
Kastil Weston Aberdeen Skotlandia
Jayde dan Inggrid tiba di kastil yang dibeli oleh Simon Weston, kakek Inggrid untuk tempatnya pensiun. Perusahaan berliannya sudah dikelola oleh kedua anaknya dan salah satunya ibu Inggrid.
Ibu Inggrid dan kakaknya tinggal di Edinburgh tempat dimana perusahaan berlian Weston berpusat di sana sedangkan Simon Weston lebih memilih tinggal di Aberdeen.
Peta sederhana Skotlandia
Kastil Weston
Jayde memarkirkan Range Rover nya di garasi yang sudah terbuka karena Simon tahu perkiraan tibanya sang cucu dan sahabatnya.
Pria itu pun turun sambil membuka pintu belakang mobilnya untuk menurunkan dua koper miliknya dan Inggrid sedangkan gadis itu membuka pintu penumpang untuk mengambil keranjang piknik yang berisikan makanan buatan Natasha dan sebotol wine sesuai dengan permintaan Simon.
Kepala pelayan sudah menunggu di pintu utama untuk menyambut kedatangan kedua orang itu.
"Selamat datang Miss Pascale, Mr Neville."
"Terimakasih Hubert. Dimana pak tua?" tanya Inggrid cuek sedangkan Jayde hanya menggelengkan kepalanya mendengar panggilan Simon dari kekasihnya.
"Seperti biasa nona, berada di ruang tengah sambil membaca buku" jawab Hubert yang juga sudah terbiasa mendengar panggilan kurang ajar Inggrid.
"Oke." Inggrid pun masuk ke dalam kastil yang luas itu sedangkan Hubert mengambil alih dua koper yang dibawa Jayde.
"Apakah luka anda sudah mendingan Mr Neville?" tanya Hubert.
"Much better, Hubert. Thanks. Eh, tapi bagaimana kamu tahu?" tanya Jayde bingung.
"Apakah anda tidak tahu, Sir. Mr Weston sangat khawatir tentang keadaan anda selama menghilang. Tapi dia terlalu gengsi mengakui nya."
"Dasar!" Jayde menepuk bahu Hubert. "Terima kasih sudah membawakan koper kami."
"Anytime Mr Neville."
Jayde pun berjalan menyusul Inggrid membuat Hubert sedikit terkejut. "Kemana dinginnya Mr Neville? Apa gara-gara terluka menjadi berpengaruh dengan personality nya?" gumam kepala pelayan itu bingung sebab selama ini Jayde selalu dingin kepada semua orang meskipun tetap sopan dan menghormati semua orang di kastil. Tapi semua orang mengira karena memang Jayde mendapatkan didikan khas Inggris yang kaku jadi dingin.
***
Ruang Tengah Kastil Weston
"Grandpaaaa!" teriak Inggrid membuat seorang pria paruh baya yang sedang membaca menoleh.
Sir Simon Weston
"Astagaaa! Inggrid! Kakekmu ini belum tuli!" hardik Simon yang sudah hapal dengan kelakuan cucunya. Inggrid meletakkan keranjang piknik diatas meja, langsung menghampiri Simon Weston dan memeluknya serta mencium pipi kakeknya itu.
"Sehat Grandpa?" tanya Inggrid sambil duduk di sebelah Simon.
"Kamu lihat sendiri kan kakekmu gimana? Mana Jayde?" Simon celingukan mencari pria yang ditunggunya.
"Kakek, cucumu disini, bukan Jayde!" protes Inggrid.
"Tapi bakal menjadi cucu menantu aku lah! Kalian sudah resmi pacaran?" Simon menatap cucunya yang wajahnya sangat khas Perancis seperti menantunya yang sudah meninggal.
"Sudah."
"Halo Grandpa Weston" sapa Jayde dengan nada seperti biasanya dia datang. Pria muda itu langsung menyalami Simon.
"Bagaimana luka di lengan kamu?" tanya Simon serius.
Jayde yang hendak duduk di sofa seberang Simon, terkejut mendengar pertanyaan kakek Inggrid itu. "Bagaimana grandpa tahu?" tanya Jayde sambil duduk.
Tak lama seorang pelayan membawakan teh dan camilannya lalu meletakkan diatas meja. Ketiganya menunggu pelayan itu pergi lalu mulai mengobrol lagi.
"Opamu Aidan dan Arjuna yang bilang. Bagaimana pun, aku kan juga khawatir Inggrid ke Singapura dan Tokyo. Makanya aku bertanya pada Arjuna dan Aidan."
Jayden menggelengkan kepalanya. Damn aku lupa kalau Kakek Simon berteman baik dengan Opa Ai dan Opa Junjun!
