Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Antara Aberdeen dan Jakarta



Ruang Kerja Jayde Neville Abisatya PRC Group Manchester Inggris


Jayde menghubungi Inggrid menjelang makan siang untuk mengabari bahwa kakeknya, Simon Weston, ingin bertemu mereka weekend ini di Aberdeen Skotlandia.


"Ada apa Grandpa ingin bertemu dengan mu, Jayde?" tanya Inggrid saat keduanya melakukan panggilan video.


"Kakek paling kepo soal Hongkong, Grid. Dan bisa saja kita tidak boleh berteman lagi..."


"What! Enak saja! Setelah kita menjadi pasangan kekasih terus mau dipisahkan begitu saja!" omel Inggrid tidak terima.


"Sekarang kamu mengakui kita pasangan kekasih Grid?" goda Jayde ke arah gadisnya.


"Lho memang iya kan Jayde... Apa... Jayde!" hardik Inggrid yang kesal melihat Jayde tertawa terbahak-bahak. Inggrid jadi ingat ucapan Nadya Blair kalau saudaranya itu hangat hanya dengan orang yang bisa membuatnya nyaman. Apalagi dengan pasangan yang disukai dan dicintainya. "Kamu menyebalkan!"


"Maaf Grid tapi wajahmu sangat menggemaskan! So, besok Sabtu aku jemput kamu pagi-pagi dan kita berangkat ke Aberdeen?" ucap Jayde.


"Iya, jemput aku. Jangan lupa kita harus membawa koleksi anggur Opamu supaya Grandpa senang."


Opa Jayde, Mark Neville memang seorang pengoleksi wine yang kemudian diteruskan oleh Natasha dan Jayde hanya untuk koleksi dan acara gala dinner bersama dengan kolega mereka. Dan mereka terbiasa membawakan salah satu koleksi keluarga Neville untuk dibawakan ke keluarga Weston.


"Of course. Aku sudah tahu wine mana yang harus aku bawa."


***


Mansion Giandra Jakarta Indonesia


Sadawira menatap kolam renang yang terdapat di samping halaman mansion dan rasanya ingin berenang apalagi Jakarta memang sedang panas-panasnya.


Pria itu pun mencari Omanya yang sudah pasti menyimpan berbagai macam cream dan sunblock. Ibunya, Anjani sedang mengikuti acara Ega di rumah sakit.


"Omaaaa..." panggil Sadawira membuat suaranya menggema di ruang tengah yang kosong itu.


"Ada apa Wira?" tanya Danisha dari dapur.


Sadawira pun menghampiri Omanya. "Oma, punya sunblock?"


Danisha mengerenyitkan dahinya. "Mau ke pantai kamu?"


"Eh bukaan. Aku mau berenang di kolam sebelah tapi kan panasnya naudzubillah jadi aku takut kulitku kebakar jadi mau pakai sunblock. Oma punya? Kalau boleh yang spf nya tinggi."


"Ada. Kan kalau Arka dan V main kesini, hobinya juga jegur ( berenang ). Bentar Oma ambilkan. Ning, tolong dilanjutkan masaknya ya" perintah Danisha ke asisten rumah tangga mansion.


"Njih ibu sepuh" jawab Ning.


"Lho kok sepi? Pada kemana?" Danisha bingung tidak melihat kakak dan iparnya di ruang tengah karena biasanya mereka menikmati acara berkumpul dan mengobrol disana.


"Opa Bara dan Oma Gendhis tadi sih ikut Daddy dan Mommy ke rumah sakit. Katanya dapat undangan pengangkatan direktur baru, kalau opa Iwan di kamar."


Danisha sampai menepuk jidatnya. "Astaghfirullah, Oma kok jadi pikun ya Wira. Padahal tadi Anjani sudah pamitan tadi. Mbak Arum juga..." kekehnya.


"Sampun sepuh, Oma. Jadi wajar kalau lupa. Asal nggak lupa cucunya satu ini lah" goda Sadawira.


"Ya ora tho ( tidak lah ) Wir, masa Oma sampai lupa cucu vampir Oma sendiri" senyum Danisha sambil menepuk pipi cucunya. "Sebentar, Oma ambilkan dulu sunblock nya.


***


Sadawira berenang hingga lima putaran dengan ditemani Danisah yang bersandar di kursi pinggir kolam renang sambil membaca novel. Sang suami, Iwan, memilih untuk beristirahat di kamar apalagi kesehatannya juga tidak terlalu baik akhir-akhir ini membuat pria itu tidak terlalu banyak beraktivitas.



