Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Kamu Kuliah Saja !



Apartemen Sadawira di Maryland


Sadawira bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri sembari menodongkan Glocknya di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri. Dia sudah bersiap menelpon Billy Boyd di speed dial sebab Pedro Pascal dan Omar Zidane masih di Brussels Belgia.


Pria berwajah dingin itu melihat dari layar tvnya yang sudah dia link dengan CCTV dari luar pintu apartemennya. Sadawira melihat pria kulit hitam itu mengeluarkan Glock kaliber 22 nya namun dicegah oleh Foster.


"Jangan sekarang. Besok dia pergi kuliah, kita bongkar apartemennya." Foster pun menarik pria kulit hitam itu untuk pergi meninggalkan apartemen Sadawira.


Brengseeekkk! Besok dia mau masuk ke apartemen gue? Sadawira tampak bingung karena secara di Maryland, dia sendirian. Aku tidak bisa berada dalam dua tempat bersamaan! Memangnya aku bisa di kloning?


Sadawira pun berpikir keras dan akhirnya dia menyerah lalu menelpon Pedro. Karena kasus ini berbeda dengan kasus Singapura dan Hongkong karena terjadi di apartemennya, rumahnya yang mana dia tidak tahu ada barang haram di balik tembok itu.


"Ya Wira" sapa Pedro Pascal.


"Bang... " Sadawira pun menceritakan semuanya dan Pedro tidak memotong sedikit pun.


"Malam ini aku hubungi Billy dan Jammie Keller, agen DEA yang ternyata sudah mengincar Forest lama. Biar Senin, mereka bisa menangkap mereka semua."


"Thanks Bang. Di kasus ini, aku tidak bisa gegabah macam di Singapura karena sudah menyangkut rumah ku."


"I know. Biar aku hubungi Billy dan Jamie."


***


Hari Minggu malam harinya Sadawira kedatangan Billy Boyd dan Jamie Keller yang datang seolah-olah sebagai sahabat SMA nya. Kedua agen federal itu pun langsung masuk ke dalam apartemen Sadawira.


"Kalian naik mobil apa? Takutnya ketahuan mobil federal yang kalian pakai?" tanya Sadawira usai menutup pintu apartemennya.


"Mini Cooper milik Jammie. Bagaimana ceritanya?" Billy Boyd menatap apartemen Sadawira yang tampak nyaman dan sangat maskulin.


"Aku perlihatkan." Sadawira mengaktifkan mesin scanner yang bisa menembus tembok beton itu ke temboknya dan kedua agen itu menahan nafas melihat tumpukan bubuk putih yang berbentuk kotak tertata rapi.


"Holly smoke !" ucap Jammie Keller. Wanita yang sebaya dengan Billy itu menatap tidak percaya di balik tembok itu terdapat k*kain incaran para penyelidik DEA. "Sejujurnya kami sudah mencari k*kain ini sejak empat tahun lalu saat kasus pencurian gudang penyimpanan barang bukti. Kami mencarinya sampai sekarang baru ketemu."


"Dicuri? Dicuri empat tahun lalu?!" Sadawira melongo.


"Yup, kami mencarinya dan mengira sudah dibawa kabur ke Mexico karena milik kartel disana. Tapi ternyata..." Jammie Keller menggelengkan kepalanya. "Bangunan apartemen ini sedang dibangun saat pencurian itu terjadi dan mereka memindahkan hampir tiga kwintal k*kain."


"Daammmnnn!" umpat Billy Boyd. "Kenapa FBI tidak tahu?"


"Untuk menambah malu DEA? No, Boyd. Boss ku sudah dipecat dan beberapa agen senior mengundurkan diri karena kasus ini."


"Apakah saat perampokan itu terjadi, karena ini skala besar, ada agen DEA terlibat?" tanya Sadawira.


