
Singapura...
Chisato mengemudikan yacht kecil itu kembali ke tempat dia menyewa, Singapore Yacht Carter. Dan setelah terparkir sempurna, ketiga orang itu pun turun. Sadawira dan Jayde mengenakan topi dan kacamata hitam agar wajah mereka tidak dikenali. Chisato sendiri berjalan di belakang mereka sembari mengawasi keadaan sekitar.
Ramainya tempat penyewaan Yacht, membuat ketiga orang itu dengan mudah berhasil keluar dan memanggil taksi yang berada di sana.
Vampir Satu
Vampir Dua
Yang laporan ke bossnya...
Di dalam taksi, Jayde dan Sadawira mengaktifkan GPS masing-masing. Ponsel mereka yang entah kemana saat menceburkan diri ke laut, membuat keduanya tergantung dengan ponsel Chisato.
"Sudah laporan ke kakakku, Chisato?" tanya Sadawira.
"Sudah Wira-san" jawab Chisato Kuchiki.
"Kita harus beli ponsel, Wir. Ponsel kita hilang..." gumam Jayde.
"Nanti pesan online. Yang penting kita sampai dulu ke apartemen."
***
Apartemen Sadawira di Singapura
Sadawira dan Jayde merasakan hawa dingin yang melanda di tengkuk mereka saat melihat Luke, Bayu, Radeva, Gabriel, Gasendra dan Shinichi menatap judes ke keduanya.
"Heh anak Inggris! Kamu itu kalau mau pergi, kamar diberesin dulu! Macam kapal pecah tahu! Gimana sih kamu bisa tidur dengan kamar berantakan macam ketabrak tank nya Oma Sabine! Sudah aku ngantuk, masih harus bersih-bersih kamar dan ganti seprai! Untung aku..." omel Shinichi macam ibu-ibu.
"Shin... Ngomelmu kagak berfaedah!" potong Luke gemas.
"Kalian itu memang harus dihukum!" Bayu lalu menghampiri kedua adiknya dan mengeplak belakang kepala dua pria tampan itu.
"Aduh mas! Niat banget ngeplaknya!" sungut Sadawira sambil memegang kepalanya.
"Memang niat, kampret! Apa kalian tidak tahu bagaimana cemasnya semua keluarga? Hah? Masih mending pak Abiyasa nggak bawa pasukan geruduk Singapura!" bentak Bayu kesal. "Sekarang bilang kenapa kalian tidak ada yang mau cerita sama aku?"
"Karena kamu bakalan begini mas! Macam angin lisus main hajar tanpa mikir dampaknya!" balas Sadawira tidak kalah galaknya. "Astaghfirullah... Kalian bawa senjata kemari?" Mata Sadawira melotot melihat ada Glock, SIG dan PPK disana.
"Hei, aku dan OZ agen FBI jadi kami punya special permit" jawab Pedro.
"Aku atlet menembak internasional" senyum Radeva.
"Aku Emir Blair jadi ... Wajar kan?" jawab Damian sambil duduk dan makan pizza.
Jayde hanya menghela nafas panjang mendengar keributan di apartemen yang tidak terlalu luas ini. Wajah dinginnya berubah saat melihat Inggrid dan Nadya keluar dari dapur.
"Oh my God! Kamu nggak papa?" tanya Inggrid ke Jayde dan langsung memeluk sahabatnya.
"I'm fine, Grid" senyum Jayde sambil mengusap punggung Inggrid.
"So glad you're safe..." ucap Inggrid sambil mengusap lengan kiri Jayde membuat pria itu meringis. "Kamu kenapa?"
Jayde hanya tersenyum smirk. "Keserempet peluru."
Sontak semua kakak sepupunya melotot. "APPAAAAAA?"
***
"Jadi bang Lukie sampai meminta bantuan Triad Chen?" tanya Jayde. Semua orang berada di ruang tengah apartemen dengan posisi seenaknya. Ada yang duduk diatas karpet, sofa maupun kursi makan.
"Siapa lagi yang mengenal Hongkong kalau bukan Triad sahabat kita sejak turun temurun? Mereka memberikan blue print terbaru." Luke memperlihatkan lokasi dan perkiraan jumlah orang yang ada disana. "Kita kembali ke Tokyo. Wira, bagaimana dengan pekerjaan kamu?"
"Aku sudah resign dari rumah sakit disini karena bulan depan usai pernikahan Garvita, aku langsung terbang ke University of Maryland" jawab Sadawira.
Pedro tampak terkejut. "University of Maryland?"
