
Apartemen Sadawira di Singapura Keesokan Harinya...
Luke mendengar suara ketukan di depan pintu apartemen Sadawira dan membukanya. Tampak rombongan New York dan Dubai berdiri di depan pintu.
"Ya Allah beneran kalian pada datang..." gerutu Luke sambil masuk ke dalam apartemen diikuti oleh para saudaranya.
"Lha? Rombongan pada datang..." celetuk Shinichi yang melihat Nadya datang bersama dengan seorang gadis cantik berambut pirang dan bermata biru. "Nadya juga?"
"Hai boys!" sapa Nadya sambil menyambut para sepupunya dengan mencium pipi mereka hingga gadis itu mencium pipi Omar membuat pria berdarah Mesir itu terkejut.
"Nad..." bisik Omar.
"Kebablasan... harusnya berhenti di kamu ya acara cium pipinya" senyum Nadya sambil menepuk pipi Omar.
Omar memegang tangan Nadya. "I'm so glad you came safe ( Aku lega kamu tiba dengan selamat )."
Nadya hanya tersenyum lalu melepaskan tangan Omar. "Boys, aku perkenalkan Inggrid Pascale, sahabat Jayde. Inggrid, aku perkenalkan pria-pria belum mandi ini. Luke Bianchi, Shinichi Park, Hidetoshi Shinoda, Radeva Dewanata, Damian Blair sepupuku kandung, Ken Al Jordan, Gabriel Luna yang hendak menikah bulan depan, Gasendra Schumacher, Pedro Pascal dan Omar Zidane agen FBI."
"Senang bertemu dengan anda semua, saya Inggrid Pascale, sahabat Jayde sejak kuliah. Saya adalah pemilik Bank Manchester Flower. Tentu anda pernah mendengar nama keluarga Weston ?"
"Pengusaha berlian itu? Yang dari Wales dan sekarang tinggal di Aberdeen Skotlandia?" tanya Damian.
"Yes. Simon Weston adalah kakek saya. Dan beliau memberikan bank itu untuk saya kelola agar saya tidak menjadi agen MI6 seperti Daddy."
Semua orang itu melongo. "Tunggu, apakah nama ayah anda Jacques Pascale? Agen yang tewas bersama tiga agen FBI internasional saat mengejar pelaku pengeboman stadiun di Belfast?" tanya Omar Zidane.
"Oui. Ayah saya memang orang Perancis tapi sudah menjadi warga negara Inggris sejak lahir. Dan itulah yang membuat kakek saya tidak setuju saat menikahi mommy. Anyway, kenapa saya menjadi cerita tentang saya..." Inggrid tersenyum. "Baik, kita lanjutkan ke bisnis atau kopi dulu?"
***
Hidetoshi memesan banyak makanan dan kopi serta minuman lainnya meskipun di kulkas Sadawira juga banyak makanan beku dan minuman tapi makanan panas dan baru dimasak sangat nyaman bagi orang-orang yang sedikit kena jetlag.
"Jadi Jayde memang menerima uang sebesar HK$200 juta setelah yang sebelumnya dia kembalikan." Inggrid menunjuk kan akun yang digunakan Jayde di bank Swiss. "Aku dan Jayde berusaha melacak melalui ledger ( buku besar ) milik Triad Wong. Ada banyak pemasukan selain mereka sebagai rentenir di Hongkong, juga dari banyak bisnis haram mereka. Saat Terry Wong masih hidup, mereka kedua anaknya, sudah menggelap kan banyak uang dari ayahnya. Jika dua agen itu mengatakan sudah menempatkan informan disana, aku yakin pasti para akuntan itu."
"Tapi semuanya tewas, Grid" ucap Luke.
"Karena mereka tidak berguna! Mereka bisa menyembunyikan uang tapi tidak memiliki akses ke bank Swiss ... "
"Karena bank Swiss sangat ketat dalam screening nasabah" gumam Damian. "Dan Jayde adalah anggota Keluarga yang memiliki akses bank Swiss tanpa harus ditanyakan lebih lanjut..."
"Exactly. Apalagi Jayde adalah seorang akuntan dan bukan anggota keluarga yang sering muncul di pemberitaan..." senyum Inggrid.
"Jayde memang tidak sebeken kita-kita sih..." celetuk Bayu.
"Karena dia di bawah radar, tidak akan ada yang curiga" timpal Inggrid.