"Of course. Mantan bossku terlibat dan mendapatkan suap $1 juta dan sekarang dihukum di penjara Federal seumur hidup." Jammie cemberut. "Gara-gara dia, kami yang tidak tahu apa-apa kena imbasnya!"


"Jadi bagaimana rencananya besok?" tanya Sadawira.


"Apakah Forest tahu kami datang?" tanya Billy.


"Saat kalian datang, dia sedang pergi dan sepertinya menyusun kekuatan untuk besok."


"Tangga darurat kamu?" tanya Billy.


"Billy, seriously? Ini lantai satu!" kekeh Jammie.


"Bukan begitu Jammie, bukan tidak mungkin tiga kwintal k*kain dibagi di kamar-kamar apartemen tiga lantai ini. Dan kita harus mempersiapkan masuk ke masing-masing kamar."


"Good. Aku akan minta Kelly mencari blue print nya. Karena semua bangunan di Amerika harus dilaporkan semua blue print nya ke departemen pertanahan dan bangunan." Billy lalu menelpon rekannya yang di IT FBI.


***


Senin pagi usai sarapan, Sadawira keluar dengan membawa kunci mobil Jammie agar tidak dicurigai ada orang lain di dalam apartemennya.


Dan benar dugaannya, saat keluar dari pintu apartemennya, Foster sudah menunggu dirinya.


"Mobil siapa itu Yustiono?"


"Mobilku. Baru datang kemarin" jawab Sadawira tenang.


"Kenapa tidak minta ijin padaku?"


"Haruskah? Aku lihat beberapa penghuni gonta ganti mobil, tidak ada yang kamu ributkan. Kenapa denganku berbeda?" Sadawira menatap dingin ke Foster. "Apa yang kamu sembunyikan?"


Foster terdiam lalu meninggalkan Sadawira dengan wajah kesal.


"Bagaimana Wira?" tanya Billy Boyd ke earpiece Sadawira yang mirip airpods.


"Dia curiga mobil Jammie."


"Wira, aku dan Kevin sudah perjalanan ke Maryland. Kami membawa beberapa anggota DEA dan FBI Quantico. Kamu kuliah saja. Tidak usah ikutan disana!" perintah Pedro ke earpiece nya.


"Baik bang." Sadawira pun masuk ke dalam mobil Mini Cooper itu dan menuju kampusnya. Semoga apartemen aku tidak hancur.


***


Menjelang jam sepuluh, Billy Boyd dan Jammie Keller sudah menunggu kedatangan Forest dan pria bernama Antoine yang merupakan salah satu tersangka kasus perampokan k*kain yang dikenal licin.


Semua agen FBI gabungan dengan DEA sudah bersiap di pos masing-masing. Tak lama Billy dan Jammie yang duduk sambil menodongkan senjata apinya ke arah pintu, mendengar suara bor pertanda ada yang membongkar gagang pintu. Keduanya melhat dari layar tv kegiatan Forest dan Antoine. Semuanya terekam di cloud dan hard Drive Sadawira.


Tak lama gagang pintu itu pun terbuka dan kedua orang itu pun masuk. Betapa terkejutnya mereka melihat dua orang asing sudah menodongkan senjata api ke arah mereka.


"Halo Forest. Halo Antoine. Kalian mau apa trespassing apartemen milik Sadawira Yustiono?" seringai Jammie Keller.


Antoine hendak mengambil pistol nya tapi belakang pinggangnya dia merasa ujung senjata berada di sana.


"Berani menembak, ginjal dan hatimu hancur berantakan" ucap Pedro Pascal dingin.


Kevin, mantan tim penjinak b*m sahabat Pedro Pascal, melihat adanya mesin penghancur tembok beton, linggis, semua alat untuk membongkar tembok dan dua duffle bag. Kevin sekarang dikirim ke Quantico untuk mengusut kasus dingin, menggantikan Pedro yang ke BAU.


"Mereka sudah persiapan" ujar Kevin.


"Well, Mari kita lihat. Apa yang mereka cari" seringai Pedro.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️