Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Bekerjasama



Ruang Autopsi Maryland Medical School Maryland University


Sadawira duduk sambil menatap onggokan tubuh itu dengan perasaan campur aduk sebelum dia masukkan ke lemari pendingin mayat. Dirinya harus menunggu kedatangan organ tubuh lainnya agar bisa dijadikan satu.


Pria berwajah dingin itu pun memasukkan tubuh itu ke dalam lemari mayat dan memberikan label disana. Setelahnya dirinya menghela nafas panjang dan menuju wastafel untuk mencuci tangan.


Dokter Deborah yang melihat wajah murung Sadawira, hanya menatap maklum. Dokter senior itu sedang membersihkan meja stainless tempat mayat tadi berada dengan berbagai cairan disinfektan.


Sadawira lalu mengambil folder pasien dan mulai mencatat nya.



Calon penerus Alexandra Giandra


"Kamu tidak apa-apa Yustiono?" tanya Dokter Deborah.


Sadawira yang sudah memakai snelinya hanya menggelengkan kepalanya. "The truth?! Nope."


Dokter Deborah menatap pria dingin itu. "Yustiono, kamu tahu kan resiko menjadi dokter forensik ya seperti ini. Kita akan menemukan bagaimana jenazah memberitahukan apa yang mengakibatkan dia meninggal. Dan terkadang bukan suatu hal yang indah untuk dilihat..."


Sadawira pun duduk di kursinya sambil menatap mentornya. "Daddy saya juga mengatakan demikian saat saya bilang mau banting setir ke forensik daripada bedah..."


"Bukankah Oma buyut kamu dokter forensik juga?" tanya dokter Deborah sambil mencuci tangan usai membersihkan meja autopsi.


"Yes Dok. Oma buyut saya Alexandra Giandra. Suaminya Opa Ghani Giandra, mantan kapten NYPD."


"Kamu memilih menjadi dokter forensik karena...?"


"Kasus Hongkong... Saya rasa saya lebih berguna jika bisa mengupas kasus kriminal dari para korban. Mungkin karena saya ada jiwa blue bloods ( blue bloods disini bukan darah ningrat, tapi darah kepolisian karena baju polisi NYPD adalah biru ) jadi saya ingin memberikan keadilan pada korban."


Dokter Deborah lalu duduk di sebelah Sadawira. "Kamu tahu, kamu dan keluarga kamu itu segelintir orang yang hidupnya lurus. Semua orang tahu bagaimana sepak terjang bisnis keluarga kamu tapi yang dilihat adalah sikap kriminalnya..."


Sadawira tertawa kecil. "Well, bukankah harus balance? Terkadang kita butuh guilty pleasure..."


"Tapi bukan main gegeran di negara orang, young boy" tegur Dokter Deborah. "Tapi jika tahu kejahatan mereka yang aku sendiri tidak bisa memaafkan, ya mereka patut mendapatkan ganjaran nya..."


"Dok, apakah menurut anda, si pelaku muti*lasi itu adalah orang terdekat?" Sadawira menatap dosen sekaligus mentornya itu.


"Menurut mu?"


"Menurutku, orang terdekat dan motifnya cemburu, finansial atau memang b@jingan."


Dokter Deborah menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Aku rasa motifnya soal asmara. Tapi biarkan pihak kepolisian bekerja."


Sadawira mengangguk.


***


Apartemen Sadawira


Sadawira memutuskan untuk berendam menikmati harum vanilla dan lavender untuk menenangkan semua saraf di otaknya setelah hari ini mendapatkan kasus yang membuatnya sedikit naik darah.


Bagaimana orang bisa melakukan pembunuhan dan memotong - motong bagian tubuh manusia disaat kamu bukanlah seorang dokter. Dimana rasa empati dan bukankah itu membutuhkan mental baja yang kuat apalagi begitu darah muncrat, bisa membuat orang pingsan buat yang tidak kuat melihatnya.


