? Kamu tahu sendiri kan, aku percaya Tuhan itu ada tapi ya hanya itu."


Wajah Jayde tampak sumringah. "Aku ajari kamu pelan-pelan ya..."


Inggrid mengangguk sambil tersenyum. "Ini kencan perdana usai kasus Hongkong ya Jayde."


"Insyaallah akan ada kencan-kencan lainnya." Jayde menowel hidung Inggrid.


***


Jakarta Indonesia


Hoshi dan Sadawira tiba di Jakarta dari Tokyo, langsung menuju ke mansion Giandra untuk menemui keluarga Giandra dan Yustiono. Ega, ayah Sadawira, sudah meminta Hoshi untuk membawa putranya langsung kesana.


Setibanya mereka di mansion Giandra, wajah bahagia Danisha tampak di depan pintu membuat Sadawira langsung memeluk Omanya itu.


"Alhamdulillah kamu selamat nak. Tidak ada yang luka kan?" tanya Danisha sambil memindai cucunya itu.


"Gimana rasanya tidur di penjara?" tanya Iwan Yustiono yang datang menghampiri mereka.


"Nggak enak! Apakah opa tahu, pada jadi tukang ngorok! Langsung deh orchestra satu blok dengan dengkuran berbagai nada tanpa adanya pitch control" senyum Sadawira.


"Kok kamu jadi ceriwis begini?" Danisha menatap cucunya tajam. "Apakah kamu sudah punya pacar?"


Wajah Sadawira memerah.


"Ayo sini, cerita sama Oma!" Danisha merangkul lengan Sadawira dan mengajaknya masuk ke ruang tengah.


Iwan menatap Hoshi yang masih memasang wajah datar. "Thanks Hosh..." ucap opa Sadawira itu.


"Anytime Oom. Alhamdulillah sudah ayem kan Oom?" Hoshi berjalan bersama Iwan masuk ke ruang tengah.


"Alhamdulillah meskipun kata Bara ada polisi yang mengawasi mansion. Mau cari apa di mansion karena isinya hanya manula semua" kekeh Iwan.


"Mereka takut kita ngamuk lagi" senyum Hoshi.


"Kita ngamuk kan karena ada pasal. Bagaimana dengan yang lain?" tanya Iwan.


"Sama lah! Sampai semua orang yang tidak ada kaitannya dengan Hongkong, kena pengawasan termasuk Sean dan Zee."


Iwan terkejut. "Sean dan Zee? Tapi mereka itu raja dan ratu Belgia dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Hongkong! Benar-benar deh!"


"Apakah Oom Iwan tahu, pacar Sakura, Alessandro Moretti pun kena pengawasan."


"Padahal Ale di..."


"Milan. Dia ada acara fashion show dan launching produk baru. "


Iwan menggelengkan kepalanya. "Astaghfirullah... Alessandro tahu?"


"Sepertinya tidak tapi entah kalau di tahu." Hoshi mengedikkan bahunya.


***


Bara dan Arum langsung memeluk Sadawira, begitu juga dengan Anjani sang ibu. Untuk pertama kalinya, pria itu menangis dalam pelukan Anjani dan wanita ayu itu mengelus kepala dan punggung putra semata wayangnya.


"Alhamdulillah kamu sudah pulang nak" bisik Anjani. "Mommy tahu kalau kamu lelah..."


"Wira capek mom..." ucapnya di sela-sela isaknya.


"Njani, biarkan Wira istirahat dulu, ditemani" ucap Arum. "Tante takut dia terkena PTSD, seperti Lila dan mungkin semua orang yang terlibat."


"Baik Tante. Yuk sayang, kamu masuk kamar sama mommy." Anjani menggandeng tangan Sadawira untuk masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan sebelumnya.


***


"Hosh, bagaimana dengan mental Wira?" tanya Bara di ruang tengah yang duduk bersama Arum, Iwan dan Danisha.


"Fisik dan psikisnya kena kalau Wira. Capek. Lila dan Jayde sampai isinya tidur terus kata Ayrton dan Taufan."


"Ada banyak cara orang mengatasi PTSD nya. Mungkin Jayde dan Lila memilih tidur tapi setidaknya mereka merasakan nyaman sudah berada di lingkungan yang mereka kenal dan aman" ucap Arum.


"Mbak Arum, apakah Wira akan bisa kembali seperti dulu?" tanya Danisha.


"Insyaallah, Nisha. Ada baiknya Wira tinggal disini sebulan dua bulan sebelum memutuskan jadi ambil forensik atau tidak. Biar dia menyembuhkan luka yang tidak terlihat di hatinya. Bagaimana pun, anak itu terpaksa harus membunuh mantan sahabatnya dan itu tidak mudah. Wira memang seorang dokter tapi semua kejadian setahun belakangan ini memang menguras energi nya" jawab Arum.


"Selama kita disini, ada baiknya ditanya yang ringan-ringan saja dan kita buat nyaman. Kasihan anak itu. Aku mengakui Wira pemberani macam Daddy dan Ogan Abi tapi tetap saja ada perasaan yang kita tidak bisa rasakan seperti yang dia rasakan" sambung Bara.


"Hosh, berapa lama kita tidak boleh masuk Hongkong?" tanya Iwan.


"Bisa jadi, sak lawase ( selamanya )" jawab Hoshi kalem.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️