
London Inggris
Pengadilan Drake dan para komplotannya berlangsung sangat alot apalagi pihak pengacara pihak tersangka tidak terima jika semua harta kekayaan kliennya diambil hingga sen terakhir namun pihak jaksa penuntut umum memberikan perhitungan yang didapat karena pihak penuntut merasa dirugikan selama lima tahun dengan mengambil harta dari Weston Diamond Ltd dan berhasil melipatgandakan yang dipakai berfoya-foya.
"Anggap saja mereka berfoya-foya dengan uang mereka asli dan sekarang kekayaan mereka adalah milik Weston Diamond Ltd. Ini semua hasil rincian keuangan masing-masing tersangka yang berhasil dikumpulkan oleh para agen MI6 bagian white collar. Termasuk dua agen yang tewas dibunuh. Itu kasus yang berbeda. Yang mulia hakim, Mr Weston Senior hanya meminta dikembalikan uang milik perusahaan miliknya yang mereka curi. Soal hukuman, semua diserahkan kepada majelis" papar jaksa penuntut umum.
Hakim pun hanya mengangguk. "Baik. Kami akan putuskan pada hari Senin depan."
Simon Weston menatap Jayde dan Travis yang duduk di sebelah kanannya.
"Sabar Grandpa" senyum Jayde.
"Memang harus sabar. Mereka sabar kok mengambil uang perusahaan aku selama lima tahun tanpa ketahuan !" ucap Simon sambil menyindir Stephan, putranya yang duduk di sebelah kirinya. Stephan sendiri menundukkan wajahnya karena malu gagal melindungi perusahaan keluarganya dan tidak mau mendengar ucapan adiknya, Gabriella.
"Mari kita semua makan siang dulu. Bukankah perut kenyang bisa membuat mood baik?" ajak Taufan ke semua orang agar tidak terjadi konflik di pengadilan.
***
Ruang VIP RR's Meal London
Eagle menyambut kedatangan rombongan itu dengan senyum terkembang. "Bagaimana hasilnya?"
"Nunggu Senin mas" jawab Jayde.
"Semoga hasilnya sesuai harapan. Mari kita masuk ke ruang VIP saja." Eagle pun mengajak semua orang masuk ke dalam ruang VIP dan Simon terkejut saat melihat siapa di dalam.
"Wah kejutan ! Halo Aidan, Halo Arjuna" sapa Simon ke kedua opa Eagle dan Jayde.
"Halo mate. Apa kabarnya ? Melelahkan ya mengikuti acara sidang?" Aidan dan Arjuna saling berpelukan dengan pengusaha berlian itu.
"Benar - benar melelahkan apalagi aku harus menunggu hari Senin untuk keputusan" jawab Simon.
"Jayde, bagaimana kasus pembunuhan dua agen MI6 nya?" tanya Arjuna ke Jayde.
"Itu persidangan pidana lain lagi Opa. Kata pihak jaksa penuntut umum, akan diajukan setelah kasus penipuan dan korupsi" jawab Jayde sambil Salim ke kedua opanya.
"Oom Juna, Oom Ai, apa kabar?" sapa Travis Blair dan Taufan Abisatya ke kedua pria paruh baya itu.
"Kabar baik doubel T" kekeh Arjuna.
Semua pun duduk dan Simon tampak asyik mengobrol dengan Arjuna serta Aidan sedangkan Jayde pun berdiskusi dengan Gabriella, Stephan, Taufan dan Travis tentang kemungkinan besar mengakusisi semua aset milik para pencuri itu.
***
Maryland University, Maryland
Sadawira menatap tidak percaya mendapatkan korban muti*lasi lagi. Pria berwajah dingin itu harus menghela nafas berulang kali karena dirinya merasa gemas dengan sang pelaku pembunuhan.
"Sudah di Singapura urus organ manusia, disini dapat lagi..." omel Sadawira yang memeriksa potongan tubuh manusia dalam bentuk potongan dada hingga pinggang yang berjenis kelamin perempuan.
"Yustiono! Kenapa kamu bengong?" tanya Dokter Deborah yang menjadi mentor nya.
"Dok, siapa yang tega melakukan ini pada seorang perempuan?" gumam Sadawira sambil memeriksa potongan dada tanpa tangan itu.