Sadawira teringat saat dirinya awal kuliah kedokteran dan melihat proses bedah, beberapa temannya pingsan dan muntah-muntah saat melihat darah mengalir. Tapi karena dirinya sudah terbiasa melihat ayahnya di rumah sakit, Sadawira pun tidak merasakan apa-apa. Jadi dokter itu harus kuat mental ! Tidak hanya kuliahnya yang berat, kasus penyakitnya pun beraneka ragam ditambah tanggung jawab atas nyawa orang.


Sadawira teringat bagaimana saat dia mengatakan ke keluarga Giandra akan masuk kedokteran, Gendhis, Pandega dan Anarghya sudah mewanti-wanti bahwa tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa atau tidak mampu selama memiliki tekad dan niat.


Pria itu memejamkan matanya di dalam bathtub untuk merelaksasi otot dan pikirannya. Rasanya baru sebentar Sadawira terpejam, ponselnya berbunyi.


Sadawira mengambil ponselnya yang berada di atas wastafel sebelah bathub dan terkejut melihat siapa yang menelponnya.


"Wira, kamu mengautopsi potongan tubuh tadi?" tanya Pedro.


"Iya bang. Gimana?"


"Tampaknya kamu dan dokter Deborah akan bekerja sama dengan dokter forensik di Washington, Delaware dan Pennsylvania."


"Memangnya ada apa?"


"Selain Maryland dan Washington, ditemukan dua anggota tubuh manusia lagi. Kepala di Delaware dan tangan di Pennsylvania" janwav Pedro Pascal.


Sadawira menghela nafas panjang. "Apakah sudah tahu siapa korban?"


"Namanya Helena Petit. Keluarga dan kantornya melaporkan hilang sejak tiga hari lalu. Dan kami sedang mencari suaminya."


"Pelakunya adalah si suami!" ucap Sadawira.


"Aku juga merasa demikian tapi alibinya solid, terlalu solid ! Dan aku paling tidak suka alibi terlalu sempurna!" timpal Pedro.


"Sekarang bagaimana menyatukan potongan tubuh-tubuh itu? Dibawa kemana?"


"Quantico."


***


Ruang Forensik FBI Building Quantico


Sadawira dan Dokter Deborah bersama para dokter forensik dari rumah sakit Pennsylvania, Washington dan Delaware, berada dalam satu ruangan bersama dengan dokter forensik FBI. Mereka semua menahan nafas untuk bisa melihat bahwa potongan-potongan tubuh yang mulai membusuk itu merupakan dari satu orang.


"Kita lihat legitimate potongan tubuh ini dari orang yang sama. Meskipun sudah membusuk tapi potongannya tepat" ucap Dokter Fulsom, chief Examiner FBI. "Alat pemotong nya sama."


Kedelapan dokter forensik yang datang bisa melihat di layar monitor dan mengakui memang potongannya persis serta dilakukan dengan alat pemotong yang sama.


"Apakah kita tahu alat apa yang dipakai?" tanya salah satu dokter forensik.


"Kalau dari leher seperti yang disebutkan oleh dokter Pounder dan Dokter Yustiono, memang gergaji mesin rumahan" jawab Dokter Folsom.


"Potongan kaki menggunakan gergaji biasa" ucap Dokter dari Washington.


"Tangan dengan machete ( parang )"jawab dokter dari Pennsylvania.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Dokter Deborah karena saat memeriksa tubuh korban, bagian tangan tampak berbeda memang.


"Lihat potongan ini. Sangat bersih tidak bergerigi. Macam kita memotong daging" ucap dokter itu sambil menunjukkan di layar monitor.


Lt. Ahmed Ja'far yang ikut dalam proses itu, mendapatkan telepon dan memutuskan keluar. Sadawira pun mengamati wajah serius Lieutenant itu saat menerima telepon itu. Lalu setelahnya Lt. Ahmed berbicara serius ke Pedro Pascal dan keduanya pun tampak bergegas pergi dengan diikuti detektif dari tiga negara bagian lainnya.


What's going on?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️