"Yup, jadi mahasiswa nya mbak Dira cuma aku mengambil ilmu forensik."
Suara bel di pintu apartemen terdengar, membuat Hidetoshi berjalan ke pintu dan membukanya. Tampak salah satu pengawal Luke berdiri disana membawakan dua paper bag berisikan ponsel baru untuk Sadawira dan Jayde.
"Ponselmu sudah datang" ucap Hidetoshi sembari menyerahkan paper bag itu ke Jayde dan Sadawira.
"Thanks." Sadawira pun berdiri lalu mengambil kartu perdana dari laci lemari konsul disana dan memberikan pada Jayde satu dan dirinya satu. Kedua pria itu lalu mensetting ponsel masing-masing dengan mengaktifkan cloud mereka.
"Dam, kamu bawa pesawat Al Jordan Dubai?" tanya Pedro.
"Pesawat paling besar punya siapa?" tanya Omar.
"Punya Al Jordan" jawab Nadya.
"Kamu kesini naik pesawat siapa?" tanya Luke.
"Yang jelas tidak memakai pesawat Blair. Aku menyewa pesawat bersama pilotnya saat ada urusan dengan klien London. Pesawat Blair dipakai Daddy ke Australia" ujar Nadya.
"Oke. Kita semua berangkat malam ini ke Tokyo dengan dua pesawat, milik keluarga Takara dan Al Jordan Dubai!" putus Luke.
***
"Good job Chisato!" ucap Luke sambil menepuk bahu pengawal wanita kebanggaannya.
"Domo Arigato Bianchi-san. Saya sangat bersyukur Wira-san dan Jayde-san selamat padahal ditembak seperti itu" jawab Chisato.
"Bersiaplah, kita akan pulang ke Tokyo dan lusa kita ke Hongkong usai istirahat satu hari."
***
"Kamu ikut kami, Grid?" tanya Jayde ke sahabatnya. Keduanya sedang menikmati pemandangan kota Singapura dari balkon apartemen Sadawira.
"Ikutlah. Aku juga ingin melihat kehancuran Triad Wong..." Inggrid tersenyum ke Jayde. "Aku ingin kehidupan kita kembali tenang seperti dulu sebelum Triad itu datang ke kantormu..."
"Kakek Simon tidak tahu kan?" senyum Jayde mengingat kakek Inggrid yang sangat sayang pada cucunya tapi dikenal sangat tegas.
"Kalau pun tahu, dan aku bersamamu, dia lebih tenang."
Jayde mengangguk. Kakek Inggrid sangat sayang pada Jayde dan sudah saling mengenal pria dari jaman awal kuliah serta hanya satu-satunya teman pria yang disetujui berteman dengannya.
"Jika kamu pada akhirnya ikut gegeran, aku minta cuma satu."
Jayde menatap Inggrid. "Apa itu?"
"Jangan mati!"
***
Bayu sekarang berada di kamar Jayde mendapatkan amukan dari ayah dan para Oomnya generasi kelima melalui panggilan zoom.
"Mana Luke?" tanya Hoshi emosi.
"Luke sedang koordinasi dengan Triad Chen" jawab Bayu.
"Kalian itu memang sinting!" umpat Benji.
"Oom Benji, kesintingan kami kan nurun kalian plus ada contohnya. Generasi ke empat obrak Abrik Dubai, generasi kalian obrak Abrik Turin dan New York. Kurang panutan apa lagi coba?" jawab Bayu kalem membuat generasi kelima langsung manyun.
"Shin juga disana?" tanya Hideo.
"Iya Oom Hideo."
"Kalian serius mau geruduk Hongkong?" tanya Haris.
"Iya Oom. Karena mereka sudah membuat kami sebal dan hidup kami tidak tenang."
"Satu pesan aku, Bay."
"Apa itu Dad?" tanya Bayu ke Abiyasa sang ayah.
"Kalau mau habisi, jangan tanggung-tanggung!"
Bayu terbahak sedangkan generasi kelima menatap sebal ke Abiyasa melalui layar monitor.
"Meh piyeee anake ora panasan? Ajaranne buapake kayak ngene ( Gimana anaknya nggak panasan ? Ajarannya bapake seperti ini )!" umpat Bima kesal.
"Yang jelas aku minta, kalian jangan ikutan kalau kami tidak minta" senyum Bayu.
"Kami tidak janji kalau itu, Bay. Memangnya kami tidak gatal apa ingin healing?" seringai Joey.
Hoshi hanya bisa memegang pelipisnya. "I'm so headache ( gue pusing )!"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️