Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Persiapan Keluar Penjara



Penjara Federal Hongkong


Semua generasi keenam mengambil barang masing-masing setelah Kalila, Leia, Dante dan Alexander datang membawakan tas dan koper masing-masing. Kepala penjara Federal mengucapkan terimakasih atas semua pertolongan Luke, Bayu, Sadawira, Pedro dan Lucas saat dirinya di sandera.


"Sejujurnya saya merasa mereka terlalu berlebihan untuk menghajar kalian semua. Bukankah dengan demikian membuat kalian berada di posisi yang menguntungkan?" ucap kepala penjara itu.


"Exactly, mereka malah mencemarkan nama mereka sendiri jadinya tapi ada hikmah di balik semua itu. Kami bisa pulang secepatnya!" senyum Luke. "Karena kami harus datang ke persta pernikahan adik kami di Dubai. Bisa ngamuk dia kalau kami tidak datang."


"Sekali lagi saya berterimakasih dan saya tidak terlibat apapun dengan Triad Wong, Mr Bianchi."


"Kami tahu. Maka dari itu kami tidak melibatkan anda dan hanya menjadi saksi."


"Tapi apakah saya aman, Mr Bianchi? Keluarga saya?"


Luke mengangguk. "Jika ada yang berani menyentuh anda, semua kebejatan semua anggota HKSS dan kepolisian Hongkong hingga keluarga nya akan kami blow up ke seluruh dunia."


"Kalian mengerikan..."


"Kami berbuat seperti ini karena mereka memulai terlebih dahulu, apalagi ini bisnis haram dan anggota keluarga kami jadi korban kebiadaban mereka. Wajar jika kami menuntut balas!" jawab Luke. "Lagipula, dua adik kami menjadi pion negara anda, Sir karena jika terjadi sesuatu, mereka berdua yang akan dikorbankan! That's fu**** shiiittt ! Kami tidak pernah menyenggol siapapun di Hongkong tapi mereka kurang ajiar!"


"Apakah yang akan terjadi dengan semuanya Mr Bianchi?"


"Sejujurnya? Terserah pemerintah kalian. Kami tidak akan ikut campur."


"Bang, aku nyusul bang Omar ke bloknya Nadya" bisik Sadawira.


"Oke" jawab Luke.


***


Omar Zidane berjalan menuju blok sel wanita untuk menghampiri Nadya yang bersama dengan Chisato dan Katrin.


"Bang OZ!" panggil Sadawira. "Mau ke sel Nadya?"


"Iya. Kamu mau ikut?" balas Omar Zidane yang menoleh ke belakang.


"Iya. Mau lihat bilik mereka bagaimana."


"Apakah karena Chisato?" senyum Omar.


"Siapa?"


"Wira, dia memang cantik, dingin tapi mematikan."


"Hhhmmmm."


"Kamu itu tidak bisa punya cewek lembek, Wir."


Sadawira terbahak. "Anda benar bang. Sama halnya dengan mu, tidak bisa mendapatkan cewek yang tidak receh, harus yang receh macam Nadya agar hidupmu bewarna."


Omar Zidane tertawa kecil. "Aku masih maju mundur dengan Nadya, Wira. Satu sisi aku ingin bersamanya tapi sisi lain aku takut dia tidak memiliki perasaan yang sama... Jujur aku tidak mau patah hati lagi."


"Bang Omar, aku rasa Nadya memiliki perasaan yanb sama denganmu tapi sebagai cewek yang dididik dengan ajaran Jawa, tidak mungkin dia akan maju duluan lah!" Sadawira menjawab dengan nada serius.


"Terkadang kita bisa kasih tahu orang lain tapi tidak bisa menerapkan pada diri sendiri..." gumam Omar.


Sadawira terbahak. "Nah tuh tahu!"


"Baru kali ini aku melihat kamu bisa tertawa lepas Wir."


"Iya bang, aku lega banget setelah setahun isinya perang emosi dengan Triad Wong. Sekarang aku bisa lepas bebas. Apalagi mau pulang ke Jakarta ketemu dengan opa dan Oma aku. Mereka pasti cemas memikirkan kami cucu-cucunya."


Omar mengangguk. Keduanya sampai di blok perempuan dan sipir disana menyambut dengan baik.


