Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Apartemen Sadawira



Maryland University, Maryland


Sadawira meminjam mobil milik Nadira untuk melihat apartemen yang ditawarkan kepadanya. Pagi ini pria berwajah dingin itu datang tidak sendiri melainkan bersama keponakannya yang bar-bar, Biana. Karena ini hari Sabtu, Biana libur sekolah jadi bisa menemani oomnya.


"Oom, dapat lantai berapa?" tanya Biana saat tiba di gedung apartemen empat lantai khusus mahasiswa pasca sarjana Maryland University.


Sadawira membuka ponselnya. "Dapat lantai satu. Soalnya Oom kan bisa tiba-tiba dipanggil rumah sakit jadi kalau di lantai satu, bisa cepat perginya."


"Ayo masuk Oom!" ajak Biana sambil menarik tangan Sadawira.


"Yuk!" Sadawira mengikuti permintaan gadis cilik berambut coklat panjang itu. Keduanya masuk dan bertemu dengan para penghuni apartemen yang melihat bagaimana perbedaan antara Sadawira dan Biana. Sadawira sangat Asia sedangkan Biana sangat bule seperti kedua orangtuanya.


"Oom, kok pada lihatin Bia sama Oom sih?" tanya Biana menggunakan bahasa Indonesia.


"Diragukan jadi anaknya Oom kali" jawab Sadawira cuek.


Biana mendelik. "Kan memang kamu bukan anak Oom."


"Bisa jadi dikira anak angkat?" cengir Biana yang mirip Pedro wajahnya kalau begitu.


Sadawira menowel hidung Biana. "Kamu itu memang cerdas tapi usil!" Pria itu tiba di ruang pengawas apartemen dan bertemu dengan pria paruh baya yang menunggu disana.


"Halo, aku yang akan menyewa apartemen nomor 102. Namaku Sadawira Yustiono" sapa Sadawira.


"Oh, right Namaku Foster. Sebelum kamu lihat unitnya, ada aturan yang harus kamu patuhi. No pet allowed, apapun! No Child!"


"Dia bukan putriku, dia keponakan aku. Ibunya dosen di Universitas Maryland dan dia kemari karena hendak menemani aku" jawab Sadawira dingin.


"Good. Kamu mengambil lantai satu karena kamu mengambil program magister forensik?"


"Yes."


"Oke. Kita lihat unitnya." Foster mengambil dua card key dan berjalan mendahului Sadawira dan Biana yang memegang tangan Sadawira erat.


"Kenapa Bia?" tanya Sadawira.


"Aku tidak suka orang itu" bisik Biana.


"Oom juga. Tapi jangan khawatir. Oom bisa jaga diri." Sadawira lalu berjalan bersama Biana mengikuti Foster.


Keduanya tiba di unit apartemen yang menggunakan card key dan Foster membukanya. Tampak apartemen yang hanya ada perabot sekedar nya. Tempat tidur tanpa kasur, meja makan yang minimalis, sofa yang aduhai, dan lemari apa adanya.


Sadawira masuk bersama dengan Biana yang mengernyitkan dahinya. Bahkan basemen rumah aku lebih bersih dan wangi dari ini karena mommy selalu mengganti pengharum ruangan tiap bulan - batin Biana.


"Baik saya ambil yang ini." Sadawira melihat dari jendela apartemennya yang tampak bangunan fakultas kedokteran dan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit kalau berjalan kaki. Pertimbangan aku mengambil apartemen ini agar dekat dengan kampus meskipun bentuknya begitulah


"Kamu harus membayar enam bulan di depan baru setelahnya kamu bisa membayar tiap bulan. Ayo kembali ke ruang pengawas untuk menyelesaikan semua administrasi dan pembayaran." Foster meninggalkan Sadawira bersama dengan Biana yang masih menunjukkan wajah tidak suka.


"Oom, kayaknya di apartemen ini ada mayat deh! Baunya samar-samar..." bisik Biana.


"Kamu ketularan Daddymu yang agen FBI" kekeh Sadawira. "Bau mayat manusia tidak seperti ini, Bia. Baunya ada spesifikasi tersendiri. Ini bau antara kucing mati atau tikus. Biar besok kita periksa. Bagaimana?"


"Bia ikut ya Oom?" pinta gadis cilik dengan mata hazelnya.


Biana tampak senang karena akan dilibatkan dalam acara beburu perabotan bersama dengan Oomnya yang dingin di luar tapi bersamanya selalu hangat dan lembut.


Sadawira lalu menyelesaikan semua administrasi dan mengatakan bahwa esok Minggu pagi truk Haul akan datang membawakan barang-barang miliknya termasuk kasur baru dan meja kerja.


***


Kediaman Keluarga Pascal


"Bagaimana acara melihat apartemennya tadi?" tanya Pedro.


"Apartemennya dari luar bagus Daddy tapi unit Oom Wira seperti crime scene. Ada bau mayat!" bisik Biana dengan wajah serius.


"Ah masa sih?" tanya Nadira cemas.


"Nggak mbak. Aku rasa itu bangkai tikus atau kucing. Bang Pedro kan di FBI pasti tahu lah perbedaan bau mayat manusia dengan binatang" senyum Sadawira


"Besok kita kesana yuk Dira, sekalian bantu Wira pindahan" ajak Pedro yang sebenarnya juga penasaran ada bau apa di apartemen adiknya.


"Boleh saja. Oh, apa kamu masih diikuti oleh dua agen?" tanya Nadira.


"Masih lah! Anggap saja pengawal bayangan aku" gelak Sadawira.


"Ampun deh!" Nadira memegang pelipisnya dan wajah dosen cantik itu tampak kesal mendengar adiknya masih di awasi dan diikuti.


"Mereka hanya menjalankan tugas Dira" bujuk Pedro.


Nadira mendengus sebal.


***


"Itu bagus mas" jawab Chisato dari layar iPad Sadawira sedangkan pria itu memakai MacBook nya untuk memperlihatkan perabotan yang akan dibelinya online dan akan diantarkan esok pagi. Karena itulah Wira memilih beli di toko online area Maryland agar mempermudah pengiriman.


"Tante Chisato seleranya sama ma Bia" celetuk gadis cilik yang ikut memilih banyak perabotan untuk Oomnya.


"Wah Bia, berarti kita cocok kalau shopping bareng" senyum Chisato.


"Kapan Tante Chisato bisa kemari, kita shopping bareng dan mommy. Acara girls shopping day!"


"Astaghfirullah... Kalian cewek-cewek tuh kalau soal shopping, langsung Numero Uno !" gerutu Sadawira sambil memegang pangkal hidungnya.


Chisato dan Biana hanya cekikikan.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️