Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Korban Forest



Maryland University Forensic Academy


Sadawira sedang membuka buku anatomi nya ketika seorang mahasiswa yang sepantaran dengannya mendekati dirinya.


"Yustiono!"


Sadawira yang duduk di bawah pohon rindang mendongakkan wajahnya dan tersenyum ke arah mahasiswa itu.


"Ada apa Thompson?"


"Boleh aku duduk di sebelah mu?" tanya Thompson.


"Sure."


Pria itu pun duduk di sebelah Sadawira. "Aku dengar kamu tinggal di apartemen gedung abu-abu itu?"


"Memang kenapa?"


"Banyak penghuninya yang tidak betah. Apakah kamu menemukan sesuatu?"


Sadawira menatap Thompson bingung. "Such as ( seperti )?"


"Di apartemen kamu. Menemukan sesuatu?"


Sadawira tidak menjawab. "Kenapa kamu berpikir demikian?"


"Karena aku pernah tinggal disana dan bau bangkai." Thompson bergidik. "Aku protes dan lapor ke Forest dong. Tapi dia bilang hanyalah halusinasi ku saja. Hellooo, aku mahasiswa kedokteran waktu itu dan sudah mengautopsi mayat berbagai bentuk karena aku sedang ko as di kamar mayat. Dan aku tahu, ini adalah bau bangkai."


Sadawira masih tetap mendengarkan cerita Thompson. "Lalu? Apakah kamu menemukan sesuatu?*


"Bangkai racoon di dalam dinding pembatas antar kamar mandi dan kamar tidur aku! Orang sinting mana yang tega membunuh Rocket?" umpat Thompson kesal.


"Rocket?"


"Don't you watch The Guardians of the Galaxy? Rocket, The Groot? Rocket kan racoon! "


Sadawira hanya ber Oh ria. "Nonton dan aku hanya geli saja mendengar ucapan mu. Lalu bagaimana kamu tahu?"


"Aku memanggil tukang ke apartemen aku dan ternyata sumbernya disana. Padahal aku baru pindah dua Minggu dan apartemen itu sudah kosong dua bulan."


"Menurut mu, apa alasan ada bangkai Rocket disana?"


"Itu yang aku tidak paham. Sebulan kemudian aku pindah dari sana."


"Why?"


"Foster seperti mengawasi aku terus dan itu membuatku tidak nyaman."


"Apakah semua penghuni yang dia awasi ?" tanya Sadawira penasaran.


"Hanya mahasiswa yang berdarah campuran, dia sepertinya rasis. Kamu tahu sendiri kan aku berdarah campuran latin."


"Tunggu, kalau kamar yang kamu pakai sudah kosong dua bulan, bagaimana kamu bisa memakai kamar itu? Memang kamu berapa lama mengajukan aplikasinya?"


"Aku mengajukan sebulan sebelumnya dan bangkai Rocket ditanam sekitar seminggu sebelum aku masuk. Kamu tahu sendiri kan bau nya?"


Sadawira mengerenyitkan alisnya. Bagaimana Foster tahu aku akan mengambil apartemen itu? Padahal aku baru mengajukan dua hari.


"Tiga bangkai kucing. Di dalam tembok pembatas dapur dan ruang tengah. Saat aku dan keponakan aku datang pertama kesana, kami sudah mencium sesuatu yang tidak beres. Saat aku pindahan, kakakku dan aku berinisiatif membongkar tembok unfaedah itu dan menemukan bangkai tiga ekor kucing dalam plastik diantara insulasi dinding."


"Kamu memang mengajukan aplikasi kapan?"


"Dua hari sebelumnya dan Foster baru melihat aku dan keponakan aku pada hari pertama aku datang."


Thompson tampak berpikir. "Kok bisa?"


"Aku rasa dia random Thompson dan kebetulan saja aku yang kena."


Thompson mengangguk. "Mungkin."


"Tapi kalau alasannya rasis, aku rasa lebih dari itu Thompson. Sejujurnya aku suka tinggal disana karena dekat dengan kampus dan rumah sakit."


"Aku juga sebenarnya suka tinggal disana tapi setelah menemukan Rocket, aku tidak sanggup."


Sadawira tampak berpikir. Thompson benar, rata-rata penghuninya adalah orang-orang kulit putih dan hanya aku yang berdarah Asia. Harus aku cari tahu karena aku malas pindah lagi! Terutamanya hasil karya Biana disana. Sadawira menatap gedung apartemen nya yang tampak terlihat dari taman kampus.


"Kamu ada kelas anatomi?"


Sadawira mengangguk. "Anatomi dari dasar lagi."


Thompson tertawa. "Hanya semester awal tapi semester depan, akan seru."


***


Apartemen Sadawira


Sadawira pulang agak malam karena harus belajar kelompok sampai malam bersama dengan para tim nya. Sebelum pulang, dia mampir ke KFC yang buka 24 jam untuk membeli makan malam dan untuk sarapan besok.


Pria itu pun berjalan menuju apartemennya dan melihat Foster sedang bercakap-cakap dengan salah satu penghuni apartemen yang tampak akrab dengan pria itu.


Sadawira pun membuka apartemennya dan merasakan ada sesuatu yang salah. Pria berwajah dingin itu lalu mengambil iPad dari dalam tasnya dan mulai membuka rekaman CCTV yang dipasang nya di dalam apartemen nya.


Mata Sadawira terbelalak ketika melihat Foster masuk ke dalam apartemen nya dan mulai memeriksa semua barang-barangnya seperti kulkas dan lemari pakaian. Sadawira memang memasang CCTV berbentuk kancing milik Jang Geun-moon atas saran Pedro Pascal.


Kurang ajar!


Sadawira memperhatikan lagi kemana Foster pergi dan rupanya ke sebuah tembok dekat ruang cuci pakaian dekat kamar mandi. Foster tampak mengetuk - ketuk tembok itu lalu tersenyum. Setelahnya pria itu pergi dan menutup pintu apartemen Sadawira.


Untung aku juga memasang CCTV di banyak tempat. Sadawira menoleh ke arah gagang pintu apartemennya. Memang harus diganti tapi bagaimana caranya supaya si Foster tidak masuk.


Sadawira lalu menelpon Jang Geun-moon. "Halo, Tante. Wira mau minta tolong."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️