Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Hasil Makan Uang Haram



Markas Triad Wong Hongkong


Sadawira dan Bramastyo bertarung dengan berbeda senjata. Sadawira menggunakan baton sedangkan Bramastyo menggunakan pedang katana. Suara adu besi pun terdengar nyaring. Begitu juga dengan Jayde dan Mark yang beradu. Jayde dengan basic anggar beradu dengan jurus Wushu Mark.


"Ternyata kamu tidak bodoh ya Neville" ejek Mark.


"Bagaimana bisa kamu bilang aku bodoh?" ucap Jayde sambil menepis pedang Mark dengan baton bajanya.


"Kamu adalah anggota keluarga yang tidak pernah terkenal, tidak seperti saudara mu!"


"Aku tidak terkenal, tapi aku bisa menguras semua uangmu!" ucap Jayde dingin.


"Apa?" Mark menghentikan serangannya.


"Cek saja! Semua akun keuangan kalian sudah aku kuras!" seringai Jayde membuat Bramastyo juga mengehentikan pertarungan nya dengan Sadawira.


Mark mengambil ponselnya dan membuka semua akun bank nya. Matanya melotot tidak percaya karena semuanya hanya ditinggal $100.


"What did you do ( Apa yang kamu lakukan )?" geram Mark marah. "WHAT DID YOU DO!"


"Sama dengan yang kamu minta, penggelapan uangmu dengan tidak terlihat" senyum Jayde.


Mark pun mengamuk dan mulai menyerang membabi buta membuat Jayde pun kewalahan hingga dirinya sedikit lengah. Pedang tajam itu menyayat lengan Jayde yang membuatnya berdarah.


"Jayde!" seru Sadawira.


Jayde hanya melirik ke lengan kirinya yang berdarah. "I'm cool." Jayde pun membalas serangan Mark.


Bramastyo yang melihat Sadawira teralihkan, juga menyerang mantan sahabatnya. Sadawira berusaha menahan serangan Bramastyo.


"Brengsek kau Wira! Harusnya kamu diam saja!" hardik Bramastyo.


"Apakah kamu juga diam saja kalau yang jadi korban ayahmu?" ejek Sadawira. "Harusnya kamu malu, menjual organ manusia. Apa kurang uang jajan dari ayahmu?"


Bramastyo menyerang Sadawira hingga satu titik Dokter itu berhasil mengenai leher Mantan sahabatnya hingga Bramastyo tersedak.


"Kamu jadi orang jahat itu mungkin karena ayahmu memberikan makan dengan uang haram" ucap Sadawira dingin. Matanya melirik ke Jayde yang meskipun lengan kirinya terus mengeluarkan darah, pria itu tetap bertarung.


"UHUK .... UHUK ... Jangan bawa-bawa ayahku!" ucap Bramastyo dengan suara tercekik.


"Kenapa kamu jadi heartless Bram? Apa yang membuat kamu menjadi pedagang barang haram? Pernahkah kamu berpikir, kematian Sandra dan anakmu itu adalah warning agar kamu tobat?" Sadawira berdiri dengan posisi kuda-kuda Kendo.


"Shut up! JUST SHUT UP!" bentak Bramastyo.


"I'm so sorry of you ( aku sangat kasihan padamu )" ucap Sadawira.


"HAAAAAHHH! F*** YOU WIRA !" teriak Bramastyo. Pertarungan antara keduanya pun terjadi lagi membuat Chisato dan dua agen mossad itu berusaha menyingkir karena ruang kerja itu sudah terdapat mayat para pengawal yang ditembak Kalila, belum lagi lantai yang licin dengan genangan darah.


Sadawira berusaha menahan keseimbangan tubuhnya ketika kakinya sedikit terpeleset akibat kena darah sembari menahan serangan Bramastyo.


"Apa yang bisa kamu lakukan dengan baton tumpul begitu hah? Serangan mu juga tidak mematikan!" ejek Bramastyo.


Sadawira hanya diam saja sambil berusaha menahan agar Bramastyo tidak sampai ke tempat Chisato berdiri. Tiba-tiba Sadawira terpeleset dan jatuh terduduk, membuat Bramastyo tersenyum dan mengangkat pedangnya untuk menebas Sadawira.


"See you in hell, Wira!" ucap Bramastyo namun Sadawira menahan dada pria itu dengan ujung baton nya.


"Kamu ingin tahu pedang tumpulku bisa apa? Ini..." Sadawira menekan sebuah tombol dan dari ujung baton itu muncul jarum yang langsung menusuk jantung.


"See you in hell, Bram. Sorry jika harus begini akhirnya..." bisik Sadawira.


Dibantu oleh Chisato dan Agen Mossad, Sadawira pun berdiri dengan bagian belakang celana jeans nya berlumuran darah.


"Apakah kita harus membantu Mr Neville?" tanya agen Mossad itu.


"Kita tunggu dan aku yakin Jayde tidak suka kita intervensi" jawab Sadawira.


Jayde merasa dirinya sedikit pusing karena darah yang mengalir dari lukanya berpengaruh pada kondisi tubuhnya.


"Just finish him Jayde! You're too long ( Kamu kelamaan )!" ucap Sadawira.


Jayde pun mengangguk dan disaat posisinya menguntungkan, putra Taufan Abisatya itu menusukkan jarum di ujung batonnya di bahu Mark. Sama dengan Bramastyo, Mark pun langsung tercekik dan tak lama, dirinya pun ambruk.


Jayde pun akhirnya jatuh terduduk karena tidak kuat lagi. Kemeja putihnya pun sudah bersimbah darah. Sadawira lalu merobek kain gorden tipis dan mengikatnya di luka Jayde yang berteriak kesakitan.


"Sakit monyong!" teriak Jayde.


"Sorry" jawab Sadawira kalem. "Bawa dia ke Dokter Ken! Kalau perlu, papah dia!" perintah Sadawira ke kedua agen mossad itu.


"Baik Mr Yustiono." Kedua orang Mossad langsung memapah Jayde dan membawa nya keluar menuju Ken yang bertugas sebagai dokter disana.


"Anda baik-baik saja Wira-san?" tanya Chisato.


"I'm fine."


"Wira! Kamu hajar pakai apa?" tanya Kalila di earpiece Sadawira.


"Serum black mamba. Harafiah!"


"What?" seru Kalila dan Alexander bersamaan. "Kamu mengerikan Wira!"


"Bagaimana Jayde?" tanya Gasendra.


"Kena luka sayat tapi dia akan hidup" jawab Sadawira kalem.


"Kamu memang pantasnya jadi dokter forensik!" celetuk Damian. "Mana ada mayat protes kena scalpel!"


Sadawira hanya tersenyum. "Aku dan Chisato akan ke tempat bang Luke."


"Just be careful" pesan Gabriel.


"I will. Ayo, Chisato." Sadawira memendek kan batonnya dan menyimpannya di belakang pinggang nya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Sorry telat. Bingung cara jabarin adegannya.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️