"感谢你们铲除黑社会wong,因为我的家人是受害者。- Gǎnxiè nǐmen chǎnchú hēishèhuì wong, yīnwèi wǒ de jiārén shì shòuhài zhě. ( terima kasih sudah membasmi triad wong sebab keluarga saya ada yang menjadi korban)" ucap salah satu sipir.


"你放轻松。你和其他受害者的仇已经报了。- Nǐ fàng qīngsōng. Nǐ hé qítā shòuhài zhě de chóu yǐjīng bàole ( Anda tenang saja. Dendam anda dan korban lainnya sudah terbalaskan )" jawab Sadawira serius.


"谢谢 - Xie xie."


Sadawira dan Omar mengangguk.


Kedua pria dengan beda tinggi dan fisik itu pun mengikuti sipir penjara menuju sel Nadya. Ketiga wanita itu melongo melihat kedua orang itu datang.


"Ngapain kalian datang kemari?" tanya Nadya.


"Bantuin kalian lah!" jawab Sadawira. "Untung Lila cerdas tidak mengirimkan dengan tas kalian masing-masing, bisa rusak dibongkar."


"Iya, macam aku, Mr Yustiono. Tas aku habis dibongkar" keluh Katrin Jaeger sembari menunjukkan duffle bag nya yang berantakan.


"Mereka menemukan apa?" tanya Omar.


"Ruger LCP Max aku" jawab Katrin. Ruger adalah senjata api yang termasuk kecil.


"Sekarang dimana senjata itu?" Omar menoleh ke arah sipir penjara wanita.


"Saya simpan, Sir. Semua barang bawaan dari kalian semua disimpan dalam lemari besi." Sipir penjara itu menatap Katrin Jaeger. "Tidak ada yang hilang."


"Good karena aku tidak mau harus membuat laporan panjang ke kantor. Malas!" kekeh wanita berdarah Jerman itu.


"Agen BND sudah disiapkan pesawatnya termasuk agen mossad dan BIN. Malam ini kita semua sudah kembali ke negara masing-masing" ucap Omar.


"Puji Tuhan! Aku sudah kangen New York!" ucap Nadya sambil membawa kardusnya.


"Sini aku bantu Nad." Omar mengambil kardus Nadya.


"Mari saya ajak anda mengambil barang pribadi anda semua." Sipir penjara itu berjalan di depan mereka


"Sini aku bantu Chisato. Kamu biar gampang mengambil barang-barang mu nanti" ucap Sadawira ke Chisato sambil mengambil kardus itu.


"Tapi Wira-san..." protes Chisato dengan wajah memerah.


"Sudah, nggak papa." Sadawira lalu membawa kardus itu sedangkan Katrin Jaeger tersenyum melihat ulah mereka berdua.


"Magst du sie, nicht wahr ( kamu suka dia kan )?" goda Katrin ke Sadawira.


"Ich weiß nicht, was du sagst ( aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan )" jawab Sadawira dengan wajah datar.


"Oh, komm schon, Sadawira, sie ist so knallhart ( ayolah Sadawira, dia sangat badass )" kekeh Katrin.


"Ich Weiss ( aku tahu )."


"Nach ihr. Sie steht dir so gut ( Kejar dia. Cocok sama kamu )" senyum Katrin serius.


Sadawira menatap wanita yang lebih tua darinya. "Danke!"


"Ich hoffe, wir können uns wiedersehen, Sadawira. Unter besseren Umständen ( semoga kita bisa bertemu lagi Sadawira. Di situasi yang menyenangkan )?" Katrin tersenyum ke pria dingin itu.


"Absolutely. Beer on me?" tawar Sadawira. "Orang Jerman kan suka beer."


"Deal. Harus makan bradwurst! Tenang, aku akan membawakan yang halal" jawab Katrin. "Atau kalau kamu ada waktu, kita bisa bertemu di Munich. Ich hoffe, wenn Sie in München ankommen, bringen Sie sie bereits als Ihre Frau mit ( Dan semoga saat kamu di Muenchen, sudah bersamanya sebagai istrimu )."


Sadawira melongo. "Meine Familie weiß noch nichts davon ( keluarga aku belum ada yang tahu )."


"Well, I know now" kekeh Katrin.


"Dasar Agen Federal!" sungut Sadawira.



Visual Agen BND Katrin Jaeger


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️