
Penjara Federal Hongkong
Nelson tersenyum melihat adiknya berjalan menuju area masuk penjara dimana semua keluarganya sudah pada menunggu. Nadya menghambur ke kakak lelakinya itu dan keduanya saling berpelukan. Travis, Steven, Marisol, Michael dan para tim pengacara lainnya sudah menyelesaikan administrasi di kantor jaksa dan kehakiman juga sudah berada di penjara untuk berangkat bersama ke bandara.
Sky Chen sendiri sudah memesan tiga bus yang bisa membawa banyak orang untuk ke bandara. Semua bawaan para generasi keenam yang tertinggal di markas Triad Chen, sudah dibereskan meskipun sebenarnya generasi keenam lebih mementingkan paspor dan barang-barang pribadi yang lebih penting.
Menjelang jam tiga sore usai makan siang di sebuah restauran, semua rombongan tiba di runaway tempay pesawat milik keluarga Blair Emir, Blair Lawyer, Giandra, Bianchi dan dua pesawat yang disewakan oleh Benji dan Àbiyasa yang akan membawa tiga agen Federal ke Tel Aviv, Muenchen dan Jakarta sudah siap untuk tinggal landas.
Semua orang saling berpamitan dan tampak bersyukur bahwa akhirnya mereka bisa keluar Hongkong. Pihak autoritas Hongkong mengawasi mereka semua masuk ke dalam pesawat masing-masing. Dan tepat pukul tujuh malam, semua rombongan sudah meninggalkan Hongkong.
***
Pesawat Bianchi
Hoshi dan Luca tampak tertidur begitu juga dengan Luke dan Hidetoshi. Pesawat Giandra yang tadinya membawa Hoshi dan Luca sudah terbang ke Jakarta untuk membawa Lucas Syahputra dan rombongan BIN.
Perjalanan dari Hongkong ke Tokyo membutuhkan waktu sekitar 4 jam 30 menit, membuat beberapa orang menyempatkan diri untuk bisa tidur tapi tidak dengan Sadawira dan Chisato.
Dua orang yang dikenal dingin itu hanya bisa saling melirik satu sama lain seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang terucap.
"Chisato..." Akhirnya Sadawira membuka mulutnya.
"Haik, Wira-san?" balas Chisato.
"Maaf..."
"Eh?" Chisato menoleh ke arah pria dingin itu. "Doushita no ( kenapa )?"
"Gomen sudah membawa kamu dalam permasalahan ini" jawab Sadawira dengan wajah serius.
"Daijoubu ( tidak apa-apa ). Aku juga untuk membalas dendam Bang Shota." Chisato tersenyum manis.
"Hontou ( benarkah )?" tanya Sadawira.
"Wira-san, aku tidak apa-apa. Sungguh! Bahkan aku bisa akrab dengan Nadya-san dan Katrin-san. Mereka mengundang aku datang ke New York atau ke Muenchen jika waktunya tepat" jawab Chisato sambil tertawa kecil. "Padahal kapan aku bisa kesana ya?"
"Nanti sama aku..." balas Sadawira sambil lalu.
"Eh?" Chisato terkejut. "Nani tte itta no ( kamu bilang apa )?"
"Eh?" Sadawira terkejut dengan omongannya sendiri. "Chisato, boleh tanya sesuatu."
"Douzo ( silahkan )."
"Apa kamu... sudah punya ... pacar?"
Wajah Chisato memerah. "Kenapa Wira-san bertanya seperti itu?"
"Well, aku bukan orang romantis Chisato tapi entah kenapa sejak pertama kali melihat kamu di markas bang Luke, aku sudah tertarik padamu. Kamu bukan tipe cewek lemah... Sejujurnya di keluarga aku, semua suka cewek yang bisa stand up. Tidak apa kamu cengeng tapi kamu punya prinsip yang kuat... Dan... " Sadawira menatap Chisato serius. "Setelah kita di Singapura banyak berinteraksi, aku merasa kalau aku tertarik padamu..."
Chisato melongo tidak percaya mendengar ucapan panjang lebar dari pria yang selama ini dia tahu sama dinginnya dengan kakaknya yang juga notabene bossnya.
"Wira-san ... Shinkendesu ka ( apakah kamu serius )?"