"Alhamdulillah sudah membaik kok" jawab Jayde.
"Ceritakan pada ku. Apa yang sebenarnya terjadi Jayde sampai kamu melibatkan Inggrid?" Simon melepaskan kacamata bacanya dan menatap Jayde serius. "Detail!"
***
Meanwhile Malam Minggu di Jakarta Indonesia
Sadawira terkapar setelah kena banting oleh Arkananta. Mereka semua sedang berada di Dojo milik keluarga Takei yang sekarang dikelola oleh anaknya yang berteman baik para keluarga Pratomo. ( Baca Bara dan Arum chapter Bima di Dojo ).
"Kamu lembek sekarang Wira! Ayo, latihan lagi!" ucap Sloan Takei, putra Takei-sensei pemilik Dojo itu.
"Dia terlalu santai akhir-akhir ini. Ayo, Wira. Kita latihan lagi!" ajak Arkananta.
Malam Minggu ini sengaja para pria-pria keturunan Pratomo berada di Dojo untuk latihan lagi demi memperkuat otot - otot dan kuda-kuda mereka. Arkananta, Valentino, Remy, Radyta, Romeo dan Sadawira memang membutuhkan penyaluran emosi dengan berolahraga dan latihan beladiri.
Para istri mereka sudah paham kalau mereka semua butuh healing tersendiri apalagi harus mendapatkan pengawasan dari law enforcement.
"Kita pada ke Dubai kan?" tanya Valentino ke para sepupunya.
"Jadi lah!" jawab Arkananta sambil berusaha membanting Sadawira. " Eh ... eh ... Huwaaaa!" Arkananta berteriak ketika tubuhnya merasa melayang terkena bantingan adik sepupunya.
Sadawira akhirnya bisa membalas Arkananta. "Yang bilang aku lembek siapa?" balas Sadawira dengan wajah dingin.
"Duh vampir nya keluar" kekeh Romeo.
"Mas Wira, kata papa jadi ambil forensik?" tanya Remy, putra Anarghya Giandra dan Amaranggana Ruiz.
"Jadi lah!" jawab Sadawira.
"Jadi ambil di Maryland University?" tanya Radyta.
"Insyaallah. Apalagi aku sudah mendapatkan rekomendasi dari Tante Isobel de Garza, Marisol Braga dan Oom Patrick Rogers. Ujian online aku juga sudah aku ikuti waktu masih di Tokyo usai Hongkong. Hasilnya Perfecto jadi tinggal tunggu panggilan wawancara saja." Sadawira pun duduk bersama dengan para sepupunya sementara Arkananta berjalan sambil mengelus punggungnya yang terkena bantingan.
"Akhirnya ada juga yang mengikuti jejak Oma Alexandra" senyum Remy.
"Memang kamu nggak mau jadi dokter, Rem mobil?" tanya Valentino.
"Mau jadi dokter" jawab Remy yang duduk di bangku SMA. "Tapi ogah jadi dokter forensik."
"Kenapa?" tanya Arkananta.
"Kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo kan horor mas" gelak Remy. "Aku tahu nanti pasti akan ada acara di kamar mayat tapi kan tidak harus bertemu dengan mayat aneh-aneh."
"Memang nya kamu mau jadi dokter apa Rempong?" tanya Arkananta.
"Dokter ginekologi!"
Semua kakak sepupunya melongo. "Elu tuh modus atau gimana si Rem Blong?" tanya Valentino.
"Hah? Modus gimana?" tanya Remy bingung.
"Lihat barangnya cewek!" gelak Radyta.
"Haaaaahhh? Eh bukan itu mas!" Remy tampak panik melihat wajah kakak nya usil. "Aku hanya mau mengikuti jejak Oma Gendhis dan Oma Rani saja."
"Iya deh. Kita cuma godain kamu saja kok" senyum Romeo. "Lagipula menjadi dokter itu karena memang panggilan hati. Kamu inginnya apa dan harus melakukan tugasmu sepenuh hati serta serius."
Remy mengangguk. "Iya mas. Macam mas Romeo yang mengambil spesialisasi jantung ya?"
"Yup."
"Asyiiik!" seru Valentino saat membaca pesan di ponselnya.
"Apaan V?" tanya Arkananta.
"Autodrome Dubai sudah dibooking Radhi dan Oom Enzo. Alamat kita balapan deh! Nih, Radhi pamer Bugatti terbarunya!" Valentino menunjukkan ponselnya.
"Dasar anak Dubai ya!" sungut Radyta. "Eh tapi kalau ada yang penyok, bengkelku di sana laris dong!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️