
Presidential Suite Ritz Carlton London
Simon Weston tersenyum saat melihat Jayde datang bersama dengan kedua Oomnya yang merupakan pengacara tangguh dan cakap dari Blair and Blair Advocate.
"Mister Weston" sapa Travis dan Steven ramah.
"Mr Blair dan Mr Hamilton. Bolehkah saya memanggil anda dengan nama depan?" senyum Simon sambil bersalaman dengan Travis dan Steven.
"No problemo Mr Weston."
"Please, call me Simon. Aku merasa tua dipanggil Mister. No but! Just call me Simon." Nada suara Simon terdengar tegas dan tidak mau dibantah. "Ayo kita duduk."
Keempat orang itu pun duduk dan Travis celingukan mencari Stephan dan Gabriella, dua anak Simon Weston.
"Jika kamu mencari dua anakku, mereka di Edinburgh membereskan kekacauan disana. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa kecolongan..." gerutu Simon.
"Menurut cerita Jayde, semua dimulai dari anda pensiun, Oom Simon" ucap Travis.
"Oom... Oh aku suka panggilan itu. Well aku rasa begitu aku pensiun, Bryce mulai berani karena aku sudah menyerahkan semua ke Stephan dan Gabriella." Simon menatap Travis serius. "Stephan terlalu lunak dan Gabriella... Stephan terlalu keras ke putriku tapi tidak ke orang lain dan sekarang, dia kena batunya."
"Apakah Gabriella yang membereskan semuanya?" tanya Steven.
"Ohya, aku menunjuk secara resmi putriku yang menggantikan Stephan sebagai salah satu hukumannya karena lalai !" Simon menatap Jayde. "Sayang, calon cucu menantu aku tidak mau terjun di dalamnya."
"Tidak Grandpa. Maaf tapi aku rasa memang itu tanggung jawab Oom Stephan dan Tante Gabriella. Aku hanya membantu membongkar tapi semuanya, mereka yang harus menyelesaikan." Jayde tersenyum ke arah Simon.
"You're right Jayde."
"Baik Oom Simon, apa yang ingin kami lakukan dalam tindakan hukum?" tanya Travis sambil mengeluarkan iPad, MacBook dan agendanya begitu juga dengan Steven.
"Mereka merampok uangku £1 miliar. Aku minta kembali dua kali lipat !" ucap Simon. "Selama lima tahun mereka merampok aku dan aku ingin menuntut agar aset mereka bisa membayar tuntutan aku, yang selain semua tindakan pidana lainnya."
Travis mengangguk. "Baik Oom Simon. Mari kita bekerja dalam tuntutan perdata dan pidana."
***
College Park MD, Apartment Sadawira, Maryland
Sadawira menatap apartemennya yang sudah dibebaskan menjadi tempat kejadian perkara dengan perasaan masygul karena ini lebih buruk dari phrogging ( orang yang tinggal di dalam rumah tanpa diketahui pemilik rumah ) karena privacy nya sudah diobok-obok oleh semua law enforcement.
Sabtu ini memang Sadawira merencanakan untuk kembali ke apartemennya setelah hampir sebulan dirinya tinggal di rumah Pedro dan Nadira Pascal. Bersama dengan Biana, sang keponakan, Sadawira hendak membereskan semua kekacauan disana.
"Oom Wira, katanya agen DEA akan membereskan tapi kok bikin temboknya kurang rapi ya?" komentar Biana sambil memeriksa tembok yang dibongkar oleh agen DEA di bawah pimpinan Jammie Keller.
"Kita bisa memperhalus lagi Bia. Kamu mau bantu Oom kan?" Sadawira menoleh ke arah keponakannya yang dikenal cerdas dan kritis.
"Yuk. Mumpung Daddy lagi ada kasus ke Washington dan mommy ada seminar, aku super gabut !" ucap Biana cuek.
"Kamu tuh. Yakin kamu tidak mau jadi macam Daddymu?" tanya Sadawira sambil meletakkan terpal dan koran bekas.
"No. Aku ingin menjadi macam Mommy, menjadi dosen." Biana mengikat rambutnya dan bersiap menjadi tukang bersih-bersih.
"Baguslah! Karena Oom yakin, kamu bakalan dosen yang jauh lebih galak dari mommymu." Sadawira mengusap kepala Biana.
"Oom, kata Opa, kalau aku tidak galak, diragukan sebagai keturunan McCloud, Reeves dan Pratomo."
Sadawira terbahak.
***
London Inggris
"Selamat malam your highness" sapa Travis sopan.
"Stop the chit chat, Travis. Kita keluarga" kekeh Henry, raja Inggris itu. "Travis, bisakah besok kamu datang ke Kensington?"
"Absolutely. Jam berapa, Henry?" tanya Travis.
"Sembilan pagi. Bawa Jayde bersamamu."
"Okay. Kami akan kesana."
"Nanti asistenku yang akan membawa kalian ke ruang kerja ku. Kita minum teh sekalian?"
"Yes your highness."
Raja Henry tertawa.
***
Istana Kensington, London
Pukul sembilan tepat, Travis Blair dan Jayde Neville Abisatya sudah tiba di istana yang juga menjadi kediaman Raja Henry dan Ratu Medeline. Keduanya lalu dibawa ke ruang kerja raja Inggris yang juga sahabat baik Sean Léopold, raja Belgia, keponakan Travis dan ipar Jayde.
Keduanya pun masuk ke dalam ruang kerja yang sangat mewah dan disana sudah ada Henry dan Medeline menunggu mereka.
"Albert, tutup pintunya dan jika ada yang mencari aku atau Medeline, suruh tunda hingga besok !" perintah Henry.
"Yes Your Majesty." Albert pun keluar sembari menutup pintu ruang kerja Henry.
"Travis, apa kabar?" Henry langsung memeluk Travis Blair. "Jayde."
Jayde membungkuk hormat ke Henry. "Your Majesty" senyum Jayde.
"Oh come on, panggil yang biasa saja." Henry tersenyum ke arah putra Taufan Abisatya itu.
"Travis, Rahajeng tidak ikut?" tanya Medeline yang mendapatkan ciuman di pipi dari pengacara itu.
"No, urusannya berbeda. Lagipula, Rahajeng harus mengawasi putriku yang bucinnya keterlaluan dengan kekasihnya..." kekeh Travis membuat Jayde tersenyum smirk.
"Nadya dan Omar? Serius?" tanya Medeline sambil mempersilahkan kedua tamunya duduk.
"Yes. Mereka sangat serius. Dan aku serta Rahajeng tidak keberatan karena Omar sangat mencintai dan melindungi putriku."
"Syukurlah kalau kalian sudah oke." Henry tersenyum ke arah dua orang di hadapannya. "So, aku tidak mau berlama-lama. Bagaimana kemajuan kasus Simon Weston?"
Travis dan Jayde saling berpandangan. "Well..."
"Aku tidak akan intervensi tapi aku berhak tahu karena melibatkan salah satu menteri aku yang kebetulan masih ada hubungan kekerabatan dengan Medeline meskipun jauh." Henry menatap serius.
"Baik yang mulia. Jadi..." Travis dan Jayde menceritakan kronologis bagaimana Simon Weston bisa kecolongan hingga kehilangan sangat banyak.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️