"Watashi wa anata no koto o totemo shinken ni kangaete imasu ( aku sangat serius padamu )" ucap Sadawira dengan bahasa formal membuat Chisato semakin tidak percaya di balik wajah vampirnya, pria itu memendam perasaan padanya.
"Wira-san..."
"Maaf jika terlalu formal tapi aku tidak... pernah mengatakan ini sebelumnya pada gadis manapun... Aku terlalu sibuk dan kaku... You know..."
Chisato tertawa kecil. "Wira-san, justru anda lebih mirip jadi adik Luke-sama daripada Shinichi-san. Sungguh, saya tidak habis pikir bagaimana Luke-sama bisa memiliki adik yang recehnya seperti itu."
"Jadi?"
Chisato tersenyum malu. "Honkidesu ka ( apakah anda yakin )?"
"So sure! Kamu boleh tanya bang Luke deh kalau tidak percaya bahwa aku tidak pernah punya pacar" jawab Sadawira.
"Apakah kamu mau menunggu sampai aku selesai pendidikan dan bisa mengajak kamu tinggal di Amerika Serikat?" Sadawira menatap Chisato serius.
Chisato melongo. "Bang Shota pernah bilang, jika suatu saat ada seorang pria menyatakan perasaannya dengan serius, kamu akan tahu bahwa pria itu bisa dipegang kata-katanya."
"Kamu bisa memegang kata-kataku Chisato."
Chisato tersenyum. "Shitte iru ( aku tahu ). Shikashi, anata no ryōshin wa dōdesu ka ( tapi bagaimana dengan kedua orang tua kamu )?"
"Karera no musuko ni wa kanojo ga irukara, karera wa shiawase ni narudarou ( Mereka akan bahagia karena akhirnya anaknya punya pacar )" jawab Sadawira dengan cueknya membuat Chisato melotot tidak percaya.
"Hontōni imaimashī ( benar - benar menyebalkan )!" protes Chisato. "Bagaimana dengan Luke-sama? Tunggu, tapi aku tidak memiliki pendidikan setinggi kamu... Aku hanya lulusan diploma bisnis..."
"So?"
"Tapi kamu seorang dokter!"
"Dokter nya masih makan sushi, Chisato" balas Sadawira gemas. "Belum makan emas!"
Chisato cekikikan. "Mending emasnya saya buat perhiasan."
Sadawira tertawa mendengar jawaban khas perempuan dari Chisato.
Interaksi keduanya tidak luput dari perhatian Tama yang datang menjemput dan berada dalam satu pesawat disana.
Alamat Luke-sama akan senang mendengar kalau Chisato disukai oleh Wira-san.
***
Bandara Haneda Tokyo Jepang
Pesawat milik keluarga Bianchi pun mendarat dengan selamat dan tampak Emi Takara Bianchi, Rin Ichigo Bianchi dan Dokter Yuri menunggu disana. Mereka tampak senang saat melihat Luke, Sadawira dan Hidetoshi turun dari pesawat. Ditambah Luca Bianchi, Hoshi Reeves, Leia Bianchi dan Dante Mancini ikut keluar dari dalam, membuat semua orang bahagia.
Luke langsung mencium bibir istrinya yang ditinggal dua Minggu ke Hongkong, begitu juga dengan Luca dan Emi yang tanpa malu berciuman panas seolah yang lain kasat mata. Hidetoshi pun tidak ketinggalan saat bertemu dengan istrinya, Dokter Yuri.
"Yuk pulang! Kita makan enak!" ajak Emi.
Sadawira pun berjalan sambil menggandeng tangan Chisato membuat Hoshi berseru.
"Sejak kapan Wira? Kamu dan Chisato?"
Semua orang pun menoleh ke arah keduanya dengan tatapan penuh tanya.
"Sejak tadi di pesawat" jawab Sadawira kalem dan dingin seperti biasanya.
Luke menatap Chisato yang tampak menunduk takut jika bossnya tidak menyetujui hubungannya dengan Sadawira.
"Chisato..."
"Haik, Luke-sama..." jawab Chisato takut-takut.
"Semoga kamu tabah dengan vampir satu itu." Setelahnya Luke pun berjalan sambil menggandeng Rin meninggalkan pasangan yang baru jadian itu melongo.
"Dia setuju, Chisato. Tapi memang benar, harus tabah dengan Wira. Dia kakunya minta ampun" kekeh Leia.
Chisato hanya mengangguk.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️