
Kediaman Keluarga Pascal di Maryland
Pedro dan Sadawira akhirnya tiba di rumah cantik milik keluarga Pascal. Lingkungan yang menyenangkan membuat Sadawira senang karena kakak dan keponakannya akan aman-aman saja selama tinggal disana.
Nadira dan Biana sudah menunggu di depan pintu saat mobil milik Pedro masuk ke dalam halaman rumah yang memang tidak berpagar seperti halnya rumah - rumah lainnya di kompleks perumahan itu. Di samping Biana ada seekor anjing golden retriever duduk manis sembari mengibaskan ekornya.
"Halo" sapa Sadawira setelah turun dari mobil sembari mengambil koper dan tasnya dari bagian belakang mobil Pedro.
"Hai. Capek Wir?" tanya Nadira sambil tersenyum.
"Capek diawasi nya mbak" kekeh Sadawira sambil menghampiri Nadira lalu memeluk dan mencium pipi kakak sepupunya itu. "Halo Bia. Sudah bikin berapa anak cowok nangis?"
"Lima Oom. Tapi mereka memang cengeng!" balas gadis cilik itu sambil nyengir.
"Astaghfirullah ... Malah bangga nih anak!" keluh Nadira membuat Sadawira tertawa.
"Yuk masuk" ajak Pedro.
Semuanya pun masuk ke dalam rumah dan Biana langsung menggandeng tangan Oomnya dengan diikuti anjing goldennya.
"Anjingnya namanya siapa Bia?" tanya Sadawira.
"Tucker. Umurnya tiga tahun beda dua tahun sama aku, Oom."
"Bia tidak mau kucing, mintanya anjing. Ya sudah, kami adopsi Tucker pas usianya enam bulan. Lumayan lah Wir, kalau pulang sekolah, Bia langsung mengerjakan tugasnya tenang sambil ditemani Tucker" senyum Nadira. "Bukankah hewan peliharaan membuat emosi seseorang stabil?"
"Yup." Sadawira mengelus anjing berbulu coklat yang dikenal di film Air Bud. "Sayangnya aku tidak bisa memelihara binatang apapun karena kesibukan aku."
"Nanti kalau kamu sudah stabil dengan tempat tinggal permanen, kamu akan memelihara hewan" ucap Pedro.
Keempatnya lalu duduk di sofa dimana Nadira sudah menyiapkan teh wasgitel dan camilan berupa pisang mentega dan bakwan jagung.
"Kamu buat sendiri mbak?" tanya Sadawira sambil mengambil bakwan jagung.
"Kamu kok minta dijitak tho Wir! Lupa apa siapa Daddy dan Omaku?" Nadira menatap judes ke adiknya membuat Sadawira terbahak.
"Oom Wira nanti tinggal disini mommy?" tanya Biana sambil menatap wajah tampan Oomnya.
"Sementara tapi nanti Oom akan tinggal di apartemen supaya dekat dengan kampus" jawab Sadawira.
"Oh soal apartemen, aku sudah mendapatkan beberapa yang dekat dengan kampus kedokteran forensik dan tempatnya sejauh yang aku tahu, termasuk aman. Tapi aku yakin kamu bisa menjaga diri kamu Wir" senyum Nadira sambil menyerahkan iPadnya ke Sadawira.
Biana ikutan kepo ingin tahu apartemen yang dicari Oom nya. "Ini bagus Oom..." celetuk gadis cilik cantik itu sambil menunjuk sebuah apartemen kampus.
"Dira, kamu tahu, selama perjalanan Wira kemari, dikawal dua anggota FBI, teman aku juga" ucap Pedro sambil menyesap tehnya. Semenjak menikah dengan Nadira, pria berdarah Italia Perancis itu menjadi suka dengan teh yang sangat dikenal di Solo.
"Kenapa diawasi mas?" tanya Nadira bingung. "Apa karena Wira mirip vampir?" goda dosen cantik itu ke adiknya yang langsung cemberut.
"Karena kita semua kena pengawasan gara-gara Hongkong. Tapi aku sampai takjub karena Wira harus dua orang yang mengawasi dan mengawalnya" senyum Pedro.
"Dua orang agen FBI mengawal kamu? Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Nadira.