"Orang yang melebihi Iblis bahkan Lucifer sekalipun" jawab dokter Deborah. Dokter forensik berkulit hitam berusia 50 tahunan itu sangat suka dengan Sadawira menjadi mahasiswa nya karena selain dia cerdas, Sadawira tidak terlalu banyak rewel abcd seperti mahasiswa lainnya.
"Tulang cervical ada bekas dipotong dengan gergaji mesin bergerigi dok" ucap Sadawira sambil mengamati dengan kaca pembesar.
"Dokter Deborah" panggil seorang pria.
"Lieutenant Ahmed Ja'far. Kami belum mulai melakukan autopsi" senyum Dokter Deborah ke arah pria berdarah Arab itu. "Sadawira Yustiono, perkenalkan ini Lt. Ahmed Ja'far, detektif Maryland PD."
"Kasus menyebalkan. Karena setelahnya tembok aku dipasang stiker Sanrio oleh keponakan aku" gerutu Sadawira sambil manyun. "Dan tidak boleh dilepas ! Katanya demi aku tidak mengalami trauma. Padahal sekarang aku trauma melihat hello Kitty, my melody dan cinnamon rolls ..."
Dokter Deborah terbahak karena tahu siapa keponakannya Sadawira sedangkan Lt. Ahmed tertawa kecil.
"Kamu tidak bisa menyalahkan Biana, Yustiono. Dia anaknya seorang ahli profiler FBI jadi sudah terbiasa dengan ilmu psikologi" kekeh Dokter Deborah.
"Baik. Kita kembali fokus. Bagaimana dengan mayat ini dok?" tanya Lt. Ahmed.
"Dilihat dari lebam mayat, aku memperkirakan korban dibunuh sekitar 48 jam sebelum ditemukan di tempat sampah kalian menemukan nya. Dan potongan tubuh ini dipotong menggunakan gergaji manual yang di darah pinggang bawah sedangkan yang leher..." Dokter Deborah menoleh ke arah Sadawira.
"Gergaji mesin. Tapi bukan yang untuk pohon, yang lebih kecil. Alat pertukangan rumahan" sambung Sadawira. "Dan di punggungnya terdapat tattoo berbentuk sayap." Sadawira membalikkan potongan tubuh itu.
"Oh, dia pernah hamil dan melahirkan" celetuk Dokter Deborah. "Ini bekas operasi Caesar nya. Aku akan bisa memperkirakan kapan jika sudah membuka semuanya."
Lt. Ahmed yang mencatat pun mengangguk. "Perkiraan usia?"
"20 hingga 35 tahun" jawab Sadawira. "Selain tattoo sayap, ada tattoo kecil di bagian pinggang kanan bertuliskan 'Angel'." Pria berwajah dingin itu menunjukkan ke Lt. Ahmed.
Lt. Ahmed memanggil pihak CSI untuk memfoto tattoo yang kecil itu sebab tadi tersilap oleh polisi. Petugas CSI itu pun memotret kembali detail yang tadi tidak terlihat.
Sadawira membantu tim CSI untuk memberikan DNA dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mengetahui siapa korban ini sebenarnya. Disaat kedua dokter forensik itu membantu, suara ponsel Lt. Ahmed berbunyi dan pria itu mengangkatnya.
"Yes? ... Dimana?" tanya Lt. Ahmed. "Oke. Aku akan kesana." Pria Arab itu mematikan panggilannya dan menatap ke arah dua dokter forensik yang melihat ke arahnya.
"Well? Ada apa ?" tanya dokter Deborah.
Dokter Deborah Pounder
"Mereka menemukan sepasang potongan kaki..." jawab Lt. Ahmed.
"Dimana?" tanya Dokter Deborah.
"Washington DC."
Sadawira dan Dokter Deborah saling berpandangan. "Melewati negara bagian? How ?" tanya Dokter Deborah.
"Itu yang sedang kami cari tahu. Aku harus bekerja sama dengan kepolisian Washington" ucap Lt. Ahmed.
"Oh lieutenant, tolong bawa potongan tubuhnya kemari agar aku bisa mencocokkan DNA nya sama atau tidak" pinta Dokter Deborah.
"Aku usahakan" ucap Lt. Ahmed.
***
Kasus Sadawira memang terjadi di Tulsa Oklahoma.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️