Semua orang akhirnya mengetahui mengapa Triad Wong memilih Jayde. Karena memiliki akses ke bank yang paling aman di dunia.
"So, siapa yang bisa mengakses akun milik Jayde itu?" tanya Luke.
"Aku, Jayde dan Wira. Jika tidak ada dua dari tiga nama disana yang memberikan akses, maka akun itu akan dibekukan." Inggrid menatap ke semua pria disana.
"Jayde memiliki akses bank Swiss, Wira saksi penting perdagangan organ tubuh manusia. Memang surat dari pemerintah Hongkong dan Kepolisian Hongkong itu legit dan aku sudah mengkonfirmasi ke kedutaan Hongkong dan kenalan Daddy disana..." gumam Luke.
Ponsel Luke berbunyi dan wajahnya tersenyum. "Hallo, Sky Chen. Ni Hao?"
***
"Jadi begini, aku buta Hongkong dan tidak mungkin aku membawa Shen kembali karena sedang proses menjadi warga negara Jepang jadi dilarang keluar negeri tanpa paspor" ucap Luke berusaha menjelaskan.
"Shen itu siapa?" tanya Nadya yang duduk bersebelahan dengan Omar. Mereka semua berada di lantai sambil makan siang dan berunding.
"Shen itu informan kami saat mendapatkan pembunuh Shota" jawab Hidetoshi. "Dia bocah berusia sepuluh tahun tapi sudah terbiasa di dunia kriminal. Dan Luke hendak merekrutnya menjadi anggota kami termuda."
"Oke kembali ke Triad Chen. Kita semua kan berteman baik secara turun-temurun dengan Triad Chen, Mafia Diazo dan Bianchi yang malah jadi anggota keluarga Pratomo. Jadi aku meminta tolong pada Sky Chen, cicit Triad Chen untuk memberikan blue print terbaru markas Wong. FYI, Triad Chen juga sering berseteru dengan mereka hanya saja masalah mereka hanya persaingan wilayah tapi bukan organ tubuh. Dan voila, ini blue print nya." Luke menunjukkan bangunan milik Triad Wong yang terdapat tiga bangunan disana. Bangunan depan untuk perusahaan finance sedangkan dua bangunan lainnya untuk kantor.
"Jadi kita berangkat kesana hari ini?" tanya Bayu.
"Sabar. Kita ke Tokyo dulu sambil menunggu duo kampret itu nongol!" kekeh Luke. "Jayde, Wira, pulang!"
Semua orang celingukan. "What?"
"Jayde dan Wira berada di kapal yang disewa oleh pengawalku, Chisato. Jadi saat mereka dikejar, Chisato sudah siap disana. Dan mereka selamat. Pulang lu berdua, kampret!" bentak Luke sambil menunjukkan kamera CCTV di pojok atas sudut tembok.
"Kapan kamu tahu mereka selamat?" tanya Bayu jengkel.
"Subuh tadi. Chisato gemas dengan mereka berdua yang sengaja bikin kita nyolot jadi laporan ke aku. Secara, aku bossnya kan?" cengir Luke.
***
Di Kapal...
Jayde dan Sadawira menoleh ke arah gadis Jepang yang hanya menatap polos ke mereka.
"Bianchi-san berhak tahu, Wira-san, Jayde-san. Apa kalian berdua nggak ingin ikut ke Hongkong?" ucap Chisato itu santai.
"Beneran deh kamu tuh! Sengaja kita buat dramanya biar mendayu-dayu" gerutu Jayde sambil manyun.
"Ngomong-ngomong si Inggrid lebih cantik aslinya dari di foto lho Jayde. Yakin kalian cuma bersahabat?" goda Sadawira.
"Dengar vampir. Sesama vampir dilarang saling menggoda kejombloan masing-masing" balas Jayde judes. "Chisato, tambatkan kapal ini ke dermaga. Kita pulang ke apartemen. Aku tidak mau tiba-tiba ada Yakuza main geruduk kemari."
"Tapi masih ada beberapa polisi disana... Dan saya takut masih ada anak buah Triad Wong yang berusaha mencari informasi keberadaan kalian" jawab Chisato. "Karena tahu, anda berdua lah yang berada di pondok itu."
"Well, anggap saja kita sudah mati tenggelam dan mayat nya tidak ditemukan" balas Sadawira. "Biar nanti diurus bang Lukie."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Belum gegeran ... Sabar gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️