Sadawira menceritakan kejadian saat di bandara dan Biana menatap kagum ke Oomnya yang berani serta memiliki kemampuan banyak bahasa membuat gadis cilik itu diam-diam ingin seperti Sadawira yang berani jika merasa dirinya benar tidak berbuat salah.
"Lha padahal bahasa Jerman dan Perancis, kamu sangat menguasai Wira selain Jepang dan Mandarin" gelak Nadira. "Salah cari lawan mereka."
"Padahal kita-kita sudah nggak urusan Hongkong kecuali The Blairs lawyer bersama dengan pengacara Hongkong, para akuntan dan Jayde dalam mengurus uang-uang yang hendak disalurkan ke para keluarga korban" ucap Sadawira yang selalu mendapatkan update dari sepupunya yang tinggal di Manchester.
"Mereka tidak tahu itu, Wir. Dianggapnya kita memang keluarga berbahaya" senyum Pedro.
"Berbahaya dari Empire State Building!" sungut Sadawira membuat Nadira dan Pedro tertawa.
"Ini, yang dipilih sama Bia. Tampaknya kamu sama Oom seleranya sama deh!" senyum Sadawira sambil mengusap kepala Biana.
"Bia kalau sudah besar mau jadi seperti Oom Wira" ucap Biana.
"Mau jadi dokter forensik?" tanya Sadawira bingung.
"Nooo, Bia nggak bisa lihat darah. Bia ingin jadi cewek kuat yang bisa belajar banyak bahasa jadi nggak bakalan ditipu kalau jalan - jalan. Nanti Bia diajari ya Oom" senyum gadis cilik bermata hazel itu.
"Nanti weekend Oom Wira akan menginap disini kalau nggak ada jadwal jaga, Bia. Biar kamu bisa belajar banyak dari Oom kamu" ucap Nadira. "No problemo kan Wir?"
"No problemo." Sadawira tersenyum ke arah dua kakaknya.
"Berarti besok Gemintang menikah dengan Raj, kamu tidak bisa datang dong Wir" celetuk Pedro.
"Tampaknya tidak bisa bang. Kan aku sudah masuk kuliah."
"Bagaimana kabar Chisato? Apakah dia mau menunggu kamu sampai selesai?" tanya Nadira.
"Insyaallah mbak. Soalnya aku sama Chisato sudah cocok."
"Kalau kamu sudah selesai kuliahnya, lamar lah Chisato dan bawa kemari. Kamu mau bekerja di FBI kan sebagai dokter forensik?"
"Iya bang Pedro. Rencananya juga begitu. Eh tapi kalau aku besok melamar Chisato, ke siapa ya? Secara dia tidak ada orang tuanya..." Sadawira tampak bingung.
"Ya ke Luke dan Hidetoshi lah! Kan mereka berdua macam orangtua Chisato" jawab Nadira.
***
Manchester Inggris
Jayde dan Inggrid tampak sedang melakukan panggilan video di rumah keluarga Neville bersama dengan Travis, Nelson dan Nadya Blair plus para akuntan independen yang ditunjuk pemerintah Hongkong serta agen Eli Yaqub, agen Katrin Jaeger dan agen Lucas Syahputra.
Mereka semua sedang menyelesaikan penyaluran dana ke keluarga korban kekejaman Triad Wong setelah melewati beberapa seleksi untuk mengantisipasi penipuan.
"Alhamdulillah sudah 50% dananya kita salurkan" ucap Jayde yang tampak lelah karena harus memperhatikan semua meta data dan perhitungan dana yang disalurkan.
"Yup. Kita break dulu karena memang pekerjaan ini sangat melelahkan" gumam Lucas.
"Apakah kalian terkena sanksi jabatan?" tanya Travis ke para law enforcement yang hadir dalam panggilan zoom.
"Aku sih potong gaji enam bulan" kekeh Eli agen Mossad. "Tapi bodo amat lah!"
"Aku tidak dipotong gaji tapi untuk naik jabatan harus menunggu evaluasi dua tahun" senyum Katrin. "Tidak masalah, yang penting Triad Wong sudah hancur."
"Yup, itu yang penting" senyum Nelson. "Semoga tidak ada gegeran lagi ya?"
"Aamiin."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️