Segernya si vampir berenang


"Wira!" panggil Danisha.


"Njih Oma?" Sadawira pun keluar dari kolam renang dan mengambil handuk besarnya. Berenang membuat hatinya terasa relaks dan tenang.


"Chisato? Oh dia gadis yang badass Oma. Jago kelahi! Dan bisa anggun dalam bersikap. Aku suka karena dia bukan tipe cewek lembek."


Danisha menggelengkan kepalanya. "Kenapa para pria keluarga Pratomo itu selalu sukanya cewek badass?"


"Karena Oma dan Mommy kami juga badass. Makanya jadi kiblat kami lah" kekeh Sadawira sembari meminum wedang jahe merah buatan Omanya. Selain teh wasgitel, Sadawira sangat suka wedang jahe merah buatan Danisha.


"Ih kamu tuh. Terus dia gadis Jepang?"


"Iya Oma. Anak buahnya Bang Luke." Sadawira pun menceritakan siapa Chisato Kuchiki itu dan Danisha mendengarkan dengan seksama sambil melihat perubahan wajah cucunya yang biasanya dingin, berubah menjadi hangat saat menceritakan kekasihnya.


"Jadi Chisato mau menunggu kamu sampai selesai studi forensik di Maryland?"


"Iya Oma."


"Gadis yang baik dan Luke pun pasti tidak akan memilih anak buah yang tidak baik kan? Kapan-kapan kalau kamu sempat liburan kemari lagi, bawalah Chisato kesini. Biar kita semua berkenalan dengan gadis itu."


"Of course lah Oma" senyum Sadawira yang sekarang mengambil pisang goreng.


"Wira, bagaimana dengan aplikasi kamu masuk ke University of Maryland? Bukankah kalian di bawah pengawasan agen federal?" Danisha menatap cucunya dengan perasaan khawatir.


"Tante Isobel, Marisol Braga dan Oom Patrick Rogers sudah memberikan surat rekomendasi ke kampus soal aku. Insyaallah, aku tetap bisa masuk apalagi hasil ujian online aku bagus."


"Patrick Rogers? Suaminya Faranisa? Kok bisa ikutan kasih surat rekomendasi?" tanya Danisha yang tahu keponakannya itu mantan senator di New York yang sekarang pindah ke San Francisco.


"Soalnya Oom Patrick alumni sana untuk program doktornya jadi yaaaa sedikit nepotisme lah!" cengir Sadawira.


"Owalaahhh... Oma paham. Pesan Oma, kalau kamu jadi ambil forensik, tirulah macam Oma Buyut Alexandra yang selalu tegas dalam bekerja. Mau itu korban tewas karena apapun, kamu adalah pihak yang berbicara atas nama korban agar anggota keluarganya tahu apa yang terjadi." Danisha memegang tangan cucunya. "Karena orang mati tidak bisa berbicara, tapi bukti-bukti di tubuhnya yang membutuhkan kamu sebagai perantara nya."


"Macam Oom Joey ya? Jadi cadaver whisperer?" kekeh Sadawira.


"Lha kalau Joey kebablasan. Demen banget dia dihukum di kamar mayat!" sungut Danisha. ( Baca The Bianchis ).


***


Manchester Weekend


Jayde menyetir Range Rover nya menuju ke Aberdeen Skotlandia dengan Inggrid duduk di sebelahnya. Tadi Jayde sudah berpamitan ke Taufan dan Natasha untuk mengunjungi Simon Weston sesuai permintaan billionaire berlian itu.


"Grandpa sudah ribut saja ini" ucap Inggrid sambil membaca ponselnya.


"Ribut apa?" tanya Jayde sambil berkonsentrasi menyetir karena lalu Lintas tampak padat weekend ini apalagi Senin ada libur nasional. Orang-orang memilih untuk berlibur bersama dengan keluarga.


"Sudah berangkat? Grandpa sudah menyiapkan beef stroganoff dan fish and chips. Ada coklat pudding, ice cream Oreo, salad salmon ... Kenapa semua itu makanan kesukaan kamu Jayde?" Inggrid menatap kesal ke pria yang masih saja santai menyetir.


"Aku kesayangan Kakek Simon dibandingkan kamu?" kerling Jayde dengan wajah usil.


Inggrid memukul bahu Jayde. "Kamu menyebalkan!"


"Tapi kamu sayang aku kan Grid?" kekeh Jayde sambil mencium punggung tangan gadis yang sedang merajuk itu.


"Sayanglah! Karena kamu limited edition!"


Jayde terbahak. "Nah tuh tahu!"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️